Uncategorized

Liku-Liku Pengamen Cilik: Mereka Bercita-cita Tinggi, Buka Toko Buku (Suara Merdeka, 1996)

SUARA MERDEKA, Kamis, 26 September 1996, Halaman III

PENGANTAR REDAKSI: Pengamen jalanan akhir-akhir ini kian banyak jumlahnya, lebih-lebih para pengamen cilik. Mereka melakukan aktivitasnya di perempatan jalan dan dalam bus kota. Uniknya, sebagian besar dari mereka berasal dari luar kota. Latar belakangnya, umumnya bukan karena faktor ekonomi. Berikut ini, wartawan Suara Merdeka Diah Irawati, menuliskannya mengenai suka duka kehidupan mereka.

******************

SEORANG bocah kecil menjinjing alat musik sederhana, tergesa berlari mengejar bus kota jurusan Ngalian Pedurungan. Dengan berbekal alat musik yang terbuat dari tutup bekas minuman ringan yang direnteng dengan kayu kecil sepanjang 20 centimeter, dia siap bekerja mencari makan.

Pekerjaan yang rutin dilakukan itu seakan tanpa beban. Banyak anak seusianya yang mengamen di jalanan. Kadangkala mereka ikut bus kota, atau hanya menunggu di perempatan lampu merah.

Di perempatan jalan, setiap kali lampu merah, mereka berlari menghampiri mobil dan kendaraan yang berhenti. Sebentar kemudian, mereka segera menyanyi dengan iringan gitar atau alat musik sederhana yang terbuat dari kayu.

Mulai dari lagu pop, keroncong, sampai dangdut mereka kuasai. Bahkan lagu-lagu populer yang sedang digandrungi masyarakat sengaja mereka nyanyikan untuk menarik perhatian pengemudi.

Jika dulu kita banyak melihat pengamen dan asongan yang sudah berusia dewasa, menyanyi dan menjajakan daganganya di perempatan jalan. Kini keadaannya menjadi berubah. Sebab, sekarang ini hanya sedikit pengamen usia dewasa, namun justru bermunculan anak usia sekolah yang mengamen di perempatan jalan. Tidak hanya satu dua saja, namun jumlahnya sudah mencapai puluhan orang.

Uniknya, justru banyak yang berasal dari luar kota Semarang. Mereka berasal dari Jakarta, Cirebon, Surabaya, Pekalongan, Wonosobo dan bahkan ada yang beasal dari luar Jawa yakni dari Jambi. Hanya sedikit yang berasal dari Semarang. Seakan Semarang adalah kota besar, tempat yang mudah untuk mencari makan.

Tapi, seperti biasa, gejala ini kemudian berkembang. Pengamen dewasa mulai lagi bermunculan. Dan “penyusupan” bisa saja terjadi. Yang bukan pengaman murni kadang-kadang mulai muncul.

Mereka mengamen dengan gaya kurang sopan. Bahkan ada yang “memaksa” yang oleh kalangan pengamen murni, tindakan mereka sebagai menodai. Lebih parah lagi, jika ada penjahat yang beroperasi dengan gaya pengamen. Mereka pura-pura mengamen, tetapi kemudian menodong.

Kena kena getah akibat ulah segelintir pemuda itu, tak lain semua pengamen.

Lantas bagaimana anak-anak pengamen? Tentu terlalu muda untuk mengenali dunia yang keras seperti itu. Mereka sudah terlalu awal terbiasa bergelut dengan kehidupan keras dan liku-liku kehidupan jalanan.

Kesibukan kota besar sudah melekat dan menjadi bagian hidup mereka. Tiap hari selalu diisi dengan perjuangan. Hingga tanpa disadari mereka banyak kehilangan waktu bermain, layaknya anak seusianya.

Putus Sekolah

Menggejalanya pengamen cilik di kota-kota besar disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi kondisi itu. Umumnya, keadaan tersebut dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan ekonomi keluarga mereka. Namun tak sedikit pula yang disebabkan oleh ketidakharmonisan hubungan antara anggota keluarga.

Dan ada pula karena diculik oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Mereka kemudian dieksploitasi sebagai pengamen, untuk diambil hasilnya.

Banyak cerita bisa kita dapatkan dari bergaul dengan anak-anak jalanan itu. Meski mereka masih seusia sekolah, namun sebagian besar adalah putus sekolah. Julukan anak jalanan, rasanya sudah melekat pada mereka. Bahkan ada sebagian anggota masyarakat yang men-cap mereka kebanyakan kumpulan anak-anak nakal.

Dan sesungguhnya, pekerjaan sebagai pengamen bukanlah jenis pekerjaan yang mereka impikan. Sebab meski banyak yang berasal dari keluarga tidak ammpu, namun semangat dan cita-cita mereka setinggi langit.

Contohnya Subhi (17) seorang pengamen dari Pekalongan. Sehari-hari dia biasa mengamen di perempatan Jl. Pemuda. Bersama teman-temannya dia memulai pekerjaannya jam 10.00 dan kembali pulang setelah lampu merah di perempatan itu padam.

Dari ngamen di persimpangan Jl. Pemuda, dia bisa mendapat hasil Rp 8.500 per hari. Penghasilan itu selain digunakan untuk makan, juga disisihkan untuk keperluan lain yang mendesak.

“Kadang ada sesama teman pengamen yang sedang kesusahan. Misalnya alam sehari tidak mendapat uang, ya saya bantu Rp 1.000 – Rp 2.000 untuk makan mereka,’ujar anak Pekalongan ini.

Tidak seperti pengamen cilik lainnya, di sore hari Subhi juga melakukan aktivitas lain yakni menjual koran di tempat yang sama.

“Saya gunakan waktu sore hari untuk menjual koran. Kadang saya mengambil 10 koran sore, dan mendapat keuntungan Rp 200 untuk satu koran. Setelah koran habis, disambung ngamen lagi. Dengan kerja model ini, saya bisa mendapatkan hasil lebih banyak,”katanya.

Kalau sedang capek atau ngantuk, dia biasanya tidur di emperan toko atau bank di sekitar perempatan ini. Sedang untuk malam hari, dia bersama teman-temannya tidur di Stasiun Poncol.

“Kami tidur di lantai atau tempat duduk stasiun. Jika ada uang, kami membeli koran Rp 100 untuk alas tidur,”ujar jebolan kelas 2 SMP yang mulai ngamen sejak bulan puasa lalu. Untuk mandi, juga di Stasiun Poncol. Di sana ada sumur, kami tinggal menimbanya, meski kadang sehari hanya mandi sekali.

Namun tidur di stasiun atau di taman, seperti yang sering mereka lakukan, memang beresiko tinggi. Sebab selain selalu diterpa udara malam, uang mereka juga sering hilang, karena diambil orang atau teman sendiri.

“Bahkan dulu, setiap malam kami dimintai uang oleh laki-laki yang suka nodong minta duit. Mereka kerjanya hanya minta uang pada anak kecil. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,”ujarnya.

Sebelum di Semarang, Subhi pernah bekerja di Jakarta sebagai pengumpul botol bekas air mineral. Dia memungut botol-botol itu dan menjualnya ke pengumpul. Satu botol tanggung seharga Rp 25.

Sekali mencari, dia bisa mendapat 2.000 sampai 3.000 botol, dengan keuntungan mencari Rp 5000 perharinya.

“Bahkan saya pernah ikut kereta jurusan Semarang dan bermalam di Stasiun Tawang. Disini saya memperoleh 2000 botol, yang hasilnya saya jual di Jakarta dengan menumpang kereta jurusan Jakarta,”katanya.

Namun hal itu tidak berlangsung lama, sebab ketika saya coba ke Semarang lagi untuk mencari botol bekas, ternyata setelah saya bawa ke Jakarta sudah tidak laku lagi. Sejak saat itulah saya mulai ngamen di Semarang, katanya. “Ngamen di jalanan lebih banyak suka dukanya. Ada saat-saat sepi dan ada pula saat-saat ramai. (*-12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *