Semarang, Kompas, 1 September 2000

Kasus eksploitasi dan kekerasan terhadap anak terutama di bawah umur, kini marak di beberapa kota di Jateng. Dalam sidang komisi yang dipimpin Ketua Komisi E DPRD Jateng Abdul Kadir Karding dan dihadiri enam lembaga swadaya masyarakat (LSM) pendamping anak di Jateng, Kamis (31/8), terungkap sejumlah tindakan kekerasan dan eksploitasi terhadap anak.

Dalam kaitan itu, kepada DPRD Jateng, LSM yang terdiri dari Yayasan Setara Semarang, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jateng, LSM Sari (Solo), LSM ASA Semarang, Yayasan Keluarga Sejahtera Boyolali, dan KSP Biyung Emba Purwokerto, meminta agar semua pihak terutama pemerintah daerah, serta DPRD Jateng, memberi perhatian terhadap kasus-kasus yang terkait dengan anak.

Mereka meminta pemerintah tidak hanya berbicara tetapi harus menyikapi dengan tindakan yang konkret, bagaimana menyelesaikan masalah anak di Jateng. Ketua Harian Yayasan Setara, Winarso menyatakan prihatin melihat maraknya kasus eksploitasi terhadap anak di bawah umur. Hingga kini, jumlah anak yang dipekerjakan dalam usia muda dan anak yang hidup di jalanan terus meningkat.

Bahkan, khusus untuk anak jalanan yang tersebar di Kota Semarang dan sekitarnya, menurut catatan Yayasan Setara, kini jumlahnya mencapai 2.000 anak.

Menanggapi imbauan LSM tersebut, Abdul Kadir menyatakan sependapat. “Kami prihatin mendengarkan ada anak yang dijual ke Batam untuk menjadi pekerja seks. Kami akan meminta pihak terkait untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya. (son)

Sumber: http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0009/01/iptek/mara10.htm