Memahami Gaya Hidup Anak Jalanan

Memahami Gaya Hidup Anak Jalanan

Oleh : Amirudin

SUARA MERDEKA, 16 Mei 1997

“You’re a rich man if you have a little bit time instead of a  poor man if you have much time” (Mudjahirin Thohir, 1997). 

KRITIK buat Yayasan Duta Awam Semarang, yang baru-baru ini telah melakukan penelitian tentang anak jalanan di Kodya Dati II Semarang dengan baik. Yayasan itu menemukan antara lain 32 persen di antara 101 anak jalanan mengaku pernah esek-esek atau melakukan hubungan seks (Suara Merdeka, 7 Mei 1997). Temuan itu menarik, walau bukan berarti tidak penting.

Saya tidak beranggapa temuan penelitiannya tidak esensial: sangat esensial. Anak jalanan sebagai realitas, kebudayaan, penting untuk diketahui gaya hidupnya dari berbagai dimensi, termasuk perilaku seks mereka.

Banyak dimensi lain yang bisa diungkap untuk menunjukkan penampakan gaya hidup anak jalanan. Bukan saja perilaku seks mereka an sich melainkan juga sisi lain, termasuk dalam hal kemungkinan pengembangan daya kreativitas anak jalanan.

Berkenaan dengan temuan penelitian Duta Awam, saya berkeinginan memberikan sudut pandang lain tentang gaya hidup anak jalanan, sebagai cermin komunitas manusia papa dalam keseharian, apakah mereka juga memiliki kemungkinan daya kreativitas tinggi.

Tulisan ini akan membahas secara lebih teoretis, namun barangkali tidak sampai pada pembahasan tentang strategi penciptaan kreativitas anak jalanan.

Indikasi Waktu

Salah satu indikasi yang biasa digunakan untuk mengungkap gaya hidup anak jalanan dari sisi kreativitas adalah pemanfaatan waktu. Suatu instrumen penelitian yang sering dipakai antropolog untuk mendeteksi penampakan gaya hidup orang, termasuk gaya hidup anak jalanan.

Pilihan indikasi itu bukan berarti juga berprestasi untuk menghilangkan indikasi-indikasi lain yang lebih utama, yakni tingkat pendidikan formal, tingkat pendapatan, pola investasi, pola konsumsi, pola produksi, pola kepemilikan, hobi dan lain-lain, tapi seluruh elemen gaya hidup sesungguhnya bermuara pada dimensi waktu.

Banyak peneliti sangat getol menyingkap penggunaan waktu mereka sebagai objek pengamatan, namun pendekatan yang dipakai tampak sangat subjektif. Semua ukuran waktu yang ditetapkan adlaah ukuran-ukuran dalam batas laku waktu peneliti. Beberapa turunan indikasi wkatu merupakan klaim kebiasaan penggunaan waktu para peneliti.

Seandainya peneliti kebetulan berasal dari orang kelas menengah yang mapan, meskipun dulu orang tuanya pernah menjadi anak jalanan dan tiggal di kampung kumuh perkotaan, setelah mengalami mobilitas kelas ke atas lebur nyamudra dalam logika ekonomi kapitalis, yang selalu mengagungkan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas, dll, aka akan kesulitan kalau harus keluar dari batas waktu yang biasa dipakai sendiri. Peneliti mengalami hambatan ketika mulai menembus batas waktu yang bukan batas laku budayanya.

Kesulitan utama terletak pada pengamatan yang membumi. Objek kebudayaan yang diamati dipersepsikan berbeda atas dasar batas-batas kebudayaannya sendiri, bukan atas dasar kebudayaan objek pengamatan.

Masyarakat yang diteliti tidak dipersilakan mewujudkan diri sesuai dengan sistem nilai anutannya, tetapi ia dipandang sebagai objek abstraksi yang lepas dari konteks morale-cyrcle-nya.

Demikianlah Brannen (1992) yang begitu cermat menanamkan arti penting pendekatan etik. Paradigma penelitian yang dipakai mengungkapkan citra perilaku bukan atas dasar yustifikasi pengamat, melainkan merupakan hasil penggelandangan batas laku budaya mereka sendiri.

Oposisi-Binari

Pendekatan emik yang dipakai untuk mengeksplorasi gaya hidup anak jalanan terutama dari sisi penggunaan waktu, dapat diperjelas arahnya apabila kita kembalikan pada cara berpikir Levi-Strauss.

Tokoh linguistik yang kemudian dikenal sebagai pemikir strukturalis itu memberikan banyak gagasan penting instrumen oposisi-binari sebagai alat untuk memperoleh makna hakiki suatu objek abstraksi.

Anggapannya, makna itu muncul sebagai produk pemasangan objek observasi dengan lawan. Makna merupakan hasil pembedaan antara objek dari lawannya dalam satu relasi binari, yang biasanya didasarkan pada nilai atau ideologi tertentu.

Jalan keluar untuk mendapatkan makna hakiki suatu objek diperkukuh oleh Maurice Merleau-Ponty. Tokoh fenomenologi Prancis itu memperteguh pemikiran Levi-Strauss dengan memperkenalkan konsep reproduksi makna melalui proses sensasi dan persepsi.

Dia mendefinisikan makna sebagai hasil produksi sambungan dari proses sensasi ke persepsi yang dilakukan oleh individu terhadap objek pengamatan.  Jadi, makna muncul sebagai hasil reproduksi peneliti setelah mengamati bagaimana individu yang diamati melakukan produksi makna.

Dalam hal “waktu”, objek waktu itu dibiarkan untuk diberi makna oleh mereka, yang pembedaannya didasarkan pada nilai-nilai atau ideologi tertentu. Kalau saja nilai atau ideologi yang dipakai adalah ekonomi, atau uang, waktu bisa bermakna luang dan sibuk serta bisa juga bermakna longgar dan ketat.

Artinya, seandainya saja konsepsi waktu diberi pembedaan atas dasar ideologi ekonomi, atau waktu ada dalam wilayah kerja, waktu bisa berarti ada dalam binari luang dan sibuk.

Waktu bermakna luang, manakala waktu sedang benar-benar tidak dimanfaatkan untuk bekerja, mereka biasa menyebutnya sebagai waktu senggang. Sebaliknya, waktuu bisa bearti sibuk manakala mereka sungguh-sungguh sedang berada dalam kondisi menyelesaikan pekerjaan utama. Mereka sedang mengerjakan tugas-tugas rutin untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti nyemir, jualan koran, dan ngamen.

Dengan demikian, waktu bagi si pemilik bersifat situasional, tergantung pada ideologi yang digunakan pemakai. Kalau saja aktualisasi diri itu merupakan ideologi utama, barangkali pekerjaan utama jutsru bisa bermakna waktu luang, karena waktu utama hanya dijadikan sebagai sarana aktualisasi diri. Sebaliknya, waktu sibuk justru dimanfaatkan untuk kepentingan lain, termasuk esek-esek.

Kalau saja benar, manakala ideologi ekonomi merupakan kepentingan yang dianggap paling relevan untuk membedakan sekian banyak makna waktu, maka secara jelas kita bisa memahami perbedaan gaya hidup anak jalanan dengan kelas menengah dari sisi pemanfaatan waktu. Juga perbedaan filosofi dan kebudayaan dalam hal lebih makro.

Waktu bagi Si kaya

Adalah orang yang bodoh kalau waktu sama sekali tidak bernilai uang. Time is money, why not the best, to have more and more. Begitulah ungkapan-ungkapan yang biasa dipakai menjadi norma acuan perilaku kaum yupis atau kaum yang berlabel borjuis kita.

Waktu bermakna segala-galanya. Bagi mereka, waktu adalah sarana nata bandha, sarana mendapatkan kekayaan untuk aktualisasi diri. Itulah yang disinyalir Maslow melalui teorinya yang tetap aktual, hierarki kebutuhan manusia.

Bagi Maslow, kelas menengah adalah orang-orang yang sudah mulai meninggalkan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang sudah tercukupi. It’s realy strange jika hanya memikirkan kebutuhan-kebutuhan dasar.

Mereka tidak saja mengutamakan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti itu, tetapi senantiasa bergerak dari sekedar pemenuhan kebutuhan basic kemanusiaan (kebutuhan biologis) menuju pemenuhan kebutuhan yang lebih tinggi, yakni aktualisasi diri.

Sehingga logis seandainya semua perilaku, dari kebiasaan mengonsumsi barang, menyalurkan hobi hingga menggunakan waktu luang, diarahkan untuk kepentingan aktualisasi diri, di samping alasan efisiensi.

Waktunya sangat sibuk, bagi mereka tidak ada waktu untuk bermain-main apalagi juguran, ngendhong atau anjangsana ke tetangga. Suatu pengondisian waktu yang ironis sekali, kalau waktu hanya dihabiskan untuk juguran atau ngendhong.

Kegiatan-kegiatan semacam itu sudah tidak lagi masuk dalam wilayah kognisi mereka. Ngendhong dan juguran adalah penghamburan waktu, bukan tradisi mereka lagi meskipun kedua cara itu memiliki makna hakiki dan kebersamaan.

Kita semua akhirnya memahami, betapa Soetrisno Suharto, Wali Kota Semarang, sangat lekat dalam ingatan para abang becak dan sopir-sopir angkutan kota, sebagai kelas menengah yang tetap memegang juguran dan ngendhong sebagai hal sangat penting.

Betapa Prof Satjipto Raharjo, guru besar sosiologi hukum Undip itu sangat lengket dalam benak pembaca, karena selalu hadir secara transendental melalui tulisan-tulisannya, dalam rubrik “Gayeng Semarang” Suara Merdeka, meskipun realitas itu merupakan pergeseran makna juguran dan ngendhong akibat keunggulan budaya media. Kehadiran beliau sangat bermakna bagi pembaca hingga mereka selalu kangen.

Demikianlah kelas menengah kita yang sedikit sekali bisa nyamudra dengan masyarakat lapis bawah, dibandingkan mereka yang selalu mengutamakan glamorisme atau hedonisme. Dibandingkan dengan mereka yang senantiasa menjadikan orang lain sebagai cermin orientasi perilaku. Mereka merasa tidak mantap jika semu simbol-simbol budaya yang dikenakannya tidak mendapat sanjungan orang lain, atau tidak berhasil mendapatkan predikat kelas atau brahmana.

Inilah sisi positif, keberhasilan penataan sistem politik yang sukses menempatkan kelas menengah menjadi kelompok orang yang serba taat asas, yang lengkap dan total dalam memberikan support positif ke arah klangengan status quo.

Juga berhasil memanjakan mereka menjadi manusia yang sarat nilai-nilai hedonistis. Suatu sistem yang berhasil menyeragamkan kognisi, sikap dan ideologi, menjadi komunitas manusia yang benar-benar bisa mendewakan profesionalisme sebagai panutan. Kelompok orang yang hanya tekun, ulet, dan bersemangat amat tinggi dalam berinvestasi.

 

Waktu Anak Jalanan

Lain halnya dengan anak jalanan, si miskin, orang papa yang senantiasa berkubang dalam kemiskinan. Fakta kehidupan yang terpaksa dan harus diterima dengan seribu kiat, seperti ajaran kawruh beja Ki Ageng Soryamentaram dan ‘Ilmu Kantong Bolong’ Raden Mas Panji Sosrokartono, dua filosof kesukaan Darmanto Jatman.

Keduanya menyebarkan ungkapan-ungkapan tentang kiat hidup dalam kemiskinan, yang disusun untuk membangun jalan tengah, menepis duka lara, menghindari agresi. Antara lain hidup harus diterima dengan trimah mawi pasrah, sugih tanpa bandha, atau hidup sakmadya, sabutuhe, saperlune, sacukupe, samesthine, sabenere.

Rupa-rupanya, hidup dengan dukungan spirit falsafah seperti itu, anak jalanan telah menciptakan budayanya sendiri. Mereka hanya bisa hidup dalam batas-batas laku sendiri, yang tentu saja telah ditinggalkan oleh orang-orang yang berhasil melakukan mobilisasi ke atas.

Anggapan itu benar, kalaupun mereka bisa dipaksa dengan kiat-kiat manajemen modern, untuk masuk dalam batas-batas laku yang bukan menjadi wilayah budayanya, tapi eksesnya boleh jadi malah negatif. Bukan kenyamanan yang didapatkan, justru stres atau bahkan culture-shock yang mereka derita.

Psikologisasi kemiskinan seperti itu, perpaduan antara drama (peristiwa kemiskinan yang terjadi pada manusia itu sendiri), dan utopia, atau sebuah harapan, sebuah mimpi yang lengkap dengan pandangan tentang surga duniawi, diperkukuh dengan semangat falsafah hidup jawa, maka jelaslah anak-anak jalanan dalam memberikan persepsi tentang waktu pun sangat berbeda. Waktu bukanlah segala-galanya bagi mereka. Yang utama adalah nata rasa, bukan nata bandha, apalagi nata kuasa.

Mereka tidak pernah benar-benar otonom bisa memiliki waktu. Mereka tidak punya kuasa untuk menentukan waktu, sehingga waktu milik bersama, bukan miliknya, melainkan kepunyaan komunal.

Seperti mereka yang tidak pernah bisa memiliki dirinya sendiri. Mereka tidak pernah bisa menentukan jati dirinya, jati dirinya sepenuhnya untuk keseimbangan jalan tengah, harmoni sosial.

Bahkan, dalam sisi yang paling ekstrem, kesalahan yang biasa dilakukan oleh lain pun boleh jadi mereka bersedia menganggap kesalahan itu menjadi kesalahan dirinya.

Maka konsepsi waktu bagi mereka tidak berkesan saklek dan rasional. Benarlah jika Mudjahirin Thohir (1997) membedakan batasan orang kaya dan miskin dari sisi waktu. “You’re a rich man if you have a little bit time instead of a poor man if you have much time”.

Waktu merupakan elemen terpenting untuk mengetahui gaya hidup anak jalanan, untuk memahami perbedaan batas-batas laku kebudayaannya. Waktu bukan sesuatu yang terbebas dari nilai-nilai melainkan selalu mewujudkan makna batas laku yang bervariasi.

Demikian penting waktu dalam kebudayaan. Waktu bukan saja berarti pagi, siang dan malam, melainkan menunjukkan penampakan gaya hidup. Anak jalanan tidak memiliki kuasa untuk menentukan waktu. Waktu mereka adalah bagian dari kuasa penciptaan sistem.

Karena itu, get lucky anak jalanan, Anda hidup dalam lingkaran waktu, semoga tetap kreatif dalam serba keterbatasan. (34b).

 – Amirudin, peneliti budaya media Puslit Sosial Budaya, dosen ilmu Komunikasi FISIP Undip.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *