Kompas, Jateng, Jumat, 19 Oktober 2001

Bagaimana rasanya ditolak oleh keluarga? Bagaimana rasanya jika mendapat kekerasan dari keluarga? Jawabannya mudah: Tentu tidak enak! Keluarga adalah tempat manusia pertama kali belajar mengenal kehidupan. Institusi ini seharusnya juga merupakan lembaga yang membesarkan anak-anak dalam naungan cinta kasih.

Kenyataannya, tidak selamanya keluarga bisa menjadi payung yang menaungi kehidupan anak-anak. Paling tidak ini dialami oleh anak-anak yang menghuni shelter(penampungan) anak jalanan wanita di Wono Asri, Ngaliyan, Semarang Barat, yang dikelola Yayasan Setara.

Saat ini sekitar empat anak jalanan wanita tinggal di penampungan itu. Mereka semua memiliki nasib yang sama: ditolak atau mendapat kekerasan dari keluarga hingga tidak bisa lagi kembali ke rumah, dan terpaksa hidup di jalan.

“Saya tidak pernah mendapat kasih sayang dari keluarga,” ujar Sri (21), anak jalanan yang sudah 10 bulan tinggal di penampungan itu. Sri yang biasanya bekerja sebagai kernet angkutan umum jurusan Sampangan-Pasar Johar, mengaku lebih senang tinggal di shelter karena justru di tempat ini ia mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang lain.

Berbeda dengan Sri, Lia (15), lari dari rumah karena menghilangkan sepatu milik kakaknya saat dipakai ke sekolah. Setelah dimarahi habis-habisan dan ditolak keluarga, Lia memilih tinggal di jalan sampai akhirnya menetap di penampungan Yayasan Setara.

Rata-rata delapan anak jalanan wanita tinggal di tempat itu setiap bulan. Meski sesekali masih turun ke jalan, penampungan itu berhasil mengubah budaya jalanan anak-anak menuju perilaku yang lebih “teratur”.

Menurut Pengurus Harian Yayasan Setara, Hening Budiyawati, mengubah perilaku anak-anak jalanan itu merupakan masa yang paling sulit. Anak-anak jalanan itu misalnya, harus dibiasakan mandi dua kali sehari dan merawat tubuhnya sendiri. Selain itu, mereka juga harus mengubah ucapan mereka yang biasanya penuh makian menjadi lebih halus.

***

Dari luar, penampungan anak-anak jalanan wanita itu tak ubahnya rumah biasa. Dua kamar di tempat itu masing-masing dihuni empat gadis yang sepakat mengelola sebuah rumah dengan peraturan yang ditetapkan sendiri.

Lamanya anak-anak jalanan wanita itu tinggal di shelter juga beragam. Gadis itu bisa seminggu, sebulan, atau bahkan sampai sepuluh bulan tinggal di sana seperti dialami Sri. Lama tidaknya kepulangan mereka tergantung kesediaan keluarga menerima kembali anaknya.

Hari Kamis (18/10) penghuni shelter Yayasan Setara itu tampak menyulam untuk menambah kas guna mengelola penampungan bersama ini. Mereka juga memproduksi hiasan meja untuk mengisi hari-harinya yang dilewatkan tanpa pendidikan formal.

Hening mengatakan, shelter yang dikelola itu berbeda dengan rumah singgah yang dipakai anak-anak jalanan umumnya. Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, shelter itu juga berfungsi sebagai pusat informasi bagi anak jalan perempuan lain yang tidak tinggal di sana. Shelter itu juga berfungsi sebagai tempat perlindungan dan mencegah resiko eksploitasi seks di kalangan anak jalanan.

Ketika fungsi keluarga telah lumpuh sebagai naungan kasih sayang, kasih sayang itu juga bisa diberikan oleh lembaga lain semacam shelter(p06)

Sumber: http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0110/19/jateng/menc26.htm