“Kami Sering Dihajar Gelandangan Dewasa …”

JATENG POS, 30 Oktober 1999 

Jumlah anak pengamen di kota Semarang kini bertambah banyak, terutama setelah krisis ekonomi dua tahun lalu. Jumlahnya kini diperkirakan mencapai 2000 lebih dari jumlah krisis yang hanya mencapai 750 anak. Bagaimana kehidupan mereka? Berikut laporan Jateng Pos.

*** 

MENJADI pengamen di kota Semarang meski tidak seganas di kota metropolis Jakarta atau Surabaya, namun ternyata kehidupan mereka tidak jauh berbeda dengan kehidupan kedua kota tersebut. Hal ini diketahui dari pengakuan mereka yang pernah hidup di Jakarta dan Surabaya, dan kini kembali ke Semarang.

Menurut penuturan Rudi (15), salah satu pengamen yang biasa ngamen di sekitar Simpang Lima ngamen di Semarang memang tidak menguntungkan sebagaimana di Jakarta, namun karena keadaan krisis, setahun lalu mereka kembali ke Semarang, karena memang asli mereka kota Atlas.

Setiap malam mereka tidur di sekitar Simpang Lima, baik di taman, teras super market, dan tempat-tempat parkir pusat perbelanjaan tersebut. Dengan hanya beralaskan koran atau kertas kardus, mereka tidur bergerombol dengan rekan-rekannya. Biasanya mereka berkelompok sampai sepuluh hingga lima belas anak.

“Ini kami lakukan untuk menjaga diri dari gangguan anak-anak jalanan lain yang usianya lebih besar. Kami sering diberlakukan dengan kasar oleh mereka, bahkan tidak segan-segan mereka meminta uang kepada kami untuk beli rokok, makan, dan kadang untuk beli obat-obatan,”jelasnya.

Kehidupan mereka kini semakin terusik dalam dua bulan terakhir, ini diakui oleh beberapa anak pengamen yang biasa  tidur di bekas gedung bioskop Manggala. Pada awalnya yang tidur di tempat tersebut anak-anak pengamen yang usianya di bawah 15 tahun, namun kini mereka diusik oleh kedatangan beberapa pengamen dan anak jalanan dewasa yang kerap memeras mereka, baik fisik maupun non fisik.

Mereka mengakui bahwa sering disuruh mijeti, mencarikan makanan, rokok dan tak segan-segan mereka menghajar dan mengancamnya jika anak-anak yang masih dalam usia sekolah SD dan SLTP tersebut tidak mau menuruti keinginan pengamen atau gelandangan dewasa tersebut. Dengan pakaian yang seadanya, makan dari hasil meminta dan tidur di tempat-tempat yang kesehatannya dipertanyakan, mereka mengakui kehidupan seperti itu membuat mereka senang dan betah.

Ditanya mengapa mereka senang hidup seperti itu, Hardi yang asli dari Semarang saja dan pernah mengenyam pendidikan SLTP sampai kelas satu, mengatakan kehidupan keluarganya kini rusak (nurcahyo/bersambung).