Jateng Pos, 8 Agustus 1999 

Problematika anak jalan khususnya perempuan ternyata sangatlah kompleks. Tidak hanya pada sisi tekanan psikologis dan keadaan mereka harus berbuat seperti itu. Kenyataan yang  tidak kalah menyedihkannya, mereka sering mendapat perlakuan secara tak wajar.

****************  

BAGI anak-anak jalanan, kekerasan ibaratnya sudah menjadi makanan sehari-hari. Mulai diusir dari shelter bus, penyerangan oleh kelompok lain. Karena itu, sudah dapat dipastikan seluruh anak jalanan ini pernah menjadi korban kekerasan baik secara non-fisik, fisik hingga kekerasan seksual.

Berdaksarkan penelitian Yayasan Setara, 80 persen lebih anak jalanan pernah mengalami kekerasan non-fisik. Dengan berbagai macam bentuk, antara lain ejekan, hinaan, diludahi, caci-maki, ancaman, pemerasan hingga pengusiran. Bahkan, pada anak jalanan perempuan, kekerasan non-fisik lebih sering dialaminya. Mereka dituding sebagai anak liar atau pelacur yang pada akhirnya menempatkan anak jalanan perempuan pada posisi tawar paling lemah.

Yang tidak kalah menyedihkannya, anak perempuan jalanan diperlakukan kasar secara seksual. Perlakuan sepeti itu kerapkali justru dilakukan oleh orang-orang dari luar komunitas mereka. Mulai dari digoda, diajak berhubungan seksual, dipanggil dengan sebutan ‘lonthe’, dicolek, diraba, dirangkul, dicium, dibuka celananya saat tertidur, dikurung hingga tidak jarang yang diperkosa. Bahkan, tidak sedikit pula anak jalanan perempuan ini dipaksa untuk melakukan hubungan seksual yang menyimpang, seperti anal dan oral seks.  Dan, ini seringkali menimpa anak jalanan perempuan yang tidur di tempat-tempat sembarangan.

Kasus perkosaan terhadap anak jalanan perempuan ini ternyata cukup tinggi, yakni mencapai 30,6 persen. Dan, yang sangat menyedihkan lagi, tindakan perkosaan ini seringkali dilakukan secara massal. Seperti yang dialami oleh Juminten (nama samaran) yang diperkosa oleh 9 orang ketika masih berumur 15 tahun. “Ketika saya tinggal di Pasar J, pada suatu malam saya diancam dengan senjata tajam oleh orang-orang pasar yang tengah mabuk dan dipaksa melayani sekitar 9 orang,” tutur Juminten.

Rawan Terkena Penyakit AIDS

Yang cukup menyedihkan lagi, ternyata pelaku kekerasan terhadap anak jalanan perempuan ini tidak hanya dilakukan oleh sesama anak jalanan saja. tapi, kerapkali juga dilakukan ole orang tua dan anggota keluarganya, kondektur bus, satpam, satpol PP/Tibum, tentara, masyarakat umum hingga polisi. Menghadapi berbagai bentuk kekerasan ini, anak jalanan ini pada umumnya tidak bisa melakukan tindakan apa pun, kecuali hanya diam dan menerima perlakuan kasar  dari mereka ini.

Akibatnya, tidak sedikit anak jalanan perempuan yang pada akhirnya harus lari dari kenyataan dengan jalan mengkonsumsi obat bius (drug abuse), yang berupa pil ataupun minuman keras. Tragisnya lagi, jumlah anak jalanan perempuan yang mengkonsumsi pl lebih dari tiga jenis ini mencapai 68,57 persen. Mulai dari nipam, magadon, trihex, nk, lesotan, rohipol, destro, prd, kasandra, hingga ekstasi pernah dikonsumsi oleh mereka. Segala cara mereka pakai karena yang penting bisa mendapatkan obat-obatan tersebut.

Sedangkan untuk minuman keras jenis ginseng, congyang, anggur putih, arak putih, bir putih, bir hitam, ciu dan vodka bukanlah hal yang asing bagi mereka. Dan ternyata, anak jalanan perempuan ini tidak hanya sekadar sebagai konsumen belaka, karena mereka juga sebagai pengedar obat-obat itu.

Akibat dari maraknya penggunaan obat dan minuman sebagai pelarian karena kasus pelecehan seksual yang diterimanya, maka anak jalanan perempuan ini juga mempunyai potensi yang cukup besar terhadap penularan penyakit, HIV/AIDS misalnya. Hal ini perlu menjadi perhatian semua pihak, karena berdasarkan penelitian yang dilakukan Yayasan Duta Awam (1997), 56,5 persen anak jalanan perempuan pernah berhubungan seksual. Bahkan, berdasarkan penelitian Yayasan Setara (1999) jumlah anak jalanan perempuan yang pernah melakukan hubungan seksual ini mengalami peningkatan, yakni menjadi 64,29 persen.

Dari jumlah tersebut, 74,2 persen hubungan seksual tersebut dilakukan dengan cara berganti-ganti pasangan. Padahal, hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan memiliki potensi cukup tinggi terhadap penularan penyakit HIV/AIDS ini. Meski sampai saat ini belum ditemukan anak jalanan yang terinveksi HIV/AIDS, namun berdasarkan pengalaman di negara tetangga kita, yakni Thailand, sudah selayaknya bila kita juga memikirkan jalan terbaik bagi mereka agar terhindar dari penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya ini. Minimal, dengan cara menekan semaksimal mungkin agar anak jalanan perempuan yang seringkali dijadikan objek seksualitas ini terhindar dari semua itu  (ecep sy)