Menyoal Mitos Anak Jalanan

 

 

Menyoal Mitos Anak Jalanan

Oleh H Soetrisno Suharto

SUARA MERDEKA, 07 Mei 1997

MENYIMAK hasil penelitian tentang anak jalanan di Kodya Semarang oleh Yayasan Duta Awam (YDA) November 1996 – April 1997, cukup membuat saya tertegun karena berbagai kenyataan di lapangan. Disadari bersama, betapa anak-anak harus bergumul dengan berbagai penderitaan dalam keseharian hidupnya.

Siang hari mereka membanting tulang untuk mencari sesuap nasi dengan lauk seadanya, dan jika malam tiba tidak tersedia pembaringan nyaman untuk melepas lelah. Bahkan, tidak jarang mereka tidur beralas lantai di trotoar jalan sambil berselimut langit kelam, sekelam bayangan masa depan mereka.

Tanpa bekal ketrampilan dan pendidikan formal, memang sulit bagi mereka memperoleh peningkatan kualitas hidup. Bagaimana pun perlu dimengerti bersama, bahwa peluang anak-anak di luar struktur itu sangat kurang. Bersamaan dengan makin majunya bangsa Indonesia, persyaratan untuk mendapatkan pekerjaan pun otomatis meningkat pula.

Sungguh dilematis, memang, permasalahan anak-anak. Di satu sisi, untuk kemajuan bangsa, kualitas-kualitas hasil pembangunan perlu peningkatan. Artinya, perlu peningkatan sumber daya manusia agar menjadi lebih berkualitas.

Sementara itu anak-anak jalanan, meskipun memiliki semangat kerja baik, tapi secara umum tidak diimbangi oleh kualitas pendidikan dan ketrampilan sepadan; sehingga, mereka sulit menembus dunia kerja yang berprospek cerah.

Akan tetapi perlu diingat, sekalipun sebagian besar tidak dibekali pendidikan dan ketrampilan formal, anak-anak jalanan telah membuktikan mampu bertahan hidup (survive), baik secara individu maupun kelompok. Artinya, kecerdasan rata-rata anak jalanan tinggi, sehingga mampu menyiasati hidup melebihi masyarakat umum lainnya.

Memperhatikan bagaimana anak jalanan hidup dari hari ke hari, kelas menunjukkan bahwa kompleksitas kehidupannya begitu dinamis. Lihat saja, cara-cara untuk berkompromi dengan berbagai masalah terus menerus berkembang setiap waktu. Dan itu semua, diperoleh dari hasil proses bersama secara interaktif dengan perubahan lingkungan yang sangat dinamis.

Bayangkan, seorang anak tidur di mana saja, tiap hari menghadapi perubahan lingkungan dan diperlukan pola adaptasi baru agar diterima oleh lingkungan barunya.

Lingkungan seputar stasiun, pasti berbeda dengan terminal, begitu pula emper toko, pasti berbeda dengan pasar. Untuk bisa akrab dengan semua lingkungan tersebut, diperlukan keterampilan beradaptasi yang tinggi sekali. Dan anak-anak belia itu, membuktikan bisa menghadapi setiap perubahan.

Kekerasan

Persoalan kekerasan, mungkin kerap hadir manakala membicarakan masalah anak jalanan. Dan ternyata, jawabannya bisa ditemui lewat hasil penelitian YDA. Penelitian oleh yayasan itu, mengungkap bukti 80 persen anak turun ke jalan karena kondisi keluarga kurang harmonis.

Kekurangharmonisa, seringkali diikuti dengan kekerasan serta eksploitasi secara mental dan fisik terhadap anak-anak. Biasanya hal itu berbuntut kaburnya anak dari rumah.

Berbagai kejadian pada keluarga tidak harmonis, sangat sulit diterima nalar anak-anak. Kurangnya pengasuhan orangtua karena waktu mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tingginya kejadian perpisahan antara ibu dan anak akibat perceraian, longgarnya norma perkawinan sehingga salah satu atau kedua orangtua masing-masing berselingkuh dengan pasangan lain, adalah kejadian yang biasa melatarbelakangi larinya anak dari rumah.

Ada bahkan, seorang anak berusia 10 tahun sudah tinggal di jalan sekitar dua tahun, dan sama sekali tidak tahu siapa nama dan bagaimana wajah ayahnya.

Tutur bocah, ayahnya meninggalkan ibunya dan sampai kini tidak pernah kembali, meskipun sifatnya hanya sekadar untuk menengok darah dagingnya sendiri.

Mental ibu terganggu, dan tidak mampu mengasuh anak sejak ditinggal suami/istri. Akhirnya, anak diasuh nenek. Karena usia nenek terus bertambah, akhirnya tidak lagi mampu merawat, apalagi si nenek sendiri ternyata masih memiliki banyak anak. Ujung-ujungnya, anak berusia delapan tahun itu tidak terurus, kemudian memutuskan hidup di jalanan dan merawat dirinya sendiri.

Responden berumur 13 tahun dalam penelitian YDA bercerita, jika sedang tidur sering dipaksa melayani kebutuhan seksual seorang anggota keluarga. Karena tidak tahan terus menerus mengalami pelecehan seksual, akhirnya dia memilih lari dari rumah anggota keluarga itu dan hidup bebas di jalanan.

Kisah-kisah tragis tersebut, adalah cerita biasa yang kerap terdengar dari mulut-mulut mungil anak jalanan atau belakangan sering mewarnai halaman koran.

Bagi sesama anak jalanan, hal seperti itu bukan rahasia lagi. Siapa saja boleh tahu, karena seandainya dirahasiakan pun, tidak akan mampu merubah nasibnya.

Peran Pendamping

Anak-anak hanya mampu menjalani kehidupan jalanan dengan ikhlas. Padahal, seperti disebutkan C Sillas dalam studinya terhadap komunitas anak jalanan, nilai-nilai moralitas dan aturan-aturan yang berlaku pada kehidupan jalanan akan sangat berpengaruh pada perkembangan pola pikir dan perilaku mereka.

Itu terjadi karena dengan hidup di jalan, mereka tidak memiliki lagi figur pendamping yang seharusnya diperankan orangtua.

Mereka kehilangan contoh nyata dalam perkembangan pola pikir dan perilakunya. Tidak ada ibu bisa mengajarkan cara mengasihi dengan tulus, dan tidak ada ayah yang bisa mengajarkan dan menjelaskan berbagai rahasia kehidupan serta bagaimana menyingkapnya dan menyikapinya.

Anak-anak hanya mendapatkan contoh dari lingkungan sekitar, yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Berbagai tindak kekerasan, kriminal, perilaku seksual bebas, kehidupan nomaden, kurangnya rasa tanggungjawab dapat dengan mudah dilihat dan ditiru.

Selain itu, anak-anak mudah terpengaruh apa yang dilihat di bioskop dan televisi. Berbagai modal perilaku di media itu, kerap ditiru mentah-mentah karena tidak satu pun mampu membantu menjelaskan tentang sesuatu hal yang mereka lihat.

Teori perilaku mengatakan, sebuah contoh perilaku akan sangat mudah diikuti jika dalam prosesnya memperoleh penguatan. Kondisi penguatan itu, dengan mudah dapat ditemui di jalanan.

Jika mereka menonton banyak orang bukan pasangan suami istri melakukan hubungan seksual dengan bebas di TV, dan kejadian serupa dilihat di jalanan tempat dia hidup, maka perilaku seperti itu pulalah yang akan diterapkan.

Berdasarkan uraian tersebut, kelihatan bahwa kunci semua permasalahan seputar kehidupan anak jalanan ditimbulkan oleh kaum dewasa.

Lihat saja, mereka keluar rumah akibat perilaku orang tua yang gagal menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis di rumah. Berbagai praktek kehidupan negatif pun banyak dicontoh dari orang dewasa begitu memutuskan turun ke jalan.

Itu berarti, salah satu kunci penyelesaian pun ada pada orang dewasa. Setiap rumah tangga, seyogianya berusaha menciptakan suasana yang mendorong ke arah perkembangan positif bagi setiap anak. Sehingga pada masa mendatang, kemungkinan makin meningkatnya jumlah anak jalanan bisa dieliminasi.

Selain pola penyelesaian masalah jangka panjang, anak-anak jalanan membutuhkan penyelesaian secara konkret. Penyelesaian dengan cara tersebut, sama sekali tidak berarti meniadakan eksistensi mereka.

Selama ini, masih muncul keraguan bahwa keberadaan anak jalanan adalah bukti gagalnya pembangunan di suatu wilayah. Dan untuk menutupi kegagalan tersebut, anak-anak jalanan harus disingkirkan.

Bukan. Sekali lagi, bukan berarti itu caranya. Jika mereka disingkirkan, membuangnya ke wilayah-wilayah lain, atau memaksa mereka untuk tidak menjadi anak jalanan lagi tanpa memberikan pekerjaan pengganti, pasti cuma memunculkan masalah baru. Bisa-bisa, malah jumlah tindak kriminal makin melonjak.

Yang harus kita lakukan adalah melakukan pendampingan pada mereka dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, sehingga pada waktunya nanti, bisa memasuki atau malah menciptakan lapangan kerja yang lebih layak.

Hanya saja perlu diingat, dalam melakukan pendampingan bukan mau kita yang mewujud dalam program, tetapi harus lebih menekankan pada kebutuhan mereka, karena bagaimana pun merekalah yang tahu persis akan keadaan dirinya sendiri.

Kita mesti memfasilitasi mereka agar hidupnya lebih berkualitas. Dibutuhkan tenaga-tenaga muda untuk membantu mendidik anak jalanan. Karenanya, lewat tulisan ini saya berharap agar pada pemuda dan pemudi meluangkan waktunya untuk melakukan pekerjaan mulia itu.

Sejumlah wartawan muda pendiri YDA, telah memulai pekerjaan memetakan perihidup anak-anak jalanan Kodya Semarang. Siapa lagi yang ingin menyusul melakukan tindakan konkret tersebut. Sebagai kepala daerah “Kota Raya” di Jateng, saya turut bombong. Karena itu, sepantasnyalah jika saya menyampaikan rasa terima kasih, dan ucapan Selamat bekerja! (41p).

H Soetrisno Suharto, Wali Kota Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *