WAWASAN, Rabu, 4 Agustus 1999 

Pengantar Redaksi :

Kamis besok di Hotel Graha Santika, Yayasan Setara dan Lembaga Perlindungan Anak Jateng akan menggelar seminar anak jalanan. Seminar yang bertema ‘Mengungkap Situasi Anak Jalanan Perempuan dan Anak Yang Dilacurkan’ ini didukung juga oleh Unicef. Untuk menyemarakkan seminar tersebut, mulai hari ini wartawan Wawasan Wiek Ari Wibowo dan Sucito menurunkan tulisan seputar ‘ciblek’ secara berseri. Dari mulai ciblek kelas atas hingga ciblek gelandangan. 

WAJAH Lina tak seranum warna merah metalik Daihatsu Charade miliknya. Di warung biasa tempat mangkal, berkali-kali Lina nyeruput air jeruk panas. Meski begitu, wajahnya yang putih halus itu tetap saja pucat pasi. Tubuhnya yang bongsor lunglai, tak bergairah.

Kabar santer, Lina baru saja menggugurkan kandungan hasil hubungan dengan Baskoro yang seorang bisnisman tanggung. Tidak terlalu kaya, tapi masih kuat royal dengan perempuan nakal.

Untuk menggugurkan kandungan di bawah usia tiga-empat bulan, ujar Susi yang punya pengalaman ini, tak perlu harus opname. Tidak terlalu kentara. Cukup datang ke ahlinya, bisa dokter, bisa juga bidan. Dalam tempo tidak lebih dari setengah jam sudah boleh langsung pulang.

Secara teknis diceritakan Susi yang kini berpredikat sebagai panggilan, terasa sederhana. Obat penggugur berbentuk semacam salep dioles ke dalam vagina, dan langsung boleh pulang. Proses obat itu memakan waktu tak lebih dari satu-dua hari, janin akan rontok seperti proses menstruasi.  Rasa sakit tak sehebat seperti orang melahirkan.

Ihwal nekad Lina back street dengan pria beranak-istri ini tak luput dari perangai Baskoro yang pintar menjerat perempuan. Apalagi Lina sering diajak terlibat dalam berbagai negosiasi bisnisnya. Karena itu Lina merasa disayang dan dimanja. Lebih merasa jadi wanita bergengsi daripada wanita murahan. Karena itu Lina sama sekali tak merasa direndahkan martabatnya ketika ditiduri berkali-kali di kamar hotel. Bahkan ketika Baskoro menyarankan untuk menggugurkan kandungan, Lina juga setuju-setuju saja.

Kisah cinta Lina-Baskoro ini merupakan kisah yang sudah kesekian kali bagi wanita kelas menengah ini. Ketika masih di Jakarta, anak pegawai instansi elit ini pertama menjalin percintaan dengan seorang mahasiswa perhotelan. Ganteng, pintar, tapi suka mabok.

Percintaan dua sejoli ini ditentang habis-habisan oleh orang tua Lina, terutama ibunya. Sebagai orang yang cukup terpandang, Lina tak cukup kalau cuma berhubungan dengan seorang pemuda kampung yang pemabok, meski berpredikat sebagai mahasiswa.

Namun bagi Lina, pacarnya itu adalah benar-benar seorang Arjuna. Ada kasih sayang dan perhatian yang memabokkan. Suasana ini tak pernah diperoleh Lina di rumah. Sejak kecil Lina suka jadi bahan olokan di keluarganya. Kadang ibu dan adik-adiknya memanggilnya dengan sebutan jerapah lantaran tubuhnya yang bongsor. Kadang juga ibunya menyebut si pesek di hadapan banyak tamu di rumahnya. Apalagi ketika kakak perempuannya mampu masuk di fakultas kedokteran, Lima makin merasa terpojok bila keluarganya bicara soal kemampuan masing-masing anak. Padahal Lina tidak terlalu bodoh, malah terlihat paling ramah diantara kakak-adiknya.

Kehausan akan sanjungan tampaknya terakumulasi dalam diri Lina. Maka tak heran ketika bertemu pemuda yang mahasiswa perhotelan itu Lina langsung lengket. Malah ketika diajak pergi berhari-hari Lina tak menolak.

Orang tuanya yang cukup kaya buru-buru lapor polisi. Lina diburu dan ketemu pada hari ketiga. Ibunya yang galak kemudian “menyimpannya” di kamar. Kalau pun harus pergi harus diantar sopir kemana pun.

“Ibu tak pernah mengerti problem saya. Saya makin terpojok dan terpojok. Saya makin merana ketika di kuruh dalam rumah. Buat apa? Ibarat tanaman, saya ditempatkan di sebuah pot yang bagus dan mahal. Tapi ibu lupa kalau akar tanaman itu sudah busuk. Saya sudah tidak perawan,” ujar Lina.

Cerita Ira

Lina adalah sosok bibit ciblek, istilah yang kini paten dipakai untuk sebutan dara murahan. Latar  belakang psikologis yang terjadi bertahun-tahun dalam kehidupannya seringkali mengantar wanita muda jatuh ke dalam kepekatan hidup.

Meski Lina kini masih tercatat di jurusan ekonomi sebuah PTS favorit di Semarang, Lina seringkali merasa bukan sebagai calon ilmuwan. Predikat mahasiswa tak lebih Cuma sebagai sebuah gengsi semata. Jarang kuliah, namun rajin membayar uang kuliah dan uang ujian.

Demikian juga dengan Ira, mahasiswi sebuah PTS di Semarang. Tak begitu cantik, namun tubuhnya seksi betul. Penampilannya mewah, apalagi didukung dengan hand phone dan mobil genio pemberian “pacarnya” yang pengusaha kaya.

Kalau Ira cuma dibutuhkan setidaknya seminggu sekali. Selebihnya, Ira bisa bebas berkegiatan. Malah untuk menyembunyikan kedoknya Ira suka terlibat kegiatan dalam dunia fesien.

Sepintas orang melihat Ira adalah gadis baik-baik. Perangainya tak menunjukkan kalau Ira dalah gadis simpanan. Begitu mengenal lebih dalam, Ira ternyata cukup hitam. Masa lalunya penuh dengan cerita perselingkuhan dengan banyak lelaki.

Penampilannya yang santun berubah tiba-tiba ketika satu setengah pil ekstasi kesukaannya merasuki tubuhnya. Ira akan jingkrak-jingkrak, memeluk, dan kadang menciumi lelaki partnernya di diskotek.

Dan kalau sudah begini, Ira mau-mau saja diajak lanjut ke kamar hotel berdua. Penampilan peminum ekstasi yang penuh  kebahagiaan dan kemesraan ini memuluskan Ira untuk disetubuhi.

Degradasi

Bagi Andri, ciblek yang mangkal di jalan pahlawan Semarang, Ira dan Lina adalah masa lalu. “Mereka bakal calon ciblek seperti saya. Terutama kalau kisah percintaan mereka sudah punah dan terjepit kebutuhan. Saat itu, mereka bakal terkena degradasi. Tak bisa terus menjadi seperti priyayi,” ujar Andri.

Meski begitu, dunia per-ciblekan ternyata mengenal juga strata sesuai dengan mental, tingkat pendidikan, serta lingkungan asalnya.

Menurut Andri, ciblek dengan latar belakang seperti Ira serta Lina kalau terdegradasi nantinya akan memilih pub, diskotek, atau kafe sebagai tempat mangkalnya. Mereka akan memburu orang-orang berduit dengan titik berat gengsi sesuai dengan latar belakangnya.

Namun bagi ciblek yang punya latar belakang pendidikan jebolan SMU, lain juga pria jarahannya. Memang ada juga jebolan SMU yang punya selera seperti Andri. Tapi tak sedikit yang akhirnya punya komunitas ABG yang suka hura-hura, dengan pengebut jalanan, atau dengan anak-anak muda yang lengket dengan pil koplo atau minuman keras.

Lalu bagaimana cara menggaet ciblek? Dimana? Serta berapa kocek yang harus dikeluarkan untuk berfoya-foya? Untuk ini Wawasan akan mencoba memaparkan pada edisi besok.(B)