Noni Belanda hingga Ki Ageng Pandanaran (Suara Merdeka, 2008)

SUARA MERDEKA, 28 Juli 2008

LAGU Gethuk yang dipopulerkan Nur Afni Octaviani mengalun. Tepuk tangan penonton pun bergemuruh mengiringi dua laki-laki dan seorang perempuan yang tengah asyik bercengkerama.

Si perempuan adalah noni Belanda yang menggunakan kebaya encim putih sembari membawa kipas, duduk dengan anggunnya. Dua pria yang mengelilingi si noni berpakaian beskap putih dan hijau tua, lengkap dengan blangkon dan jarik. Sementara seorang laki-laki berblangkon lainnya melenggak-lenggok bak peragawan memeragakan busana beskap putih.

Siutan nakal pun muncul dari penonton saat seorang ’’perempuan’’ bergaun malam menghisap rokoknya dalam-dalam. Gaun malamnya yang merah ketat membalut tubuhnya yang langsing. Sesekali ’’perempuan’’ tadi menyambangi kerumunan penonton yang kadang tertawa geli melihat gerak-geriknya.

Membawakan busana ’’tempoe doeloe’’ seperti apa yang dilakukan oleh 15 anggota Persekutuan Hidup Baru dan Kudus (PHBK) Semarang di Gedung Marabunta, Sabtu (26/7) malam, sebuah usaha yang patut dihargai. Usaha menyemarakkan Kota Lama itu hadir dalam pagelaran bertajuk ”Opera dan Fashion Show Mode Tempo Doeloe”.
Kota Lama Kegiatan yang diselenggarakan Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) dan Pemkot Semarang itu adalah salah satu upaya untuk menyemarakkan Kota Lama yang dianggap sangat potensial sebagai daya tarik wisata.

”Menghidupkan Kota Lama bukan usaha yang mudah. Karena itu kami mengajak anak jalanan serta para waria yang tergabung dalam PHBK untuk memeriahkan kegiatan ini, sekaligus memberdayakan masyarakat Semarang untuk ikut andil,” ujar Surachman ketua BPK2L.

Ya, malam itu gedung Tonil Schouwburg atau Marabunta di Jl Cendrawasih No 25 tersebut tampak lain. Gemerlap cahaya terpancar dari dalam gedung buatan akhir abad 19 yang acap tampak gelap dan sepi.

Sejak pukul 18.00, para tamu undangan pun tampak berdatangan memasuki bekas gedung Opera di jaman penjajahan Belanda yang pernah dikunjungi ”Matahari”, mata-mata paling kontroversial di jaman perang dunia pertama. Sepasang semut merah raksasa di atas atap, seolah menyambut kehadiran mereka.

Sebelum pagelaran busana oleh para waria, undangan disuguhi pertunjukan kabaret anak-anak dari Yayasan Yusuf Semarang yang mengisahkan kehidupan di zaman penjajahan, kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan.

Kehadiran Teater Anak Merdeka dari Yayasan Setara dengan operet cuplikan sejarah Kota Semarang dengan tokoh Ki Ageng Pandanaran pun, memungkasi pertunjukan malam itu. (Fani Ayudea-18)

Sumber: http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2008/07/28/23993

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *