“Orang Tua Bisa Menjual Anak?” (Radar Semarang, 2009)

RADAR SEMARANG, Minggu, 15 Februari 2009

NILAM Cahaya, 14, dan sedikitnya 80 siswa SMP Ibu Kartini Jalan Imam Bonjol 193 Semarang, Jumat (13/2), lalu, tampak serius berdiskusi. Masing-masing kelompok diskusi dilengkapi kertas dan alat tulis.

Tema diskusi tak terkait pelajaran. Siang itu mereka justru mendiskusikan tindak kejahatan eksploitasi seksual komersial terhadap anak. Pemandu diskusi aktivis Yayasan Setara.

Tiga staf Yayasan Setara intens mendampingi siswa-siswi berdiskusi. Yaitu Yuli Sulistiyanto, Iranita Wijayanti dan Tri Putranti Novitasari. Para siswa diajak memahami definisi eksploitasi seksual komersial terhadap anak. Eksploitasi pada anak meliputi tiga unsur. Yaitu prostitusi anak, pornografi anak, dan perdagangan anak untuk tujuan seksual.

Pertanyaan polos pun dilempar sejumlah siswa, Ellis Ramadhani, 13, misalnya. Ia menanyakan apakah orang tua kandung bisa menjadi pelaku perdagangan anak? Yuli pun menjelaskan, siapa saja bisa. Meski orang terdekat sekalipun.

“Siapapun bisa menjadi pelaku. Semisal ibu atau tetangga kita menyuruh kita bekerja di kafe, ternyata sampai sana kita dilacurkan, maka dia terlibat menjadi pelaku,” terangnya.

Setelah peserta memahami definisi eksploitasi seksual anak, aktivis Setara membagi dalam kelompok diskusi. Siswa diminta membahas modus, dampak dan upaya mencegah eksploitasi anak. Tujuannya agar mereka tak terjebak menjadi korban eksploitasi seksual.

Usai kegiatan Nilam mengaku senang mengikuti acara tersebut. Selain penyampaian aktivis Yayasan Setara mudah dipahami, juga karena metode permainannya.

Setidaknya, aku Nilam, ia bisa lebih menjaga diri agar tak menjadi korban pelacuran atau perdagangan anak. “Ya kalau belum bisa menularkan kepada orang lain, minimal bisa jaga diri. Bisa lebih hati-hati,” ucapnya.

Pengakuan senada disampaikan Bogi Dwi Nugroho, 12. Ia mengaku akan lebih berhati-hati memilih teman, setelah tahu pelaku kejahatan melibatkan orang terdekat. Dia juga berniat menyampaikan kepada beberapa teman terdekatnya agar tidak jadi korban. “Ya semua orang harus tahu, karena pelakunya banyak orang terdekat.”

Aktivis Setara, Yuli menyampaikan, tindak kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak, pelakunya bisa melibatkan siapa saja. Kebanyakan justru orang terdekat korban. Semisal, orang tua, guru, bahkan pejabat pemerintah tingkat kelurahan. “Utamanya untuk pemalsuan umur.”

Aktivis Setara lainnya, Iranita Wijayanti menambahkan pihaknya intens menyampaikan pemahaman kepada masyarakat, baik di tingkat sekolah maupun masyarakat umum mengenai isu hak anak, baik pelacuran anak maupun perdagangan anak.

Sebab dalam dua tahun terakhir, korban eksploitasi anak, korban kebanyakan anak setingkat SMP dan SMA. “Melalui pemahaman ini, kami berharap siswa-siswi bisa lebih berhati-hati.” (mg2/isk).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *