Suara Merdeka, 3 Januari 2004

SEMARANG – Psikolog remaja dari Univeritas Diponegoro (Undip), Hastaning Sakti, menilai tindakan kekerasan menimpa anak-anak karena beberapa faktor. Yakni, tidak ada informasi tuntas dari orang tua kepada anak.

”Orang tua atau guru sebenarnya ingin memberitahukan kepada anak tentang pendidikan seks. Namun mereka masih merasa tabu dan tertutup, jangan-jangan kalau ngerti piye,” kata dia, menanggapi laporan tentang kekerasan terhadap anak pada tahun 2003.

Sementara itu orang tua hanya mengajarkan kepada anak tentang larangan-larangan, seperti aja ngene, aja ngono. Seharusnya mereka memberikan penjelasan tentang dampak positif dan negatif sehingga anak mengerti apa yang bakal terjadi.

”Upaya mengurangi kekerasan seksual terhadap anak bisa dilakukan melalui lembaga-lembaga ketahanan masyarakat, seperti LKMD, organisasi kemasyarakatan di masjid, dan gereja.”

Dia mengatakan, kekerasan juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat anak berada. Dia mencontohkan kawasan Tembalang yang remang-remang sangat kondusif untuk tempat berpacaran.

Solusi mengurangi kekerasan pada anak, kata dia, orang tua yang harus dibenahi dulu. Orang tua dan seharusnya disiapkan lebih dahulu untuk mengomunikasikan permasalahan tersebut ke anak. Jadi anak merasa terayomi. ”Sehingga jika terjadi apa-apa mereka akan lari kepada orang tuanya, itu baru bisa turun,” tuturnya.

Sementara itu, Hening dari Yayasan Setara memperkirakan kekerasan terhadap anak bisa 50% dari 206 anak yang didampinginya. Angka itu berdasar data Januari-Juni 2003. Adapun ekspolitasi terhadap anak 30 kasus. ”Yang terbanyak anak yang mengonsumsi drug dan ngelem. Kami perkirakan hampir semua anak jalanan pernah melakukan,” kata Hening.

Jenjang pendidikan anak-anak yang didampinginya, kata dia, dua anak drop out SMA, SLTP 12 anak, dan sekolah dasar 74 anak. Anak jalanan yang masih belajar di bangku SMA tiga orang, SMP 16 anak, dan SD 68 anak.

“Anak jalanan yang duduk di bangku TK lima anak, yang belum sekolah 10 anak, dan tidak pernah sekolah 15 anak,” katanya. (H3-83g)

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0401/03/kot4.htm