Pelaku Sodomi Diganjar 4 Tahun (Radar Semarang, 2012)

RADAR SEMARANG, Rabu, 6 Juni 2012, Halaman 9

KENDAL – Siswo Nugroho, 44, alias Sinug alias Iwan alias Sagino, warga Kelurahan Pegulon, Kendal yang merupakan terdakwa kasus sodomi akhirnya divonis hukuman penjara empat tahun dan denda Rp 60 juta. Korban dari ulah bejat oknum karyawan BPR BKK Boja Cabang Pageruyung tersebut adalah LS, 16, warga Desa Tamangede, Kecamatan Gemuh, Kendal. Sepanjang sidah kasus sodomi yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kendal tersebut, terdakwa hanya bisa tertunduk. Sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua I Ketut Mardika dan dua hakim anggota Yasri dan Indah Novi Susanti akhirnya menjatuhkan vonis sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Erni Trismaryati dan Pujianti yaitu empat tahun penjara dan denda sebesar Rp 60 juta.

Hal itu sesuai dengan pasal 82 Undang-Undang 23/2002 tentang perlindungan anak. Pasalnya, terdakwa dinilai merusak masa depan korban yang masih duduk di bangku SMK. Tak hanya itu, korban juga mengalami trauma psikologis akibat kejadian tersebut.

Selain itu, oknum karyawan BPR BKK Boja tersebut dinilai oleh majelis hakim berbelit-belit dalam memberikan keterangan selama persidangan. Bahkan, terdakawa tidak menunjukkan sikap penyesalan terhadap apa yang telah dilakukannya terhadap korban. “Perbuatan terdakwa juga meresahkan masyarakat,” kata I Ketut Mardika saat membacakan hal-hal yang memberatkan pelaku.

Sementara Trismiati, 36, ibu korban mengaku cukup puas dengan vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim tersebut. Meskipun dirinya menginginkan terdakwa bisa diganjar dengan hukuman yang lebih berat. Pihaknya berharap, ganjaran itu bisa membuat pelaku jera dan tidak mengulangi perbuatannya. Sehingga tidak muncul lagi korban-korban lain seperti anaknya. “Cukup puas karena sesuai dengan tuntutan JPU. Inginnya hukuman lebih berat lagi. Jadi tidak ada korban lagi seperti anak saya,” katanya.

Senada dikatakan Tri Putranti Novitasari pendamping keluarga korban dari Yayasan Setara Semarang. Pihaknya berharap hukuman yang diterima terdakwa bisa lebih berat, meski dia puas dengan putusan hakim.

Dikatakan, ulah bejat terdakwa dilakukan pada pertengahan Agustus 2011. Menurutnya, korban pencabulan diduga lebih dari lima orang. Namun hanya keluarga Trismiati yang akhirnya memberanikan diri untuk melaporkan pelaku (yud/jpnn/ida).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *