Tabloid KRIMINAL, No. 15 Tahun I, 25 Oktober – 31 Oktober 1999

Kasus pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur sudah menjadi persoalan yang serius. Pelecehan seks terhadap anak dibawah umur tidak pandang bulu, mulai dari anak gedongan hingga anak jalanan. Bahkan kelompok masyarakat yang terakhir ini sangat rawan terhadap pelecehan seks. Kondisi inilah yang mengundang keprihatinan segenap masyarakat.

Keprihatinan masyarakat bukan saja karena perbuatan tersebut sangat dikutuk oleh Tuhan, tapi juga perbuatan tersebut sangat mengancam masa depan mereka. Survay sebuah lembaga sosial nirlaba terhadap korban pelecehan seks dibawah umur menyebutkan, hampir semua korban pelecehan seks menderita trauma berkepanjangan dan tidak bisa sembuh dalam waktu yang sekejap, tapi memerlukan terapi yang rumit dan kompleks.

Berbeda dengan korban, para pelaku perkosaan kadang kala justeru mendapat hukuman yang  relatif ringan. Suatu hal yang sangat ironis sekali dalam negara yang mengklaim sebagai negara hukum. Keadaan yang serba ironis inilah yang sempat memunculkan ide hukuman mati bagi para pemerkosa. Ternyata hal ini baru sebatas ide dan tidak pernah dilaksanakan, bahkan sekarang korban pelecehan seks di bawah umur makin meningkat. Data yang diperoleh di Litbang KRIMINAL setidaknya menuliskan demikian. Berbagai berita pelecehan seks terhadap anak kecilsilih berganti dari daerah yang satu ke daerah yang lain.

Ayah Tiri

Salah satu kasus yang menonjol adalah pelecehan seks atau perkosaan yang dilakukan oleh keluarganya sendiri. Seperti kasus di Purworejo yang menimpa Melati (12) dan Mawar (10) ya g terjadi pada pertengahan Juli 1999 lalu. Keduanya masih tercatat sebagai siswi sekolah dasar setempat yang dipaksa melayani laki-laki bejat bernama Kampret yang tak lain adalah ayah tirinya. Keganasan Kampret bisa terjadi karena situasi rumah yang relatif aman dan kontrol sosial masyarakat yang kurang. Peristiwa pertama dilakukan oleh Kampret ketika rumah dalam keadaan sepi yang ditinggal oleh isterinya jualan di pasar. Kesempata emas ini tidak disia-siakan oleh Kampret yang emmang terkenal suka kawin cerai. Dengan bujuk rayu dan ancaman, maka kedua anak di bawah umur yang seharusnya dilindungi dipaksa melayani nafsu setan Kampret.

Kelakuan Kampret makin menjadi-jadi karena korban tidak melaporkan kejadian tersebut. Ksempatan ini sekali lagi digunakan Kampret, meskipun kedua anak malang itu sudah berupaya mempertahankan harga diri dengan menggunakan celana rangkap tiga dan mengunci pintu. Tapi dasar Kampret, dia tetap memaksa masuk dengan menjebol dinding kamar yang terbuat dari gedhek.

Peristiwa mengenaskan ini baru terkuak, setelah ada saudara Mawar yang melihat adegan saru tersebut. Melihat adegan itu, Pri (masih saudaranya korban) langsung lapor ke tetangganya. Laporan Pri sempat mengundang reaksi keras tetangga yang lain, tapi emosi massa dapat diredam setelah Kampret digiring ke kantor polisi terdekat. Masih dari Purworejo, kasus serupa juga terjadi, kali ini peristiwa naas itu menimpa Minum (14) siswi SMP Swasta ternama di Purworejo.

Mendapat seorang ayah tiri, sebenarnya Minuk berharap banyak setidaknya dapat menggantikan posisi ayahnya yang pergi entah kemana ketika masih kecil. Tapi harapannya tinggal harapan, Gono yang diharapkan dapat melindungi justru balik memangsanya.

Peristiwa serupa juga menimpa Leni (6) yang diperkosa oleh Bandot (34) yang tak lain adalah ayah tirinya, pada awal Oktober lalu dirumahnya yang terletak di daerah Mlati Kabupaten Sleman Yogyakarta. Leni yang masih kecil, sebenarnya merasa senang mendapat ayah tiri Bandot, karena sejak kecil sudah ditinggal oleh ayah kandungnya. Leni suka bermanjaan dengan Bandot alias ayah tirinya dengan minta gendong atau cium. Dasar Bandot manusia bebal, keceriaan anak kecil itu ditafsirkan lain.

Tentu saja Leni, tidak tahu niat Bandot sebenarnya, ia hanya bisa menangis, ketika Bandot dengan kesetanan berusaha menggagahinya. Mengetahui usaha pertamanya gagal, Bandot menggunakan strategi lain, kali ini Leni yang sudah telanjang dipaksa duduk diatas pangkuan Bandot yang juga telanjang. Akhirnya niat Bandot dapat terlaksana dengan baik. Mungkin karena kesakitan, Leni menceritakan ini semua pada neneknya. Mendengar cerita Leni, kontan neneknya memeriksakan Leni ke Puskesmas setempat dengan ditemani oleh ibu kandungnya.

Tetangga Dekat

Perkosaan terhadap anak kecil bukan  hanya monopoli ayah tiri, tapi juga orang lain yang kebanyakan sudah kenal. Misalnya peristiwa yang menimpa Stm (8) warga Purhamba Tegal yang dipaksa melayani nafsu bejat ED (14) pada awal Agustus lalu di tepi kali desa setempat. Ed yang tinggal satu RT dengan korban dan berprofesi sebagai nelayan, memang sudah lama ingin mengincar korban. Sehingga dia dengan mudah memperdaya Stm ketika akan buang air di sungai dekat desanya.

Kasus serupa juga terjadi di Salatiga pada pertengahan Agustus silam. Tidak tanggung-tanggung ada tiga kasus pemerkosaan yang menimpa anak di bawah umur. Kasus pertama menimpa Bety (13) yang harus kehilangan masa depannya, karena diperkosa oleh Bebek (19) yang masih tetangga dekat di Canden Salatiga. Peristiwa kedua menimpa Melli (14) warga Ngawen yang digagahi dengan paksa oleh Jerry (23) yang juga tetangga dekat korban. Melli diperdaya oleh Jerry setelah sebelumnya dicekoki minuman keras hingga teler berat. Sementara kasus ketiga menimpa Cempaka (5) warga Suruh yang dipaksa melayani nafsu setan Suyamto (20) di sebuah rumah kosong dekat rumah korban.

Tidak berbeda dengan korban lain, Vivi (9) juga harus kehilangan masa depannya, karena digagahi secara bergiliran oleh dua pemuda tanggung tetangganya di Klaten. Kedua remaja yang masih tercatat sebagai pelajar STM Swasta di Klaten, mengaku menggagahi korban karena pengaruh VCD porno yang malam sebelumnya dinikmati bersama. Karena terpengaruh film itu, maka kedua pelaku itu mencari pelampiasan dengan sasaran Vivi yang kebetulan lewat di depan rumah pelaku. Korban kemudian diseret dan dipaksa melayani keinginan kedua pelaku yang sudah kesetanan. Pemerkosaan ini ternyata terulang kembali keesokan harinya, baru berhenti setelah korban melapor ke orangtuanya yang diteruskan ke pihak desa. Mendengar laporan keluarga korbam, ara pemuda berniat menghakimi kedua pelaku, tapi untung sikap tegas aparat keamanan berhasil meredam kemarahan warga. Kini kedua pelaku yang tinggal di desa Karang Simopuro Klaten harus duduk di kursi pesakitan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan bejatnya.

Berbeda dengan tiga korban di Salatiga yang diperkosa oleh anak muda. Fia gadis kecil asal Mranggen Jawa Tengah harus kehilangan kegadisannya karena dipaksa oleh kakek gaek empat cucu bernama Sugiman. Menurut keterangan yang diperoleh KRIMINAL dari keluarga korban, peristiwa itu terjadi pada pertengahan Oktober lalu di belakang rumah pelaku yang masih satu dusun dengan korban.

Kisah sedih Fia berawal ketika siswi SD Negeri Mranggen itu ingin membeli es lilin, waktu istirahat sekolah. Warung tempat berjualan es yang dia tuju tutup, sehingga dia harus menahan haus. Ketika akan kembali lagi ke sekolah tiba-tiba Fia dipanggil oleh Giman. Karena sudah kenal, maka Fia mendekat apalagi kakek cabul itu mengiming-imingi buah blimbing. Ketika sudah dekat tiba-tiba Fia disingkap roknya dan tangan kakek konyol itu mengobok-obok kemaluannya sehingga ia kesakitan dan darah segar menetes membahasi celana dalamnya.

Peristiwa yang sama juga menimpa Tutik (10) bukan nama sebenarnya yang diperkosa oleh kakek gaek, Sawal Hariwito (62) di lorong Pasar Djohar Semarang, pada hari Selasa (12/10) sekitar pukul 01.00 dinihari. Peristiwa itu berasal dari kebiasaan Tutik yang sering bersama neneknya tidur di pasar Johar setelah seharian berjualan sayuran.

Sawal yang memang jago dalam bermain seks, sejak sore hari memang sedang mencari mangsa untuk dijadikan “kuda tunggangan” guna menyalurkan libidonya yang masih menyala-nyala kendali dia sudah uzur. Sudah dua jam lebih dia mengelilingi pasar Johar dan tidak menemukan sasaran, pada saat bingung inilah dia melihat Tutik sedang terlelap tidur dengan rok tersingkap. Melihat pemandangan yang merangsang, kakek Sawal mendekati Tutik dan mulai menyingkap rok lebih jauh hingga terlihat celana dalamnya. Bukannya sadar, tapi kakek bejat itu malah menindih korban. Tentu saja mendapat tindihan berat korban terbangun, setelah tahu ada orang yang berusaha memerkosa, Tutik berteriak lantang.

Teriakan keras Tutik membangunkan nenek dan orang-orang lain yang kebetulan tidur di sekitar pasar Johar. Mendengar ribut-ribut, orang-orang tersebut lari ke arah sumber suara tadi. Di tempat itu nampak Sawal berusaha melarikan diri. Untung warga dengan sigap menangkap Sawal dan digelandang ke Polsek Semarang Tengah. Sementara Sawal sendiri ketika ditemui KRIMINAL mengakui, kalau dirinya belum sempat menyetubuhi korban, tapi korban sudah teriak. “Manuk saya memang sudah tidak bisa diatur sejak sore, ingin minta jatah, baru ‘setengah masuk sudah ketahuan” kata Sawal tanpa rasa penyesalan.

Dari berbagai kasus nampaknya pemerkosaan dan pelecehan terhadap anak di bawah umur menjadi hantu yang menakutkan. Betapa tidak, anak kecil yang seharusnya menikmati keceriaan harus kehilangan masa depannya. Masyarakat juga sudah sangat geram melihat aksi brutal para pemerkosa yang memperdaya anak kecil, tetapi kejahatan tersebut bukan menurun malah cenderung meningkat.

Menurut pakar hukum pidana dari Undip, Nyoman Serikat Putra Jaya, SH, MH, pelaku pemerkosaan bisa diancam hukuman maksimal 12 tahun penjara. “Tetapi hakim tidak pernah menghukum kasus pemerkosaan selama 12 tahun,” katanya pada KRIMINAL. Lebih lanjut dikatakan, proses hukum terhadap pelaku pemerkosaan tidak bisa maksimal karena berbagai pertimbangan misalnya, kelakuannya baik selama sidang, menyesali perbuatannya dan lain sebagainya sehingga mengurangi hukuman.

Disamping itu kasus perkosaa mengalami kesulitan dalam pembuktiannya karena harus dilihat dulu siapa pelakunya. Apalagi delik perkosaan merupakan delik aduan, maka makin mempersulit pihak pengadilan menjatuhkan hukuman secara maksimal.”Tapi kalau pemerkosaan terhadap anak di bawah 12 tahun itu delik biasa dan polisi bisa langsung bertindak tanpa menunggu laporan dari pihak korban,” kata dosen Undip.

Sulitnya membuktikan kasus perkosaan, bukan berarti tidak ada celah untuk membuktikan kasus perkosaan, artinya masih ada celah. Demikian pendapat Siti Aminah, volunteer LBH Semarang untuk Kelompok Kerja Keadilan Jender dan HAM (K3JHAM) ketika dimintai pendapatnya oleh KRIMINAL mengenai sulitnya pembuktian kasus perkosaan. Dikatakan, biasanya kejaksaan terjebak dalam pembuktia yang bersifat fisik, misalnya luka. “Padahal dalam kasus pemerkosaan bukti fisik kadang sudah hilang, justeru yang nampak adalah kekerasan yang bersifat psikis,” kata aktifis LSM yang mantan pengurus Sema Undip itu.

Senada dengan Ami, Sri Nurherwati, SH, fasilitator K3JHAM, mengatakan, kesulitan bukti fisik inilah yang meringankan hukuman pelaku.”Sebenarnya visum dokter cukup kuat untuk menjadikan bukti asal atas rujukan polisi, tapi kalau bikti fisik semacam luka sulit karena biasanya luka-luka akibat kekerasan fisik biasanya sudah sembuh”, katanya. Dikatakan, data yang diperoleh pada tahun lalu menyebutkan, putusan hakim tidak sebanding dengan hukuman yang diamanatkan KUHP. “Bahkan tidak sedikit hukuman terhadap terdakwa kurang dari tiga tahun,” kata aktifis LSM itu prihatin.

Untuk membuktikan kasus perkosaan memang agak sulit, tetapi pihak medis masih bisa menganalisa. Menurut dr Lukas Haritomo, DSOG, pihak medis dalam menangani korban-korban pelecehan seks biasanya hanya menganalisa organ-organ fisiknya saja. “Dalam visum hal-hal yang dapat membantu pihak kepolisian antara lain, kondisi fisik, luka pada saluran vagina, jenis sperma, atau darah yang melekat pada korban,” kata dokter yang praktek di RB Sugiyopranoto Semarang.

Sementara itu LBH APIK (Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) Jakarta mengungkapkan bentuk pelecehan seks terhadap anak itu bisa berupa hubungan seks baik melalui vagina, penis, oral maupun anal dengan menggunakan alat sampai dengan memperlihatkan alat kelaminnya. Selain itu menyentuh alat kelamin korban atau memaksa korban menyentuh alat kelaminnya, termasuk memaksa korban melihat gambar porno dengan tujuan untuk membangkitkan birahi.

Melalui brosur yang disebarluaskan oleh LBH Semarang, LBH APIK ingin menginformasikan pada masyarakat tentang bentuk-bentuk pelecehan terhadap anak di bawah umur dan aspek perkosaan lain, misalnya cara pelaku. Dikatakan, pelaku biasanya akan memilih anak-anak yang mempunyai hubungan dekat, sehingga pelaku mudah mengajak atau menghubungi korban. Bahkan data yang diperoleh dari LBH Semarang menyebutkan, korban kebiadaban itu justeru datang keluarga dekat korban.”dari 36 pelaku, 30 orang diantaranya 30 orang sudah kenal dengan korban,”kata staf LBH Semarang.

Pelecehan Seks Anak Jalanan

Korban lain yang juga rawan pelecehan seks adalah anak jalanan. “Anak jalanan cukup rentan dieksploitasi seksnya secara paksa, bahkan ada ungkapan satu anak jalanan perempuan dikelilingi tujuh anak jalanan laki-laki,” kata Siti Aminah menambahkan. Biasanya mereka diperkosa oleh teman sesama anak jalanan atau preman. Hampir semua jalan protokol di Semarang dipenuhi oleh anak jalanan, mulai dari Simpang Lima, Johar, dan lain sebagainya.

Tetapi korban pelecehan seks terhadap anak jalanan banyak yang tidak terungkap karena minimnya pengaduan dari mereka. Kalaupun diadukan biasanya pihak aparat cenderung meremehkan. Karena mereka menganggap bahwa anak perempuan jalanan sama dengan perempuan-perempuan nakal yang sering mangkal di jalan.”Aparat kepolisian kadang-kadang memandang sebelah mata terhadap korban pelecehan seks anak jalanan,”kata seorang anak jalanan yang enggan disebut namanya.

Dikatakan, dirinya pernah melapor ke polisi perihal pemaksaan seks tapi tidak pernah ditanggapi secara serius. “Ketika saya pertama kali dipaksa saya langsung lapor, tapi tidak pernah ada tindakan,”katanya. Dia juga mengaku pernah terkena SV alias sipilis, sejenis penyakit kelamin yang banyak menimpa WTS. “Begitu saya tahu terkena penyakit kotor saya langsung nangis dan bertobat”, katanya dengan nada penuh penyesalan. Dia mengakui, sejak hidup di jalanan memang sudah terbiasa berhubungan dengan semua laki-laki asal bisa membayar.

Hal senada juga dikatakan Mirna (12) seorang anak jalanan yang ditemui KRIMINAL mengaku, telah kehilangan kegadisan pada bulan Juni lalu karena dipaksa oleh seorang kawannya yang juga anak jalanan. “Waktu itu teman saya mabuk, dan minta dilayani. Sebenarnya saya enggan tapi dipaksa ya akhirnya saya menyerah”, kata dara hitam manis yang baru 6 bulan menggelandang di jalanan Semarang.

Menurut Hening, salah seorang pemerhati anak jalanan yang tergabung dalam Paguyuban Anak Jalanan Semarang mengatakan, pelecehan seks terhadap anak jalanan perempuan jauh lebih rentan dari anak jalanan laki-laki. Kekerasan seksual banyak dialami oleh mereka yang tinggal di jalanan dimana mereka tidur di sembarang tempat. Kasus perkosaan terhadap anak jalanan cukup tinggi, yaitu mencapai 30,6 persen. Pada beberapa kasus, perkosaan dilakukan secara massal seperti yang  dialami Yt (10) yang diperkosa oleh 5 orang ketika berumur 9 tahun dan Sv (14) yang diperkosa oleh 9 orang.

Belum lagi adanya asumsi bahwa anak jalanan perempuan sama dengan perempuan-perempuan nakal seperti ciblek dsb. Hasil penelitian menunjukkan, anak jalanan itu memang sebagian besar sudah tidak gadis lagi. Ada yang memang melakukannya atas dasar suka sama suka, ada yang diperkosa oleh aparat, atau oleh keluarganya sendiri. Ia menegaskan bahwa mereka tetap sebagai korban terlepas atas dasar suka sama suka atau tidak. “Mereka belum mampu berpikir secara matang untuk mengambil keputusan dan pilihan,” ungkapnya mengakhiri perbincangan dengan KRIMINAL.

Sigit, Een, Andhika, YE, Agus, Her