Pengemis anak dieksploitasi orang tua (Wawasan, 2010)

WAWASAN, Monday, 26 July 2010

MUGAS – Keberadaan anak jalanan (anjal) khususnya peminta-minta dan pengaman usia anak-anak di kota Semarang sudah memprihatinkan. Mereka tidak hanya beroperasi di siang hari, namun juga malam hari. Hal ini perlu menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Ditakutkan keberadaan pengemis di kota Semarang bisa bertambah menjelang Lebaran. Selain dirasa mengganggu pengguna jalan raya, keberadaan pengemis usia anak yang didominasi warga Semarang juga mulai banyak bersliweran di sejumlah rumah makan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan pengunjung.

Yoyok aktivis LSM Setara menjelaskan, dalam langkah pendampingan yang dilakukan saat ini telah terjadi pergeseran kepentingan dari keberadaan anak di jalanan. “Jika pada kisaran tahun 2005 pengemis usia anak-anak karena mereka tidak sekolah akibat tidak adanya biaya, namun belakangan keberadaan anjal karena kepentingan orang tua. Pengemis anak dijadikan alat untuk mengumpulkan uang dan hasilnya digunakan untuk membeli motor dan televisi yang jelas bukan untuk memenuhi kebutuhan anak,” jelas Yoyok. Pemenuhan kebutuhan hidup ini, tambah dia, menunjukkan adanya pergeseran kepentingan dari turun ke jalan karena keinginan pribadi menjadi keinginan orang lain khususnya orang tua. “Langkah ini menunjukkan adanya langkah orang ua untuk mengeksploitasi terhadap anak untuk alasan ekonomi,” imbuhnya.

Lebih Menghasilkan

Keberadaan anak jalanan lokal, tambah dia, saat ini lebih terlihat pada keberadaannya di sekitar bundaran Tugumuda dan kawasan Pasar Johar. “Di daerah Tugumuda anak Semarang asli, sedang untuk di kawasan Johar sekitar 10 persen merupakan pendatang dari kabupaten terdekat dengan Semarang. Keberadaan mereka tidak terlepas dari keadaan ekonomi negara,” imbuhnya.

Terkait jumlah keberadaan anjal, Yoyok menyebutkan, seperti tahun sebelumnya kisaran jumlah tidak banyak mengalami penambahan. Namun, keberadaan anjal mulai menyebar hingga ke jalan kecil yang ada di sekitar perumahan.

“Jika dari pendampingan yang kita lakukan, dulu hanya di satu tempat keberadaan mereka bisa mencapai 50 orang sehingga mudah melakukan pendampingan. Namun, sekarang mereka tersebar dalam jumlah yang kecil-kecil sekitar 10 anak,” imbuhnya.

Lebih lanjut Yoyok menjelaskan, selain profesi meminta-minta, keberadaan anjal juga sebagai mengamen untuk mencari uang. “Pengamen anak-anak akan bertambah ketika ada konser di Semarang, biasanya anak punk yang datang tidak jarang sengaja mengamen untuk mencari ongkos pulang,” imbuhnya.

Terkait keberadaan anak-anak di jalanan Kasubid Pengarusutamaan gender Badan Pemberdayaan masyarakat dan keluarga berencana Pemkot Semarang Dra Okky Maria MSi mengungkapkan pemanfaatan anak sebagai pencari uang merupakan bentuk lain dari eksploitasi terhadap anak.

“Pemanfaatan anak untuk bekerja dengan meminta-minta merupakan bentuk lain dari eksploitasi yang sekarang terjadi selain dalam bidang seksual,” jelas Okky.  Dengan memanfaatkan anak untuk meminta-minta, imbuh dia, tidak jarang orang tua dari kalangan kurang mampu malah meninggalkan pekerjaan mereka yang dirasa kurang menghasilkan.

“Tidak jarang karena hasil yang didapat anak dengan meminta-minta cukup besar terus ada ibu-ibu yang berhenti dari pekerjaan mencuci, bahkan ayahnya sampai meninggalkan pekerjaan menarik becak,” imbuhnya. lek-Yn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *