PERDAGANGAN ANAK : Pemberitaan Media Cetak Kurang Peduli Korban (Kompas, 2009)

KOMPAS, Sabtu, 5 Desember 2009

BANTUL, KOMPAS – Pemberitaan di media cetak tentang perdagangan anak masih kurang akurat dan peduli terhadap pihak korban. Antara lain, dengan penyebutan identitas nama dan alamat secara gamblang. Pemberitaan juga dinilai terlalu banyak menggunakan sumber kepolisian, kurang mengangkat pendapat korban, dan tidak ada keberlanjutan berita.

Demikian kesimpulan diseminasi laporan analisis liputan media tentang perdagangan anak di Indonesia yang disampaikan Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (Samin) bersama Indonesia Act (Against Child Trafficking), Jumat (4/12). Keduanya adalah lembaga yang aktif mengadvokasi kasus-kasus perdagangan anak.

Odi Shalahuddin, Koordinator Eksekutif Program di Samin, didampingi Hening Budiyawati (Presidium Indonesia Act), mengutarakan sampel 14 berita diambil dari surat kabar Kompas, Jawa Pos dan Koran Tempo selama tahun 2007.

Sampel berita diambil tahun 2007 karena Asia Act – organisasi jaringan tingkat Asia yang memerangi perdagangan anak – mulai meneliti tahun 2008. Selain di Indonesia, penelitian serupa dilakukan pada pemberitaan media-media cetak di Filipina, Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam.

“Karena itu, datanya pun memang hanya dimungkinkan dari berita tahun 2007. Hanya saja, memang, isu-isu perdagangan anak di Asia mulai merebak tahun 2007, sehingga ketika sampel berita diambil, tahun 2007, kami rasa pas. Hanya waktu publikasinya yang menurut kami memang agak terlambat disampaikan ke media. Kemudian tiga koran ini dipilih karena punya oplah tinggi dan berimbang dalam pemberitaannya,” ujar Odi.

Secara garis besar, analisis berita dilakukan dengan mencermati penulisan berita apakah telah mengindahkan kepentingan terbaik bagi anak-anak yang menjadi korban.

Dari 14 berita, hanya satu berita yang menjadikan korban sebagai narasumber utama. Delapan berita menampilkan polisi sebagai narasumber utama, satu berita mengangkat sumber dari pengadilan, dan dua berita yang sumber utamanya dari orangtua si korban. Dua berita lain diduga bersumber dari keterangan polisi. (PRA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *