Kompas, Jateng, 15 Desember 2003

Semarang, Kompas – Selama tiga tahun terakhir tercatat 14 kasus perdagangan perempuan yang semuanya menimpa anak jalanan di KotaSemarang. Dengan diimingi- imingi akan dicarikan pekerjaan, mereka diajak ke Kalimantan atau Sumatera untuk selanjutnya dijual kepada mucikari sebagai pekerja seks komersial (PSK).

“Mereka umumnya dibawa ke Tanjung Pinang, Tanjung Balai Karimun, Riau, Batam, dan juga ke Entikong (perbatasan Kalimantan Barat dengan Sarawak). Selain 14 kasus itu, ada satu kasus penjualan anak (perempuan) oleh ibu kandungnya sendiri. Banyak kasus perdagangan anak dan perempuan yang tidak tercatat,” kata Hening Budiyawati, anggota Indonesia Against Child Trafficking (ACTs), organisasi antiperdagangan anak di Indonesia, di Semarang, Jumat (12/12).

Indonesia ACTs adalah salah satu jaringan atau organisasi di Indonesia yang tergabung di dalam Asia ACTs yang merupakan jaringan regional kampanye melawan perdagangan anak. Hari Jumat lalu, sekitar 100 orang yang tergabung dalam Indonesia ACTs mengadakan pawai simpatik untuk memperingati penandatanganan Protokol Palermo, Italia, yaitu Optional Protocol of Anti Child Trafficking in Persons, 12 Desember 2000. Pawai simpatik itu dimulai dari Masjid Baiturrahman di Kawasan Simpang Lima menuju halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Koordinator Nasional untuk Indonesia ACTs Emmy LS mengatakan, modus perdagangan perempuan biasanya dilakukan melalui jalur pengiriman tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri. Motifnya pun melebar, tidak sekadar perdagangan perempuan untuk tujuan prostitusi, tetapi juga untuk peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) serta kawin kontrak. (IKA)

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0312/15/jateng/744212.htm