Program

Program Yayasan Setara diawali dari program Anak Jalanan yang telah dimulai sejak tahun 1993. Program ini dilaksanakan oleh seorang pekerja sosial yang bekerja secara individual, yakni Winarso, dengan wilayah kerja di seputaran Kawasan Pasar Johar.

Pada tahun 1999, Yayasan Setara membuat penelitian tentang anak jalanan perempuan, yang keberadaannya dinilai sangat menonjol di Semarang, yang hasilnya digunakan untuk mengembangkan program intervensi khusus bagi mereka. Yayasan Setara kemudian membuat shelter khusus untuk anak jalanan perempuan.

Berpijak dari hasil penelitian itu, Yayasan Setara mulai memberikan perhatian khusus terhadap kerentanan anak jalanan terhadap ancaman dijerumuskan ke prostitusi dan bentuk eksploitasi seksual komersial lainnya.

Secara kronologis, berikut adalah program/proyek yang dilaksanakan oleh Yayasan Setara:

Pada tahun 1994-1995, dengan menggunakan nama Kelompok Anak Jalanan Semarang (KAJS), bersama beberapa NGO di Jawa terlibat dalam program “Pendokumentasian program Pekerja Anak” yang dilaksanakan oleh Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) yang mendapat dukungan dana dari ILO-IPEC. Hasil dokumentasi pelaksanaan program tersusun dalam buku “Penanggulanan Pekerja Anak” (SAMIN-IPEC/ILO, 1998)

Pada Juli 1996, difasilitasi oleh Yayasan Sekretariat Anak Merdeka (SAMIN) program mulai dikembangkan secara sistematis, dan mendapat dukungan dana dari Terre des Hommes Germany. “Semarang Street Kids Project” yang dilaksanakan pada periode Juli 1996 – Juni 1997. SAMIN menempatkan satu personilnya (Odi Shalahuddin) untuk memfasilitasi pengembangan kapasitas pelaksanaan proyek, dengan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan, melakukan monitoring, dan memfasilitasi penyusunan dan pengembangan program.

Keberhasilan proyek tahap I, berlanjut dengan dukungan dari TdH untuk melaksanakan “Semarang Street Kids Project II” untuk periode Juli 1997 – Juni 1998. Sayangnya, baru berjalan beberapa bulan, tepatnya pada September 1997 terjadi kasus penyerangan terhadap shelter anak jalanan, yang perkembangannya dinilai tidak memungkinkan untuk melanjutkan proyek ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *