Program Anti ESA Online

Salah satu program Yayasan Setara dalam menegakkan hak anak adalah program Anti ESA Online. ESA (Eksploitasi Seksual Anak) merupakan tindak kejahatan eksploitasi terhadap anak dalam berbagai bentuk yang berhubungan dengan seks secara online baik bersifat komersial atau tidak.

Eksploitasi Seksual Anak memiliki beberapa jenis, yaitu:

  1. Prostitusi Anak Online dan perdagangan manusia
  2. Pornographi Anak
  3. Phonesex dan atau Video Online Sex
  4. Online Grooming
  5. Sexting (secara sukarela/tidak ada paksan)
  6. Sextortion (paksaan)

Makin berkembangnya tekhnologi, murahnya piranti media dan akses internet menjadikan media online sebagai kewaspadaan utama terhadap perkembangan anak. Media online dapat membius anak (tanpa sadar) bahkan secara sukarela terjerumus dalam eksploitasi seksual. Mudahnya berkomunikasi melalui media online, mudah pula anak berkomunikasi dengan siapa pun, kapan pun, di mana pun.

Godaan perkembangan jaman yang makin konsumtif membuat anak dengan mudah melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang diinginkan, termasuk prostitusi. Media Online membuat mudahnya anak membuat akses ke pada siapa pun, bahkan dalam hal ini anak dengan mudah masuk dalam jaringan prostitusi demi mendapatkan imbalan atau hasil secara ekonomis.

Tidak berhenti pada prostitusi, anak juga dapat dieksploitasi dalam bentuk yang lain, pornografi anak. Dalam hal ini anak diminta untuk melakukan hubungan badan dan direkam lalu dijual atau disebar secara masif. Penikmat pornografi pun tidak mengenal usia, anak juga bisa menikmati lalu mencontoh adegan tersebut dan melakukan hal yang sama. pengaruh pornografi tidak hanya berhenti pada persoalan “hubungan seksual yang didokumentasikan” namun berujung pada perilaku, cara pandang serta perkembangan menyimpang anak baik sebagai pelaku maupun penikmat.

Media online membuka alternatif dalam melakukan hubungan seks atau membuka layanan seks. Apabila pengertian eksploitasi seksual hanya dibatasi layanan seksual dengan hubungan secara ragawi/tubuh (prostitusi) lalu direkam dan dijual atau disebar (pornografi), media online membongkar dan memberikan alternatif mencari kepuasan seksual. Layanan seks, selain pelaku yang tidak mengenal usia, konsumennya pun tidak mengenal usia. Melalui jaringan telepon dan video online layanan seksual dapat diakses siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Layanan ini bahkan mengajak siapa pun yang mengakses untuk melakukan hubungan seksual memalui telepon dan video, tentu saja dengan biaya tertentu.

Siapa pun dapat menjadi pengeksploitasi anak dan siapa pun dapat menjadi obyek eksploitasi seksual melalui media online, tidak terkecuali anak kita, anak di lingkungan kita. Apakah kita akan terus membiarkan eksploitasi ini terus menjadikan anak sebagai korban eksploitasi? Tentu kita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi! Yayasan Setara terus berupaya menanggulangi anak dari bahaya media online. Melalui sosialisasi, kampanye, pendampingan, dan pembentukan Forum Anak Anti ESA Online terus berupaya mengajak peran aktif masyarakat untuk menghindarkan anak dari bahaya media onlie.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *