Solopos, Kamis, 19 Agustus 2004 , Hal.14 

Semarang (Espos) – Prostitusi anak merupakan masalah yang paling banyak ditemui dalam kasus eksploitasi seksual komersial terhadap anak (Eska) di Indonesia. Diperkirakan jumlahnya antara 40.000 sampai 70.000 anak.

Menurut Sekretaris Yayasan Setara Semarang Dedy Prasetio kasus prostitusi anak di Indonesia diduga jumlahnya cenderung meningkat setiap tahunnya. ”Prostitusi anak paling rentan menimpa anak-anak jalananan perempuan,” kata dia kepada Espos di Semarang, Rabu (18/8).

Untuk jumlah prostitusi anak di Jateng sendiri, Dedy menyatakan sampai sekarang belum ada angka yang pasti. Hanya saja, berdasarkan studi yang dilakukan Yayasan Setara terhadap 56 anak jalanan perempuan pada tahun 1999 tercatat 46,4% telah dijerumuskan ke prostitusi. ”Sulit untuk mendata secara pasti jumlah prostitusi anak-anak, karena sifatnya tertutup,” jelas dia.

Gerakan global

Lebih lanjut dia mengatakan, selain prostitusi anak, masalah Eska juga menyangkut perdagangan anak untuk tujuan seksual dan pornografi anak. Data tentang perdagangan anak untuk tujuan seksual belum dapat dipastikan berapa jumlah kasusnya di Indonesia, karena modusnya sangat rapi, antara lain dengan melakukan pemalsuan umur dalam penyaluran tenaga kerja atau penyelundupan secara ilegal.

”Bahkan ada yang berpura-pura menjadi pasangan suami isteri ketika melalui perbatasan,” ujarnya

Gerakan anti-Eska sendiri, sambung Dedy, sudah menjadi gerakan global sejak tahun 1996 ketika Kongres Dunia I menentang Eska di Swedia.

Pemerintah Indonesia sendiri juga serius menghapuskan Eska, seperti telah meratifikasi Konvensi Hak Anak dalam bentuk Keputusan Presiden (Keppres) No 36 tahun 1990 dan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Tidak hanya itu Keppres No 87 tahun 2002 telah mengesahkan penghapusan Eska di Tanah Air.

”Namun dalam kenyataannya pemenuhan hak-hak yang terkandung dalam Konvensi Hak Anak tersebut tidak banyak menjangkau masalah anak, bahkan sering kali malah terlanggar,” kata Dedy. – oto