Uncategorized

Puluhan Pengamen dan Pelajar Terjaring Operasi Disiplin (Suara Merdeka, 1996)

SUARA MERDEKA, Jum’at, 15 Oktober 1996, Halaman II

SEMARANG—Sebanyak 32 pengamen jalanan dan pelajar SMTA terjaring dalam Operasi Gepeng dan Gerakan Disiplin Nasional (GDN) yang digelar tim gabungan dari Satbimmas Poltabes bersama instansi terkait selama dua hari, Selasa dan Rabu kemarin.

Para pengamen digiring ke Mapoltabes karena dianggap mengganggu ketertiban lalu lintas. Sedangkan para pelajar dijaring karena melanggar program GDN, yakni berkeliaran di berbagai tempat umum pada jam-jam sekolah.

“Selain untuk menggalakkan program GDN, operasi ini juga bermaksud mendukung Operasi Zebra Candi ’96 yang saat ini digelar jajaran Satlantas. Karena itu, sasarannya tidak lepas dari upaya menciptakan ketertiban lalu lintas,” ujar Kasat Bimmas Kapten Pol Drs Shodiq Anwar di ruang kerjanya, kemarin.

Gelar operasi tersebut dilakukan tim gabungan yang melibatkan tiga instansi, meliputi Satbimmas Poltabes, Dinas Sosial dan Kandepdikbud Kodya Semarang. Setelah turun lapangan selama hampir tiga jam, tim berhasil menjaring sebanyak 32 pengamen dan pelajar.

Dari jumlah yang terjaring tersebut, separo di antaranya merupakan pengamen jalanan yang sebagian besar terdiri atas anak-anak yang biasa mangkal di sekitar traffic light, perempatan jalan dan tempat pemberhentian bus kota.

Penentuan sasaran operasi tersebut, menurut Shodiq, karena selama ini banyak anggota masyarakat yang melaporkan ke Poltabes, aktivitas para pengamen itu sangat menganggu.

Sebab, lanjutnya, para penyanyi jalanan itu selalu melakukan aksinya pada saat lampu merah sedang menyala. Sehingga jika lebih dicermati, pada dasarnya kegiatan tersebut sedikit banyak akan mengganggu dua pihak, yakni pihak pengemudi dan kelancaran lalu lintas.

Lebih parah lagi, tambah Kasatbimmas, para pengamen kadang-kadang juga merusak mobil, misalnya menggores cat mobil dengan paku, tutup botol atau benda lancip lainnya, jika pengemudinya tidak mau memberi uang.

Namun, ketika disinggung mengenai kebiasaan “merusak” itu, beberapa pengamen membantah. Mereka mengaku hanya mengamen, dan kalau tidak diberi tidak melakukan aksi apa-apa. (D4,sep-14)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *