Rawan Perdagangan Anak Menanamkan Sikap Saling Memiliki dalam Masyarakat (Kompas, 2009)

Kompas, 14 Oktober 2009

Semarang, Kompas – Kasus perdagangan anak mudah terjadi di daerah-daerah yang kekurangan akses informasi dan memiliki permasalahan ekonomi. Modus pelaku biasanya dengan menawarkan pekerjaan kepada korban. Kepedulian masyarakat di daerah tersebut terhadap hak anak perlu ditingkatkan untuk mengurangi kasus ini.

Yayasan Setara Semarang mencatat beberapa daerah di Jawa Tengah seperti Grobogan, Jepara, Pati, Brebes, dan Banyumas masih rawan kasus perdagangan anak.

“Terdorong masalah ekonomi, orangtua anak dengan mudah menyanggupi tawaran itu. Padahal, mereka akhirnya hanya dieksploitasi,” kata Koordinator Yayasan Setara Hening Budiawati seusai seminar Perlindungan Hak Anak yang Diperdagangkan, Selasa (13/10) di Semarang.

Pembicara lainnya, Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Semarang Barat Ajun Komisaris Muliyawati Syam dan Odi Shalahuddin dari Yayasan Samin. Peserta seminar meliputi tokoh masyarakat, polisi, dan masyarakat umum.

Hening mengatakan, meskipun kasus perdagangan anak marak terjadi, mereka hanya menangani tiga kasus pada tahun ini. Bukti minim menyulitkan proses hukum penanganan kasus itu.

“Kami sering mendapat informasi adanya indikasi perdagangan anak, tetapi kasus itu lenyap begitu saja karena sulit memperoleh bukti,” kata Hening.

Selain itu, kasus perdagangan anak umumnya dijalankan oknum yang memiliki jaringan yang kuat sehingga pihak luar sulit masuk ke jaringan itu.

Hening berharap, polisi sebagai penegak hukum yang memiliki wewenang untuk menembus jaringan itu lebih serius menangani permasalahan ini. Selain itu, pemerintah daerah perlu membuat undang-undang yang efektif melindungi hak anak.

Muliyawati mengatakan, ada kendala polisi dalam menangani kasus perdagangan anak. Alasannya, korban tidak ingin kasusnya disidik karena malu. Saat dimintai keterangan, korban cenderung tertutup karena masih takut dengan ancaman dari pelaku.

“Harus ada koordinasi antarinstansi,” kata Muliyawati. Menurut dia, edukasi kepada masyarakat sangat penting.

 

Rasa memiliki

Muliyawati menilai, perlu menanamkan sikap saling memiliki dalam masyarakat. Alasannya, penyebab kasus perdagangan anak adalah ketidakpedulian masyarakat terhadap anak-anak yang tinggal di daerahnya.

“Jika banyak anak-anak putus sekolah di suatu lingkungan, mereka perlu diperhatikan dan dijaga,” kata Muliyawati. Dia menambahkan, anak perempuan perlu mendapat prioritas perlindungan karena mereka lebih mudah dieksploitasi baik secara ekonomi maupun seksual. (DEN)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/14/14112567/rawan.perdagangan.anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *