WAWASAN, Jum’at, 12 Oktober 2001

Semarang, (Wawasan), Razia aparat kepolisian dan Pemerintah Kota Semarang terhadap anak jalanan (anjal), gelandangan-pengemis (gepeng), maupun pekerja seks komersial (PSK), terlihat amat sadis. Walaupun penanganan tersebut nyata-nyata bukan merupakan solusi yang efektif. Terbukti, setelah penggarukan atau razia, mereka kembali beraktivitas seperti sedia kala di lokasi-lokasi mangkal mereka.

Bahkan razia terakhir yang dilakukan pekan lalu dinilai berbagai kalangan sangat tidak manusiawi. Apalagi setelah melihat secara langsung peristiwa penggarukan tersebut di layar kaca dalam pemberitaan media elektronik.

Seperti yang diungkapkan Steve Aswin dari Unicef Indonesia. “Beberapa hari lalu (Selasa, 2/10) saya melihat berita SCTV mengenai razia anak jalanan dan gepeng di Semarang oleh polisi bekerjasama dengan Dinas Sosial dan Pemkot Semarang. Lumayan sadis deh!!”ungkap dia.

Ungkapan Aswin tersebut sangat beralasan. Pasalnya, dalam tayangan tersebut dia melihat anak-anak kecil dikejar-kejar petugas dengan pentungan. Kalau tertangkap, anak-anak itu ditarik tangannya. Lantas sambil meronta-ronta dan menangis anak tersebut dimasukkan ke truk.

“Umumnya yang tertangkap adalah mereka yang masih kecil, yang mungkin karena takut dan tidak dapat lari kencang. Meski demikian, ada pula polisi yang baik, setelah ditangkap anaknya digendong supaya tidak lepas,”tuturnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Odi Shalahuddin. Warga Yogyakarta tersebut sampai berkirim surat ke aktivis anak-anak di Semarang. Pada suratnya itu, Odi Shalahuddin menuliskan bahwa penggarukan tersebut sama sekali tidak manusiawi. Bayangkan saja, anak-anak kecil ditarik dengan paksa, petugas tarik-tarikan dengan seorang ibu berebutan anak. Akhirnya, anak-anak dan ibu itu menangis.

“Sekadar catatan, ketika aku pulang ke rumah dari Semarang, hal yang pertama kali ditanyakan adalah masalah razia anak jalanan. Isteriku pun bercerita bahwa anak pertamaku ketika melihat berita tersebut berkomentar, mengapa anaknya dipisahkan dengan ibunya Bu? Tak tahan melihat anak-anak diperlakukan tidak manusiawi, anakku masuk kamar dan menangis,” tulis Odi. Cerita itu, lanjut Odi, menunjukkan bahwa razia di Semarang sudah sangat kasar.

Sepuluh Kali

Hasil monitoring Yayasan Setara dan Kelompok Kerja Keadilan Jender dan HAM (K3JHAM) selama Agustus – September tercatat terjadi sepuluh kali garukan. Hal itu dilakukan secara terpadu oleh aparat kepolisian, Satpol PP, Kantor Informasi dan Komunikasi Pemkot Semarang, DLLAJ, serta Bagian Sosial Pemkot Semarang.

Dari data tersebut, ungkap Dedy (Setara) tercatat 212 orang dirazia. Jumlah tersebut termasuk PSK, anak jalanan, serta anak yang dilacurkan (ciblek).

Kelompok LSM di Semarang, yakni Yayasan Setara, K3JHAM, serta Pusat Edukasi Studi dan Advokasi Anak Indonesia (Perisai) yang peduli terhadap keberadaan anjal, gepeng, maupun PSK memberi catatan khusus tentang razia tersebut.

Sebenarnya, kata Dedy, Pemkot sudah berjanji tidak akan melakukan razia lagi. Itu terungkap dalam Dialog Setara dengan Asisten II Pemkot Semarang Drs. Fatah Dahlan, MM pada 22 Juli 2000 lalu. “Tahun ini sudah tidak ada anggarannya untuk razia. Jadi tidak ada razia lagi untuk anak-anak jalanan,” kata Fatah Dahlan sebagaimana ditirukan Dedy.

Hal itu, kata dia, menunjukkan bahwa alasan penggarukan tidak terlepas dari kepentingan proyek semata. Sehingga tidak menyentuh akar persoalan sebenarnya.

Fatah Muria dari Perisai menegaskan bahwa perlakuan aparat keamanan dalam penggarukan di sekitar Pasar Johar beberapa waktu lalu mengabaikan rasa kemanusiaan. “Itu merupakan pelanggaran berat terhadap hak-hak anak,” tandas dia. (En/SN).