Rumah Singgah yang Tak Lagi Disinggahi, Beralih dari Jalanan ke Bus dan Mal (Radar Semarang, 2008)

RADAR SEMARANG, Kamis, 16 Oktober 2008

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang boleh berbangga hati. Sebab, anak jalanan di titik persimpangan jalan, tepatnya lampu lalulintas (bangjo), sudang berkurang. Namun, kini operasi mereka beralih ke mal dan bus kota.

MESKI masih bisa ditemui di titik tertentu, keberadaan anjal di Kota Semarang di bangjo sudah berkurang sejak adanya program Semarang Pesona Asia (SPA) tahun lalu. Namun, anak-anak yang butuh penanganan itu beralih ke tempat yang luput dari perhatian aparat Satpol PP Kota Semarang, yaitu bus kota atau ahan parkir mal dan pertokoan.

Berkurangnya anjal di Kota Semarang ini juga dinilai akibat adanya program program BOS, Askeskin maupun program pengentasan anjal lainnya. Meski belum ada penelitian secara jelas, program tersebut dikatakan mengurangi anjal di jalanan.

Ditempati Orang Dewasa

Pengurus harian Setara yang selama ini membantu penanganan anak jalanan, Hening Budiyawati menjelaskan, keberadaan anjal di Kota Semarang saat ini telah mengalami perubahan. Mereka sekarang sudah menyebar ke tempat-tempat yang jarang dijangkau razia aparat.

Tak kecuali dengan rumah singgah yang dulu menjadi salah satu program andalan pemerintah  untuk mengentas anjal. Menurutnya, rumah singgah saat itu telah disalahgunakan. Sebab, banyak orang dewasa tinggal di sana dibanding anak-anak untuk mengikuti kegiatan belajar keterampilan.

“Di Kota Semarang keberadaan rumah singgah saat ini sudah digantikan dengan Rumah Penampungan Sementara Anak (RSPA). Namun, RSPA sendiri juga tidak banyak dimanfaatkan oleh anjal karena kebanyakan mereka tinggal di bersama orangtua dan tinggal di rumah sendiri,” terang Hening.

Dikatakan, tidak adanya lagi sebuah tempat untuk anjal justru membuatnya semakin khawatir. Pasalnya, pihaknya sulit memantau aktivitas anjal sehari-hari. Keberadaan anjal yang menyebar sulit untuk dimonitoring. Berbeda saat adanya rumah singgah, kegiatannya terpusat dan bisa langsung diawasi.

“Kalau mereka sekarang ngamen di bus-bus kota atau berada di wilayah yang tidak dirazia Satpol PP, justru kami tidak bisa mengawasi. Bisa saja anak perempuan mengalami eksploitasi seksual di bus kota. Ini yang kami takutkan,” katanya.

Dengan adanya perubahan tersebut, pihaknya berharap kepada pemerintah kota bisa melindungi anjal dengan sebuah perda. Sehingga, anjal tersebut bisa mendapat perlindungan dari eksploitasi dan kejahatan. “Meski nanti sudah ada perda, anjal tersebut tetap kita kawal supaya mereka juga terlindungi,” katanya.

Salah satu anjal yang ditemui mangkal di Bundaran Tugu Muda, Agus, 15, mengakui saat ini jarang mendapatkan pelatihan keterampilan seperti saat berada di rumah singgah. Setelah itu, ia pulang kerumah orangtuanya di Kelurahan Brintik.

“Paling di Tugu Muda ngamen, main, kemudian pulang kerumah,” ujarnya kepada Radar Semarang kemarin (15/10).

Hal yang sama diutarakan oleh Nita, 15. Banyak waktunya dihabiskan di jalan ketimbang di RSPA. Alasannya, ia merasa lebih bebas bisa berbuat apa saja di jalanan. Nita, mengaku sudah lama tidak pergi kerumah singgah karena memang di tempat itu sudah tidak ada lagi kegiatan. “Saya lebih enak di sini (Tugu Muda, red), dibanding pergi ke RSPA atau tempat lain,” ucapnya. (dit/wah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *