Setahun Terakhir Jumlahnya Naik (Radar Semarang, 2006)

RADAR SEMARANG, Kamis, 27 Juli 2006, Halaman 1 & 7

SEMARANG – Jumlah pekerja seksual anak di Kota Semarang selama setahun terakhir dinyatakan meningkat. PSK anak yang menempati dua lokalisasi besar di Semarang ini diduga adalah mantan penghuni warung teh poci yang kemudian hijrah ke lokalisasi.

Fenomena itu disampaikan oleh Koordinator LSM Setara Hening Budiyawati, PSK anak ini didominasi oleh mereka yang berusia 17 hingga 18 tahun.

“Mereka umumnya takut melapor. Sehingga, peningkatan jumlahnya itu kami dasarkan pengamatan,”kata Hening dalam diskusi “Lindungi Anak dari Eksploitasi Sexual” yang digelar oleh ILO (International Labour Organization) dan Radio Smart FM di Hotel Horison, kemarin.

Sayangnya, tak ada data nominal yang pasti mengenai penambahan jumlah PSK anak ini. Alasanya, jaringan yang mengkoordinasi mereka sudah akrab dengan pemalsuan identitas.

Pindahan dari Teh Poci

Biasanya, kata Hening, identitas anak-anak ini telah diubah menjadi lebih tua dari pada usia sebenarnya.

Kecenderungan pekerja teh poci usia anak-anak yang berpindah ke lokalisasi semacam Gambilangu atau Sunan Kuning ini diduga karena banyak fator. Selain karena jebakan dari jaringan trafficking (perdagangan anak), juga yang sengaja berpindah kaerna semakin terbatasnya ruang untuk berjualan teh poci. Terutama, tambah dia, sejak adanya larangan bagi penjual teh poci pada hari-hari tertentu.

Hening sendiri tak sependapat bahwa kelompok yang paling rentan mengalami kasus trafficking adalah anak jalanan. Sebab, kata dia, seringkali korban justru adalah anak-anak ‘rumahan’ yang memiliki akses terbatas mengenai kasus perdagangan anak ini.

“Yang paling penting adalah akses informasi dan sosialisasi tentang trafficking, ini yang paling berpengaruh untuk mencegah,” tegasnya.

Pemerintah sendiri, menurut dia, seringkali melupakan langkah sosialisasi untuk pencegahan. Ranah yang paling sering diperhatikan pemerintah justru adalah pemulihan dan penanganan.

“Padahal pencegahan trafficking ini sebenarnya juga cukup penting untuk menghindari bertambahnya korban,” tutur Hening.

Sementara itu, Nation Programm Officer ILO Arum Ratnawati mengingatkan kembali perlunya perlindungan khusus bagi para pekerja anak.  Apalagi, selama ini di Indonesia ditemukan banyak anak usia 17 hingga 18 tahun yang menjadi pembantu rumah tangga. “Usia tersebut di Indonesia adalah usia terlarang untuk pekerjaan berbahaya tanpa proteksi,” tegas Arum.(nif).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *