Ortu Wajib Antilelet Melawan Internet (Sinar Harapan, 2013)

Saat melakukan pendampingan belajar di sebuah kampung di kawasan Semarang Timur, Tia (23) mendadak melompat. Ia kaget merasakan sebuah tangan kecil menepuk bagian tubuh bawah panggulnya.

“Segera saya menoleh ke belakang, si empunya tangan kecil itu ternyata bocah lelaki yang masih duduk di kelas III SD,” tutur Tia, sukarelawan Yayasan Setara yang terjun untuk pendampingan belajar di beberapa kampung di Semarang.
Sebagai sebuah lembaga yang peduli dengan kehidupan anak jalanan, kini Yayasan Setara juga aktif melakukan tutorial pendampingan belajar dengan sasaran siswa SD dan SMP, baik anak jalanan maupun anak-anak yang tinggal di perkampungan.
“Dari 400 anak memang tidak semuanya murni anak jalanan, namun mereka tumbuh di lingkungan yang sebagian besar orang tuanya kurang peduli dengan perkembangan anak-anaknya. Upaya ini dilakukan agar anak tidak ada niat turun ke jalanan mencari uang, karena di jalanan rawan kejahatan seksual dan ribuan masalah lainnya,” jelas Hening Budiyawati (40), Koordinator Yayasan Setara, Semarang.
Dalam catatan Hening, perkembangan kota yang semakin pesat dan kepungan media sangat memengaruhi kematangan pikir anak dan remaja. Hening lantas mengisahkan pengalamannya saat mendampingi belajar di sebuah kampung yang sebagian besar orang tuanya bermata pencaharian sebagai tenaga serabutan.
“Saat kami sedang belajar bersama, tiba-tiba seorang anak tersenyum lalu dengan tenang menunjukkan sebuah adegan hubungan seksual yang dilakukan sepasang remaja penghuni kampung itu,” katanya.
Rupanya sepasang remaja yang tidak ikut kegiatan belajar bersama itu merekam adegan mesra mereka via web cam, lalu entah bagaimana video berdurasi singkat itu beredar dan ditonton bocah-bocah penghuni kampung itu.
Ironisnya, peristiwa itu terjadi saat masa ujian sekolah, dan berakibat si remaja putri harus dipindahkan ke sekolah lain. Meski tidak berlanjut ke proses hukum, tak urung kasus itu menjadi urusan panjang karena Hening mau tak mau turut membantu proses penyelesaian secara kekeluargaan, termasuk mencoba menyadarkan orang tua agar lebih peduli pada pergaulan anak mereka.
“Jelas ini memprihatinkan, karena bagaimana pun orang tua seharusnya bertanggung jawab dalam membesarkan dan mendidik anak. Masyarakat dan lingkungan idealnya juga mampu menciptakan suasana ramah anak,” sambungnya.
Hening menambahkan, tantangan orang tua masa kini tidak hanya berhenti pada sebatas menyekolahkan anak, tetapi juga harus peka terhadap perubahan zaman.
Internet dan akses informasi lainnya kini lebih mudah didapatkan anak dan remaja dibandingkan mendapat penjelasan dari orang tuanya. Ia menyarankan agar para orang tua memanfaatkan forum-forum diskusi yang ada di masyarakat untuk berbagi pengetahuan terkait perkembangan anak dan remaja mereka.
“Mulai saja dari tingkat RT, lalu melebar hingga menggandeng pemerintah dan elemen masyarakat lainnya. Tak perlu merasa malu jika orang tua kalah terampil mengakses info dari internet karena masih bisa dipelajari dengan cepat dan dicari solusinya, agar anak tidak makin penasaran mencari informasi tentang seks dengan caranya sendiri,” katanya.
Penelitian Undip
Pendapat Hening sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hastaning Sakti, dosen peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang (Undip) yang baru-baru ini menemukan fakta sekitar 14 persen remaja masih membutuhkan perhatian yang besar terkait perilaku seks dan kesehatan reproduksi, dari total sampel 2.179 remaja yang tersebar di beberapa kota di Jawa Tengah.
“Empat belas persen itu rata-rata dari seluruh kategori yang ditetapkan seperti sikap terhadap seks pranikah, pola komunikasi, kebutuhan informasi, keterpaparan sumber informasi, dan pelaku seks berisiko,” terang peneliti yang hampir 30 tahun berkecimpung menangani persoalan remaja.
Lebih lanjut ia menyatakan gerakan peer education atau menggiatkan penyuluhan lewat teman sekomunitas para remaja, menjadi salah satu solusi efektif untuk mengurangi angka seks bebas dan buruknya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Remaja yang memiliki pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan seks berisiko mendapat “tugas” menjadi penyuluh di kalangan teman-temannya.
Selama ini gerakan peer education telah ditempuh Pilar Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), BKKBN, universitas, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi masyarakat lainnya yang menitikberatkan pada persoalan remaja.
Selanjutnya peer educator juga secara rutin bertemu untuk berbagi informasi, sehingga pengetahuannya selalu bertambah seiring tantangan zaman. Persoalan pola pikir masyarakat yang masih menganggap tabu untuk diskusi dan informasi seks, dinilai Hastaning tidak lagi dapat diterapkan pada era internet ini.
“Justru yang tabu sekarang jika orang tua tidak mengikuti perkembangan zaman, kurang jeli dan paham bagaimana remaja mereka bergaul via internet,” sambungnya.
Kalah Teknologi
Dalam penelitian lanjutan, Hastaning juga menemukan kenyataan bahwa kini orang tua sebenarnya lebih terbuka dan menaruh perhatian besar terhadap anak remajanya, hanya saja kalangan orang tua sering kalah cepat dengan kemampuan anaknya mencari informasi di dunia maya.
“Apanya yang tabu jika kita duduk bersama dalam forum, mendiskusikan kesehatan reproduksi secara positif, misalnya mengingatkan agar remaja tidak menggunakan celana dalam yang berbahan nilon dan ketat karena bisa menimbulkan masalah kesehatan pada alat vital, atau diskusi bagaimana HIV/AIDS bisa menular dan sebagainya, tidak melulu soal hubungan seksual,” lanjutnya.
Itu sebabnya Hastaning menyarankan, untuk mengejar ketertinggalan orang tua “melawan” banjir informasi yang dicari oleh remaja, dibutuhkan kerja sama erat antarsemua pihak. Kini tak bisa lagi saling menyalahkan jika remaja jatuh dalam seks bebas, karena semuanya sebenarnya mempunyai tugas yang saling melengkapi demi menjaga generasi yang membanggakan bangsa.

Sumber : Sinar Harapan, 2 November 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *