Sri Hartati, Awalnya Sempat Dimusuhi Warga Sekitar (Radar Semarang, 2009)

RADAR SEMARANG, 20 Desember 2009 

SETIAP hari, rumah kecilnya disesaki belasan anak laki dan perempuan yang usianya rata-rata 11 – 14 tahun. Banyak permasalahan terjadi diantara anak-anak itu. Berselisih paham kerap terjadi. Pernah gelas miliknya dibanting hingga berantakan, dia mencoba menengahi. Meski ia marah, anak-anak itu tetap kembali padanya. Berususan dengan polisi pun bukan hal baru lagi.

“Ada anak yang dituduh mengampres, saya yang dicari polisi, karena anak-anak itu mengaku rumahnya di Gunung Brintik. Kalau sudah begitu, saya laporan LSM minta bantuan,” ungkap perempuan yang mengaku paling miskin di antara saudaranya itu. Sebab beberapa saudaranya ada yang menjadi pengusaha mapan di Kalimantan dan juga berprofesi dokter.

Ketika ada pengamen jalanan yang tewas di bunuh, Bu Prapto yang mengurus jenazahnya di rumah sakit, merawat, lalu memakamkannya. Pun ketika ada yang ikut sunatan massal, dia yang bikin bancakan. Menikah pun, dia yang mengaturnya, Bu Prapto all out untuk anak-anak itu.

Sekitar 1996, Bu Prapto bertemu dengan Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) dan LSM Setara. Beberapa kegiatan pelatihan dilakukan untuk anak-anak tersebut. Dan BU Prapto kerap mendampinginya dalam berkegiatan. Ketika dihelat jambore anak-anak jalanan seluruh Indonesia, rumah Bu Prapto jadi base camp, didatangi anak-anak dari kota lain.

Kebetulan waktu itu Setara akan mendirikan rumah singgah,lalu Bu Prapto menawarkan rumah disampingnya yang kosong. Anak-anak lantas tidur di rumah singgah tersebut.

Sementara 3 anak kandungnya mendapatkan beasiswa hingga SLTA. Sehingga tak lagi intens turun ke jalan untuk mencari biaya sekolah. Hingga kini, rumah singgah yang diberi nama Serabi itu masih ada, namun pengelolaannya di bawah YKKS.

“Bersyukur sekali 3 anak saya dapat beasiswa. Mereka hanya setahun di jalan,” katanya. ia berharap anak-anak lain mengikuti jejak anaknya, mau bersekolah dan perlahan-lahan meninggalkan jalan.

Kedekatan dengan anak-anak jalanan bukan tanpa risiko. Bu Prapto sempat dimusuhi warga kampungnya. Dituding membawa anak-anak jalanan ke Gunung Brintik. Mereka dianggap mengusik ketentraman warga. Tiap saat tetangga protes karena jemuran atau sandal hilang. Perempuan itu menanggapinya dengan sabar dan berusaha menjelaskan baik-baik.

Tak hanya sekali dua kali protes itu dilayangkan tetangga. Bahkan sempat pula tengah malam digeruduk orang tak dikenal. “Saya dianggap sampah masyarakat. Tapi saya tidak dendam, justru saya bersumpah. Suatu saat jika warga sini ada yang kesusahan, saya akan menolong semampunya,” tuturnya tegas.

Sumpah itu dibuktikan Bu Prapto yang sekarang merawat 3 anak tetangga sejak masih bayi karena kesulitan ekonomi. Tiap hari memberi makan dan uang saku sekolah 3 anak itu. Pada 1998, krisis moneter melanda, banyak usaha bangkrut, PHK di mana-mana, warga Gunung Brintik mengalami serupa. Hidup semakin susah. Akhirnya, mereka turun ke jalan mencari uang, menjadi pengamen dan semacamnya.

Sejak itulah, warga merasakan betapa susahnya hidup di jalanan. Dan Bu Prapto tak lagi dimusuhi. Warga mulai menerima dan berteman dengan anak-anak tersebut (lis.retno/isk).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *