Sri Hartati, Penjual Sayur Keliling Dedikasikan Hidupnya Sebagai Ibu Anak-Anak Jalanan (Radar Semarang, 2009)

RADAR SEMARANG, Minggu, 20 Desember 2009 

Nama lengkapnya Sri Hartati. Dia bukan siapa-siapa. Hanya penjual sayur keliling. Tapi bagi anak-anak jalanan, ia adalah ibu yang luar biasa. Memberi kehangatan, kasih tulus layaknya ibu kandung sendiri.

RAUT mukanya ramah. Senyumnya selalu mengembang dari bibir perempuan berusaha 52 tahun ini. Siang itu (16/12), di rumahnya yang sederhana, ia tengah beristirahat sembari menyaksikan televisi. Layar gelas jadi hiburan, selain bercanda dengan anak cucu usai kerja sejak subuh.

Rumah di Gang Wonosari VII Gunung Brintik, Semarang ini kelewat sederhana. Lantainya tegel, berdinding tembok, dan beratap rendah. Seperangkat meja kursi tua, buffet kayu berisi foto-foto dan televisi menghiasi ruang tamu. Kondisi seperti itu, tak jauh beda dengan rumah-rumah lain yang rata-rata sederhana.

“Bagian dapur saya pernah longsor,” katanya membuka perbincangan dengan koran ini. Gunung Brintik, berada di lereng bukit. Menuju rumahnya, harus melewati makam Bergota yang luas.

Di rumah mungil itulah, anak-anak jalanan (anjal) mendapatkan kehangatan. Mereka pulang setelah seharian berada di jalan mencari duit. Makan, tidur, mandi di rumah itu. Sri Hartati atau yang intim disapa Bu Prapto membuka lebar-lebar pintu rumahnya untuk anak-anak kurang beruntung itu.

Tanpa imbalan, tanpa pamrih, ia beri mereka tumpangan tidur dan makan cuma-cuma. Juga merawatnya ketika sakit. Mendamaikan bila ada pertengkaran dan memecahkan masalahnya jika ada persoalan. Bahkan merumat jenazahnya ketika salah satu di antaranya meninggal.

Itulah Bu Prapto. Perempuan yang jadi ibu bagi anjal. Dia cukup populer di Gunung Brintik. Mulai anak-anak sampai dewasa, pasti mengenalnya. “Saya ini mbok-mboke anak-anak itu. Mereka kebanyakan dari luar kota,”cetusnya sambil tersenyum.

Karena kedekatannya dengan anjal, ia kerap digandeng LSM seperti Setara dan YKKS untuk mendampingi mereka. Termasuk ikut berbagai kegiatan anak-anak yang dihelat LSM, baik di Semarang maupun luar kota.

“Saya pernah hidup berkecukupan. Kalau sekarang miskin tidak apa. Yang penting tetap harus saling menolong. Miskin tapi banyak teman, banyak saudara, hidup rasanya lebih berbahagia,” katanya memberi alasan menampung anak-anak itu.

Enam belas tahun lalu, Bu Prapto hidup kecukupan. Punya kios di Pasar Bulu. Di pasar itulah, awalnya dia mengenal anak-anak jalanan. Suatu ketika usahanya bangkrut. Alhasil, kios dilepas. Untuk menyambung hidup, dia putuskan jualan sayuran keliling. Setelah Prapto – suaminya –meninggal, dia harus menghidupi 3 anak: Ayu, Anas dan Ari. Mereka butuh makan dan sekolah.

Kerja keras dilakoninya agar hidup bisa berlanjut. Melihat itu, anak keduanya, Anas, berinisiatif mengamen di kawasan Tugu Muda. Semula sang ibu menolak permintaan tersebut.

“Waktu itu Anas masih kelas 5 SD. Semula saya tidak boleh, tapi dia bilang hasil ngamen untuk biaya sekolah. Akhirnya saya mengizinkan, tapi waktunya saya batasi mulai jam 5 sampai 7 malam. Berangkat saya antar, pulangnya saya jemput. Hasilnya unuk sekolah. Kalau untuk makan, saya masing sanggup memberi. Kemudian Ayu dan Ari ikut ngamen juga,” jelas perempuan asal Magelang itu mengisahkan awal mula anak-anaknya terjun ke jalan.

Anas memiliki jiwa sosial tinggi. Kadang, uang hasil ngamen dibagi pada temannya yang belum dapat duit. Ia juga sering mengajak anak-anak lain yang sakit ke rumah untuk dirawat ibunya. Atau diajak makan di rumah. Sejak itulah, Bu Prapto menjadi ibu bagi anak-anak itu. Hampir 15 anak tiap hari datang ke rumahnya, makan, tidur gratis.

“Saya tidak pernah meminta imbalan. Justru sering tombok. Tapi tidak apa-apa, hasil jualan sayur masih bisa untuk memberi makan mereka. Rasanya senang bisa menolong. Justru dengan merawat orang, rezeki terus bertambah. Karena saya percaya rezeki itu sangkan paran,” kata sulung dari 9 bersaudara itu.

Bu Prapto tidak sekadar menampung. Dia juga mengajari tata krama anak-anak itu. Ia menganggap mereka anak sendiri, memperlakukan sama seperti 3 anak kandungnya. Mereka senang merasa diperhatikan. (lis.retno/isk).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *