Sri Suharti Pengasuh Anak Jalanan Semarang: Tak Kenal Lelah Mengasuh dan Mendidik Anak Bangsa (Sindo, 2012)

Seputar Indonesia, 8 Juli 2012

Sosok Sri Suharti bagi anak jalanan di Kota Semarang layaknya ibu kandung sendiri.Meski sudah separo abad lebih usianya,dia tanpa kenal lelah mengasuh anak-anak yang hidupnya di jalan.

Sri Suharti bahkan tak sungkan tinggal di sebuah rumah kumuh di bukit belakang Tempat Pemakaman Umum Bergota, tepatnya di Gang Gunung Brintik Wonosari VII RT 06 RW 3 Kelurahan Randusari, Kota Semarang. Di rumah sempit beratapkan seng itu,hidup dan kehidupan anak-anak jalanan ternaungi. Meski bukan gedung megah, depan rumah sempitnya itu rela diberi plang bertuliskan “Sekretariat Sanggar Serabi”.

Ya, di sanggar itu Sri Suharti mengajari anak-anak jalanan Semarang berbagai bentuk kegiatan,seperti ilmu pelajaran sekolah,band atau musik lainnya,dan visualisasi atau pementasan seni drama. Saat SINDO berkunjung beberapa hari lalu,perempuan yang akrab dipanggil Bu Prapto (nama mendiang suaminya) itu tampak sibuk mengajari sejumlah anakanak jalanan. Hanya beralaskan tikar, anak-anak itu begitu asyik membaca-baca buku yang berada di Sanggar Serabi.

“Silakan kalau mau turun ke jalan asalkan jangan buat keonaran. Besok harus tetap kembali belajar di sini (Sanggar),” kata Bu Prapto, panggilan Sri Suharti, kepada anak-anaknya sebelum mengakhiri belajar bersamanya. Bu Prapto mengasuh anak-anak jalanan itu layaknya mengasuh anaknya sendiri. Selain belajar, dia juga memberikan makan dan menyiapkan tempat tidur kepada anak-anak tersebut. Itu rutin dilakukannya, sebelum dia berjualan sayur keliling.“Saya sudah mulai ngopeni (mengasuh) anak-anak jalanan sejak 1996 lalu hingga sekarang. Saya tidak bisa meninggalkan mereka,” ungkapnya.

Bukan suatu yang tiba-tiba Bu Prapto melakoni kegiatan sosialnya itu. Kegiatannya ini bermula saat pengalaman pahit hidupnya pada 1996. Di tahun itu usaha dagang Bu Prapto bangkrut. Dia sama sekali tidak bisa mencarikan nafkah untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Singkat cerita,tiga anak-anaknya turun ke jalan menjadi pengamen. Sejak itulah dia merasa iba dan kasihan jika melihat anak-anak bekerja turun ke jalan. “Sejak saat itu, anak saya sering mengajak anak jalanan lainnya pulang ke rumah saya. Saat itulah mulai banyak anak jalanan yang bermain, tidur, mandi di tempat saya ini,” kata ibu tiga anak ini.

Berawal dari itu, kemudian satu per satu anak-anak jalanan dia dekati. Lambat laun, anak-anak itu terbiasa tinggal di rumah perempuan yang terkadang disapa dengan panggilan Mbok Brintik ini. “Karena dekat, saya ajari mereka agar mau belajar membaca dan sekolah lagi. Sehingga kelak, mereka tidak akan jadi anak-anak jalanan terus-terusan,” kata Bu Prapto. Menurut Bu Prapto, merawat anak-anak tersebut butuh ekstra kesabaran dan keikhlasan. Anak jalanan sudah terbiasa hidup keras, dari kebiasaan mencuri, minum-minuman keras, berkelahi, dan sebagainya.

Bu Prapto menuturkan, pernah suatu ketika anak binaannya itu pulang dengan kondisi mabuk, baju kotor, kumuh, dan kepala berdarah. “Ketika itu, ya saya mandiin dan saya bersihkan lukanya. Bahkan, pagi hari sang anak tersebut malah meminta uang dan mengambil barang-barangnya untuk dijual. Ya sudah diambil, mau gimana lagi, ya saya ikhlaskan,” ungkap istri Prapto (alm) ini. Memang tidak selalu pengalaman pahit didapat Bu Prapto. Ada pula hal membahagiakan baginya.

“Bukan persoalan imbalan uang dan sanjungan yang diharapkan.Kebahagiaannya adalah saat melihat anak binaannya datang dengan kesuksesan. “Ada anak yang sudah puluhan tahun tidak ke sini (sanggar). Tahu-tahu pas ke sini, sudah lulus kuliah dan bekerja. Saat itu saya jadi merasa terharu karena bahagia,”kata Bu Prapto.

AMIN FAUZI
Kota Semarang

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/509193/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *