“Study Banding Yayasan Setara bersama 8 Mitra Sekolah Dampingan”

Pada Minggu, 30 Agustus 2015, Yayasan Setara bersama perwakilan guru dari delapan (8) Sekolah Dasar di Semarang, melakukan studi banding tentang pengembangan Sekolah Ramah Anak (SRA).

Tempat yang dituju adalah Qoriyah Thoyibah (Salatiga) dan SD Muhammadiyah 16, Surakarta.

QORIYAH THOYIBAH

gambar 1Komunitas Belajar Qoriyah Thoyibah terletak di Jln. R. Mas Said No.12 , Kalibening, Salatiga adalah sekolah berbasis komunitas/desa (Community Based Schooling) di mana wargalah yang menentukan baik buruknya anak-anak desa ke depan. Konsep pengembangan pendidikan dasar terkait pengembangan partisipasi anak. Di kelola oleh Bapak Badrudin. Pendidikan dikelola bersama dalam sebuah lembaga pendidikan non formal, di mana antara warga desa, pemerintah desa, orang tua murid, guru, anak didik, secara rutin dan terus-menerus mengevaluasi, merencana-kan dan mengawasi secara bersam-sama. Inilah yang disebut dengan pendidikan alternatif yang digagas warga, dikelola bersama, dibesarkan bersama dengan tujuan meningkatkan mar-tabat warga desa itu sendiri.

Qariyah Thayyibah menawarkan prinsip pendidikan alternatif.

Gambar 2Prinsip utama, pendidikan dilandasi semangat membebaskan, dan semangat perubahan kearah yang lebih baik. Membebaskan berarti keluar dari belenggu legal formalistik yang selama ini menjadikan pendidikan tidak kritis,dan tidak kreatif,sedangkan semangat perubahan lebih diartikan pada kesatuan belajar dan mengajar, siapa yang lebih tahu mengajari yang belum paham, hal ini kemudian akan didapat seorang guru ketika mengajar sebenarnya dia sedang belajar, terkadang belajar apa yang tidak diketahuinya dari murid.

Prinsip kedua, keberpihakan, adalah ideologi pendidikan itu sendiri, di mana akses keluarga miskin berhak atas pendidikan dan memperoleh pengetahuan. Prinsip ketiga, metodologi yang dibangun selalu berdasarkan kegembiraan murid dan guru dalam proses belajar mengajar, kegembiraan ini akan muncul apabila ruang sekat antara guru-murid tidak dibatasi, keduanya adalah tim, berproses secara partisipatif, guru sekedar fasilitator dalam meramu kurikulum.

Prinsip keempat, Mengutamakan prinsip partisipatif antara pengelola sekolah, guru, siswa,wali murid, masyarakat dan lingkungannya dalam merancang bangun sistem pendidikan yang sesuai kebutuhan, hal ini akan membuang jauh citra sekolah yang dingin dan tidak berjiwa yang selalu dirancang oleh intelektual kota yang tidak membumi (tidak memahami masyarakat).

Prinsip-prinsip inilah yang kemudian diturunkan dalam sebuah konsep pendidikan alternatif, bagaimana guru, pengelola, siswa, sarana penunjang dan lingkungannya saling berinteraksi.

Berbanding terbalik dengan 8 sekolah dampingan setara yaitu 5 sekolah Negeri dan 3 swasta di mana metode pendidikan telah terstruktur dari pemerintah pusat, sekolah beserta Guru harus menjalankan kurikulum yang didesain pemerintah sifatnya bisa di bilang harus taat aturan. Tapi itulah fungsi diadakannya study banding kita bersama-sama bisa banyak belajar dari tempat yang kita kunjungi.

SD MUHAMMADIYAH 16 Kaliasem Solo.

gambar 3SD Muhammadiyah merupakan salah satu sekolah yang telah mengembangan SRA (Sekolah ramah Anak) dan telah di anggap memenuhi standar Sekolah Ramah Anak.

Pengembangan SRA berbasis 3P : Proteksi, Provisi, PartisipasiĀ yaitu aturan di kembangkan dari kemauan anak – ke orang – baru ke Guru.

Pembelajaran dengan mengedepankan pengembangan sarpras/lingkungan dan mendorong Partisipasi untuk belajar. Metode yang dilaksanakan praktek langsung dalam proses pembuatan Teh, Tempe, Proses Membatik, memerah susu, kunjungan-kunjungan ke perusahaan/Pabrik (Aunthentic Learning).

Dengan penerapan Metode Aunthentic Learning tidak mengganggu kurikulum, pelaksanaanya bisa disesuaikan dengan keadaan Sekolah dan Lingkungannya dan juga tidak harus mahal. Guru tidak hanya mengajar tapi juga sebagai Fasilitator untuk mengusahakan anak Belajar, melekatkan penerapan SRA dengan Disiplin Posistif dan menghindari Punishment/ hukuman yaitu dengan memberikan kasih sayang terhadap anak mendidik dengan penerapan aqidah (Sholat, hafalan surat al qur’an)

Tentu saja harapan dengan studi banding ini, hal-hal terbaik dapat dipetik pembelajarannya dan dipraktekkan oleh delapan (8) Sekolah Dasar di Semarang.

Minggu 30 Agustus 2015

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *