Selamat Hari Anak Internasional, 25 Tahun KHA

25thnkha

20 November. Tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Anak Internasional. Selain itu,  tepat 25 tahun yang lalu, setelah melalui perjuangan yang panjang, akhrinya Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa melalui resolusi Nomor No. 44/25 telah mengadopsi  Konvensi Hak Anak, yang telah disusun oleh Komite Kerja yang dibentuk sejak tahun 1976.

Sejarah baru telah ditancapkan.  Sejak itulah, secara yuridis dan politis, anak diakui sebagai subyek yang memiliki hak. Ini merupakan perubahan radikal di mana sebelumnya anak ditempatkan hanya sebagai sosok yang  patut diperhatikan dan dikasihani serta ditolong, sehingga pendekatannya adalah pendekatan karitatif.

Kita patut berterima kasih kepada Eglantinne Jeb, seorang aktivis perempuan yang pertama kali menggagas dan merumuskan butir-butir tentang hak anak di tahun 1923. Ia menilai bahwa akibat perang Dunia I, pihak yang paling rentan menjadi korban adalah perempuan dan anak-anak.  Perhatian terhadap  kehidupan anak-anak yang lebih baik diwujudkan dengan membentuk Organisasi  Non pemerintah yang bernama Save the Children, yang kini kiprahnya masih terus berkibar di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Di tahun 1924, Liga Bangsa-bangsa mengadopsi rumusan dari Egalntine Jebb, dan mengembangannya menjadi Deklarasi Hak Anak , yang berisi 10 butir pernyataan tentang hak anak.  Hal mana ditegaskan kembali dengan pengesahan Deklarasi hak Anak pada tanggal 20 November 1959 oleh Majelis Umum PBB.

Terinspirasi dari dokumen tersebut, di awal tahun 1990-an, seorang aktivis hak anak, menggubah lagu “10 Hak Anak” yang hingga saat ini masih kerap dinyanyikan oleh para aktivis anak di Indonesia, walaupun patut dicatat adanya para relawan pendamping anak pada masa Gempa di Yogyakarta (2006) melakukan modifikasi pada liriknya, dan memberi judul baru “Hak Anak Merdeka”

Lantas, bagaimana perkembangan anak-anak, khususnya di Indonesia setelah seperempat abad KHA dengan ketentuan-ketentuannya yang menjadi standar minimal di berbagai belahan dunia menjadi landasan utama bagi pencapaian kehidupan anak-anak yang lebih baik?

Tak dipungkiri, masih dijumpai berbagai situasi dan kondisi anak-anak yang “terpaksa” menjalani kehidupan yang buruk. Anak yang berada di dunia kerja, yang bahkan tak jarang menjadi “sapi perahan” dari keluarga atau jaringan kejahatan, anak-anak yang menjadi korban kekerasan, penelantaran, perbudakan, dan perdagangan manusia, serta berbagai kasus lainnya.

Di sisi lain, kita juga tidak mengelak adanya kemajuan-kemajuan yang telah berhasil diraih. Kebijakan Negara untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan yang terkandung di dalam KHA, misalnya dapat terlihat dengan disahkannya berbagai Peraturan-perundangan di tingkat nasional , propinsi, kota/Kabupaten hingga tingkat desa. Berbagai program untuk peningkatan kualitas hidup anak juga semakin banyak dilakukan oleh Negara dan berbagai organisasi masyarakat sipil.

Di Hari Anak Internasional yang sekaligus 25 tahun diadopsinya KHA, dapat menjadi titik refleksi untuk melihat sejauh mana upaya yang telah dilakukan, dan mengembangkan berbagai strategi yang efektif untuk mengembangkan program-program perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak.

Di berbagai wilayah, tentu ada organisasi-organisasi yang menjadikan peringatan 25 tahun KHA sebagai momentum untuk menyuarakan kepentingan anak-anak. Seperti yang dilakukan oleh Yayasan Setara Semarang dan Indonesia Against Child Trafficking yang merencanakan menggelelar acara “peringatan 25 Tahun KHA” dengan tema My Voice fo A better World (Suaraku Untuk Dunia yang Lebih Baik). Acara ini akan dilaksanakan pada tanggal 22-23 November 2014 di Semarang.

Acara yang didukung oleh ICCO-KIA, Terre des Hommes Netherlands, UNICEF, Dewan Kesenian Semarang, Plan Internasional Program Unit Rembang, dan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, akan menghadirkan anak-anak dari berbagai kelompok yang berasal dari Semarang, Klaten, Solo, Rembang, Yogyakarta dan Bali.

Mereka akan berkumpul, belajar dan bekerja bersama menghasilkan karya dan suara anak yang akan disampaikan kepada pejabat Negara. Direncanakan  ada berbagai workshop yang diikuti oleh anak-anak, karnaval, pameran karya anak dan dialog dengan Gubernur Jawa Tengah,” demikian dikatakan oleh Hening Budiyawati, pengurus Yayasan Setara.

Penulis: Odi Shalahuddin

Sumber: Kompasiana