Membaca Trauma Anak dari Gambar

Indonesia merupakan salah satu negara yang rutin mengalami bencana alam, mulai dari gempa bumi sampai banjir. Bencana alam tidak hanya menyebabkan banyak korban jiwa atau menimbulkan kerusakan, namun juga meninggalkan trauma yang luar biasa.
Masyarakat paska bencana alam biasanya akan lebih sensitif. Hal yang paling terlihat jelas adalah kepanikan yang berlebihan ketika ada sesuatu yang menjadi pertanda akan adanya bencana alam lagi.
Diantara para korban, sudah pasti ada anak-anak. Anak-anak juga mengalami trauma yang sama seperti orang dewasa, bahkan tingkat trauma bisa lebih parah. Penanganan trauma pada anak biasanya membutuhkan metode khusus sesuai dengan perkembangan kepribadian anak dan tingkat traumatisnya.

Pada bulan Februari 2017 lalu, terjadi banjir yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi kemudian jebolnya tanggul di sekitar pemukiman warga di salah satu perumahan di Kecamatan Meteseh. Yayasan Setara melakukan assessment pada masyarakat yang mengungsi.  Kurang lebih ada 15 anak di pengungsian, sebagian besar sudah bersekolah dengan rentang usia antara 5-11 tahun.
Yayasan Setara melakukan assessment terkait trauma yang dialami oleh anak-anak di pengungsian. Hasilnya, Yayasan Setara menemukan beberapa anak yang mengalami trauma; tidak mau kembali ke rumah, jadi tidak menyukai hujan, dan takut jika melihat sungai. Assessment dilakukan dengan berbagi cerita dan menggambar ‘lingkungan sekitar’.

Seorang anak menampilkan rumah yang dikelilingi oleh genangan air cokelat, ada juga anak lain yang menampilkan gambar nyaris serupa dengan titik-titik hujan di langit. Secara tidak langsung, gambar-gambar tersebut lebih berbicara jujur. Secara sadar ataupun tidak, anak mengalami trauma terhadap lingkungannya karena banjir yang terjadi walau hanya sebentar.
Penanganan trauma pada anak bisa dilakukan dengan banyak metode, namun Yayasan Setara memulai upaya trauma healing dengan menggunakan permainan sekaligus memberikan edukasi tangguh bencana.
Anak-anak biasanya mudah melupakan trauma melalui berbagai permainan olah fisik dan pancingan mengenai pemikiran-pemikiran sederhana. Metode bermain sambil bernyanyi dan menggambar sangat disukai. Pada interaksi selanjutnya, anak-anak secara tidak langsung mendapat dorongan pemulihan dari trauma pada lingkungan.