Jambore Anak Merdeka Semarang, Libatkan 250 Anak

Kota Semarang memang sudah tidak kumuh lagi, pembenahan sarana dan pra sarana oleh pemerintah semakin membuat Kota Semarang semakin apik. Tapi, bagaimana dengan sumber daya manusianya? Tentunya sudah tidak asing lagi dengan anak-anak penjaja koran di sebagian besar traffic light Kota Semarang. Tidak hanya itu, beberapa diantaranya juga ada yang menjual kue atau kerajinan tangan ala kadarnya, bahkan tidak jarang juga terlihat anak yang menjadi pengamen dan bekerja.

Tahukah bahwa hal tersebut merupakan eksploitasi ekonomi anak. Apa itu eksploitasi ekonomi anak? Eksploitasi ekonomi adalah tindakan dengan atau tanpa persetujuan anak yang menjadi korban yang meliputi tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan, pemanfaatan fisik, seksual, organ reproduksi, atau secara melawan hukum memindahkan atau mentransplantasi organ dan/atau jaringan tubuh atau memanfaatkan tenaga atau kemampuan anak oleh pihak lain untuk mendapatkan keuntungan materiil.

Pemerintah Kota Semarang telah melakukan beberapa upaya untuk pencegahan anak-anak di wilayah rentan turun ke jalan. Tidak hanya itu, langkah pencegahan juga dituangkan dalam Peraturan daerah Kota Semarang. Dalam Perda Nomor 5 tahun 2014 tentang Penanganan Anak Jalanan, Gelandangan, dan Pengemis di Kota Semarang, pasal 24 diatur larangan memberikan uang atau barang kepada anak jalanan, gelandangan, dan pengemis di jalan umum. Ancaman hukumannya bisa pidana kurungan selama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 1 juta.

Namun pada kenyataannya, masyarakat belum sepenuhnya memahami Perda tersebut. Masih banyak masyarakat yang memberi uang pada anak-anak yang turun ke jalan. Selain itu, di Kota Semarang juga masih ada beberapa titik yang menjadi tempat ‘strategis’ terjadinya praktik eksploitasi ekonomi. Dinas Sosial bekerja sama dengan Yayasan Setara dan Forpajas (Forum peduli anak jalanan kota Semarang) serta beberapa lembaga lain yang berkaitan dengan anak rentan turun ke jalan, mengambil langkah positif dengan menggelar acara Jambore Anak Merdeka bertemakan “Anak Hebat, Bebas Eksploitasi Ekonomi!”

Tujuan utama acara Jambore Anak Merdeka adalah untuk mencegah dan memberikan pendidikan pada anak rentan turun ke jalan mengenai resiko dan bahaya turun ke jalan agar mereka tidak menjadi korban eksploitasi ekonomi. Acara yang akan dilaksanakan di Puri Maerakaca pada 21 Mei 2017 melibatkan 250 anak.

Tidak hanya itu, anak-anak juga akan diperkenalkan pada resiko turun ke jalan, pencegahan kekerasan yang terjadi serta digali potensi dirinya untuk menyadari betapa pentingnya pencegahan turun ke jalan dan kemungkinan menjadi korban eksploitasi ekonomi.

 

 

BERMAIN SAMBIL BELAJAR

Sebanyak 250 anak rentan turun ke jalan dari berbagai wilayah di Kota Semarang yang mengikuti acara Jambore Anak Merdeka kemarin dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok anak usia di atas 12 tahun dan kelompok anak usia di bawah 12 tahun.

Anak usia dibawah 12 tahun (sebanyak 107 anak) diajak bermain di anjungan. Mereka melakukan body mapping, menggambar, dan menyusun puzzle untuk mengenali berbagai macam kekerasan.

Sementara, anak usia di atas 12 tahun (sebanyak 93 anak) harus berpetualang dari pos ke pos untuk menyelesaikan perjalanan. Pos-pos tersebut ditempatkan di beberapa anjungan yang ada Taman Puri Maerakaca.

Pos I terletak di Plasa Banyumas, 93 anak yang terbagi dalam 11 kelompok ini harus membuat yel-yel. Pos II di anjungan Kabupaten Brebes, anak diminta untuk menggambar situasi di jalan yang biasa mereka temui, dari hasil gambar tersebut, terlihat rata-rata mereka menggambar situasi di traffic light atau pasar. Pos III di anjungan Kota Pekalongan, disini anak untuk menuliskan kemampuan, cita-cita, dan upaya, hal ini diharapkan anak lebih mengenali potensi dirinya masing-masing dan dapat mengetahui cara untuk menggapai mimpi mereka masing-masing. Pos IV adalah di anjungan Kabupaten Magelang, mereka diminta untuk mengenali dampak, penyebab dan solusi jika turun ke jalan.

Terakhir, Pos V kembali lagi ke Plasa Banyumas. Disini semua anak menulis “Pesan Untuk Walikota” di kertas warna-warni kemudian ditempelkan di bentangan kain hitam. Apa saja pesan untuk Walikota Semarang? Banyak! Kebanyakan dari anak-anak ini mengeluhkan biaya sekolah dan keperluan sekolah mereka yang sangat kurang.

Acara Jambore Anak Merdeka ini ditutup dengan berfoto bersama. Dinas Sosial Kota Semarang sangat berharap acara ini bisa memberikan pelajaran dan kesan untuk anak-anak rentan yang hadir. Yayasan Setara yang menerjunkan 23 fasilitator dalam acara tersebut juga terus memegang komitmen untuk terus melakukan sosialisasi pencegahan terhadap anak-anak rentan dan juga wilayah tertentu agar anak tidak lagi menjadi korban eksploitasi ekonomi.