Sekolah Anggap Remeh Praktik Bullying

Sudah tidak asing lagi kan dengan kata bullying? Apa sebenarnya bullying? Ada yang mengatakan bahwa bullying adalah tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan cara kekerasan. Ada banyak jenis bullying. Bisa menyakiti dalam bentuk fisik, seperti memukul, mendorong, dan sebagainya. Dalam bentuk verbal adalah menghina, membentak, dan menggunakan kata-kata kasar.

Bullying paling sering terjadi pada usia sekolah. Namun, setiap tempat dimana terdapat manusia saling berinteraksi punya potensi terjadi bullying seperti di sekolah, keluarga, tempat kerja, rumah, atau lingkungan sekitarnya dan di era informasi global ini bullying juga dilakukan melalui internet.

Semakin hari, tindakan bullying semakin membuat ngilu dan miris, tidak perlu contoh kasus, sudah banyak kasus yang berseliweran bahkan ada yang berujung pada kematian korban, tidak jarang juga korban stress sampai memutuskan untuk bunuh diri.

Yayasan Setara bersama Unicef akan melaksanakan project anti bullying di beberapa sekolah. Maka, sebagai langkah awal, Yayasan Setara melakukan assessment ke beberapa sekolah yang direkomendasikan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Ada 8 SMP yang masuk dalam daftar Yayasan Setara. Assessment dilakukan ke 8 SMP tersebut dalam kurun waktu 5 hari.

Hasilnya, Yayasan Setara menemukan kasus bullying di beberapa sekolah. Bullying yang terjadi biasanya dalam bentuk verbal, tidak sampai ke fisik. Pihak sekolah pun telah melakukan langkah penyelesaian untuk korban maupun pelaku, sehingga pelaku tidak mengulangi perbuatannya tersebut. Pencegahan bullying di sekolah-sekolah yang Yayasan Setara kunjungi masih minim, hal ini dikarenakan bullying masih dianggap biasa. Bahkan kadang anak-anak sendiri tidak menyadari bahwa dirinya sedang melakukan bullying, semua yang dilakukan hanya dianggap guyon.

Walau demikian, menurut data KPAI  (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), sepanjang 2015 lalu angka pelajar yang melakukan tindakan bullying meningkat dibanding tahun sebelumnya. Apa saja sih hal yang dianggap sepele tapi termasuk bullying di sekolah?

  1. Tidak memperbolehkan adik kelas/siswa untuk melewati jalur tertentu atau nongkrong/jajan di suatu tempat.
  2. “Menertibkan” sendiri penampilan adik kelas. Seperti mendedel rok, memerintahkan ganti sepatu/baju, mencukur paksa rambut. Atau bisa juga dengan “menegur” adik kelas yang seragamnya tidak sesuai aturan, tapi dengan teriakan dan omongan kasar.
  3. Menyuruh adik kelas melakukan permintaan, seperti memesankan dan mengambilkan makan, mengembalikan buku, dan lainnya.
  4. Meminta jajan (memalak) dengan menggunakan kekuasaan.
  5. Mewajibkan pakai atribut tertentu, di luar atribut sekolah, membuat name tag yang ribet, menyuruh membawa barang/produk yang tidak terkait dengan belajar mengajar dalam rangka kegiatan ekstrakulikuler. Jangan lupa, masa pembekalan kini diatur oleh Menteri Pendidikan.
  6. Melakukan briefing ke adik kelas di luar sekolah, tanpa seizin sekolah.
  7. Menyuruh adik kelas melakukan tugas yang sifatnya konyol, tidak mendidik, dan bisa memepermalukan, sebagai bagian dari proses kegiatan ekstrakulikuler. Misalnya, merayu senior, bicara dengan tiang bendera, dan lain sebagainya.
  8. Berkata kasar, memberi hukuman fisik, serta sanksi yang tidak mendidik terhadap adik kelas. Push up 100 kali?
  9. Mencela, mempermalukan, memusuhi, serta mengucilkan siswa di sekolah. Termasuk memberikan nama julukan.

 

Hal-hal di atas mungkin dianggap sepele, namun itu dikategorikan sebagai tindakan bullying. Jika menemukan hal tersebut terjadi di sekolah, maka ada baiknya jika menasihati dan memberikan pengertian pada pelaku. Segala hal yang besar dimulai dari hal kecil. Bullying yang menyebabkan korbannya stress berkelanjutan pun bisa dimulai dari bullying yang dianggap sepele seperti di atas.