Suara Merdeka, 30 November 2002

MENJELANG magrib kemarin, depan Gedung Borobudur di kompleks Polda Jateng riuh. Sekitar 500 anak jalanan, termasuk pengamen dan tukang becak, datang untuk memenuhi undangan berbuka puasa dari PT Gazali Inti Internasional (GII), sebuah biro penyelenggara ibadah haji.

Di teras, kupon-kupon mulai dibagikan. Beberapa anggota ASA PKBI Semarang, Yayasan Setara, dan Gazali Production terlihat sibuk memanggil nama-nama, dan kemudian mengatur tempat duduk.

Jumlah anak-anak yang datang, beberapa di antaranya juga orang dewasa, memang cukup banyak. Dikoordinasi oleh ASA PKBI dan Yayasan Setara, sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai pengamen, penyemir sepatu, pengemis, dan tukang becak.

”Kami memang bekerja sama dengan LSM untuk mendatangkan mereka. Apalagi jumlah anak jalanan yang kami undang cukup banyak,” kata panitia Wahyurudhanto.

Di dalam gedung, suasana tak kalah riuh. Sebab, acara berbuka puasa itu tak hanya memberikan makan dan bingkisan, tapi juga menghadirkan pelawak Kirun, Gogon Srimulat, dan Sandirana.

Kirun pun tidak hanya ndhagel, tapi sekaligus memberikan siraman rohani kepada anak-anak jalanan.

”Kalian sebagai orang yang hidup di jalanan, jangan malu dan minder. Di mata Tuhan, kita semua sama. Tidak ada bedanya antara pengusaha, pengamen, dan penyemir sepatu,” kata pelawak yang pernah melambung lewat acara ”Depot Jamu Kirun” di salah satu stasiun TV swasta itu.

Karena itu, lanjut dia, anak jalanan juga berhak wajib melakukan ibadah puasa. Sebab, puasa itu mengajarkan manusia untuk menahan diri, sabar, dan bersyukur atas segala rezeki. ”Sedikit atau banyak rezeki yang kita peroleh, kita harus bersyukur. Sebab, hanya dengan cara itu menghargai pemberian orang lain. Termasuk undangan berbuka puasa kali ini.”

Sebelumnya, H Gozali selaku Dirut PT GII dalam pengantarnya mengungkapkan bahwa dirinya dulu juga anak jalanan. Hanya ketika itu dia tidak mengamen, tetapi menjadi fotografer jalanan. ”Tapi intinya ya sama dengan kalian. Bedanya, kalau kalian membawa gitar, saya membawa kamera,” tuturnya.

Menurut Gozali, saat menjadi fotografer jalanan, dia selalu dibayar lebih besar dari biaya rata-rata. Dia menceritakan, ketika itu biaya selembar foto Rp 25. Namun, karena dia selalu jujur, banyak orang yang menghargai foto-fotonya seharga Rp 200.

”Jadi, siapa pun kalian; pengamen, penyemir sepatu, tukang becak, harus jujur. Itu modal utama untuk dihargai orang lain.”

Setelah siraman rohani, giliran Gogon dan Sandirono naik panggung. Bisa ditebak, suasana makin meriah ketika tiga pelawak tersebut tampil bersama. Dagelan ala Srimulat membuat anak-anak jalanan terpingkal-pingkal.

Terlebih ketika Gogon berhasil menirukan suara raja dangdut Rhoma Irama. ”Asallamualaikum, saya akan menyanyikan lagu Judi,” ujar Gogon.

Mendengar kalimat itu, Kirun segera melarang. Sebab, judi itu perbuatan haram, sehingga tidak boleh dinyanyikan. Gogon kemudian menggantinya dengan lagu ”Begadang”, tapi tetap saja tidak boleh. Hal itu terjadi berkali-kali untuk lagu ”Gelandangan” dan ”Ani”. ”Ani tidak datang. Dia sedang arisan, jadi tidak boleh dinyanyikan.”

”Ya sudah, kalau begitu Soneta bubar,” sahut Gogon.(Ganug Nugroho Adi-60t)

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0211/30/nas7.htm