WAWASAN, 3 November 1996, Halaman III

Lepas dari keberadaannya sebagai anak jalanan, dalam arti anak yang sudah harus hidup mandiri dan menjadi pekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pada galibnya mereka tetap anak-anak. Artinya, selain butuh simpati dan perhatian mereka juga memerlukan pertolongan dari orang dewasa ataupun orang tua. Sayangnya, meski ini cenderung tidak diakui, apa yang semestinya mereka peroleh dan bahkan menjadi kebutuhan mendasar justru merupakan realitas yang selalu gagal untuk bisa didapat. Pendek kata, anak jalanan lebih harus mengurus diri sendiri ketimbang mendamba uluran tangan fihak lain. Termasuk dari orangtua mereka masing-masing, yang nota bene menjadi penyebab utama terpenting yang menghela mereka turun ke jalan. Demi sesuap nasi.

Nurjanah, Yahmo, Yoyon, Gunadi, Sriati, Endang Tri, Suwage, Harjanto, Machmud, Tohirin, Untung Sukaedi dan puluhan anak-anak jalanan di Semarang dengan rentang usia antara 7 hingga 15 tahun, hanya menemu kenyataan pahit tiap kali mengangankan sebuah kehangatan kasih sayang sejati orangtua kandung masing-masing. Bukan saja bahwa mereka tidak terurus secara jasmani ataupun rohani, malah mereka justru harus terlibat dalam “neraka” yang melibas mereka. Neraka itu, dengan atau tanpa tanda petik, menemukan perwujudannya dalam kemiskinan yang nyaris tak tertanggungkan.

Yahmo misalnya, sudah tiga tahun terpaksa menggelandang kabur kanginan sebagai penyemir sepatu. Sedangkan Nurjanah menghabiskan waktu selama tujuh tahun di jalanan, sama dengan yang dilakukan Yoyon dan Gunadi ataupun Endang Tri dan Suwage. Demi apa? “Nggolek duwit” ujarnya pendek. Agaknya apa yang mereka yakini sebagai nggolek duwit atau mencari uang itu adalah segala-galanya. Apa boleh buat, kalau tidak begitu makan pun jangan harap bisa sekali sehari. Tentu, apa lagi perkara sekolah. “Aduuuh…, itu hanya sesuatu yang dulu pernah mereka tempuh. “Tapi tidak sampai kelas empat es-de,” ujar Endang Tri berterus terang. “Saya sempat lulus es-de,” kata Yoyon menyahut. Ada nada bangga pada pernyataannya yang diucap tegas itu. “Kalau saya njebol di kelas dua es-em-pe,” ungkap Gunadi. Lirih.

Rata-rata taraf pendidikan anak-anak jalanan di Semarang memang sangat memprihatinkan. Sebagian besar tidak lulus SD. Penyebabnya bisa langsung ditebak, yakni ketiadaan biaya untuk bersekolah. “Jangankan untuk sekolah, buat makan sehari-hari saja …..”ujar Nurjanah tidak meneruskan ucapannya dan malah berteriak memanggil beberapa rekannya, “Hei! Rene…! Rene …! Iki diwawancarai…! Rene…! (Hei! Kesini…! Kesini…! Ini diwawancarai…! Kesini…!)”.

Anak-anak jalanan di Semarang umumnya bekerja mandiri, dalam arti tidak bergabung atau tergantung dalam kelompok. Kendati demikian, sebagai sesama anak jalanan, mereka memiliki solidaritas atau kesetiakawanan yang kuat. “Pendeknya yang kuat melindungi yang lemah,” ujar Warsono. “Kalau tidak kompak bisa jadi sasaran macam-macam,” katanya.

Sasaran macam-macam yang dimaksud Warsono, antara lain adalah tindak kekerasan fisik ataupun mental. Termasuk pemerasan dan kemungkinan penganiayaan, atau sekurang-kurangnya pelecehan, secara seksual. Soal yang terakhir ini, menurut Endang Tri, memang merupakan masalah serius yang paling menakutkan bagi kalangan anak perempuan. Lain soal kalau anak yang bersangkutan, masih menurut Endang Tri, memang sekaligus nyambi melacur. “Ya ada yang begitu, tapi jumlahnya berapa saya tidak tahu,” katanya.

Pada anak jalanan ini umumnya memiliki orangtua lengkap, artinya ada ayah dan ada pula ibu. Malah tidak sedikit di antara mereka yang datang dari keluarga besar. Dengan demikian, mestinya ….. kalau mau mereka bisa saja tidak harus hidup menggelandang dengan rutin pulang ke rumah tiap kali lepas dari jam ngamen atau pun nyemir. “Untuk apa pulang? Paling kalau tidak bawa uang atau bawa tapi cuma sedikit malah dipisuhi, ujar Yoyon yang memilih tidur di sebuah masjid di kawasan Jrakah daripada pulang ke rumah orangtuanya di Gisik Drono Semarang Barat. “Lha kalau hanya dimaki-maki itu masih lumayan,” sahut Gunadi. “Kalau saya bisa-bisa malah dipenthungi,” katanya menambahkan.

Kemiskinan keluarga dan suasana serta situasi rata-rata keseharian di rumah yang berdarah-darah, penuh tindak kekerasan fisik maupun mental, memang lalu menguatkan anak-anak jalanan untuk memilih betul-betul berumah di jalanan. Selain dianggap relatif lebih aman dibanding jika berada di rumah, mereka juga merasa lebih bergembira. “Setiap hari dapat kumpul teman-teman,” ujar Sriati yang mengaku takut dengan ayah tirinya lantaran pernah nyaris dicabuli, padahal usianya belum genap lima belas tahun.

Meski lebih senang di jalanan, sebagaimana umumnya pengakuan mereka, bukan berarti bahwa jalanan tidak menyimpan masalah atau bahkan ancaman bagi keberadaan mereka. Gangguan itu, apapun namanya, datang dari sesama anak jalanan yang berusia lebih tua. Di luar itu apa yang mereka sebut sebagai lingkungan pasar, tempat di mana mereka biasa tidur, juga sering tidak aman. “Tetapi hendak ke mana lagi? Tidur di hotel? Wow!” ujar Nurjanah.

Sebagai pelaku ekonomi di sektor nonformal pada tingkat paling bawah, pendapatan mereka sebenarnya terbilang lebih dari lumayan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Meski sesekali dari hasil ngamen ataupun nyemir dan kerja lain hanya dapat 3.000-an rupiah, tetapi lebih sering dapat meraup sampai 10.000-an rupiah. Dengan uang sebesar itu, taruhlah antara 3 ribu rupiah hingga 10 ribu rupiah setiap hari jika kerja, mestinya mereka cukup dapat menyisihkan sebagian untuk ditabung. Tetapi, dengarlah penyataan Sriati. “Untuk apa menabung? Dapat sekarang, habisnya ya sekarang!” Lalu bagaimana dengan besok? “Ya begini lagi, habis mau apa? Pokoknya yang penting happy,” kata Sriati lugas.

Soal dapat sekarang habis sekarang ini, menurut amatan penulis, memang merupakan pola perilaku khas yang terlanjur menyehari-hari bagi pada umumnya anak jalanan. Kendati demikian, toh ada juga yang gemi  dan memiliki disiplin menyimpan uang, atau sekurang-kurangnya berhemat. Untung Sukaedi misalnya, asal Demak, seminggunya bisa menyimpan sampai 35.000 rupiah. Untuk apa uang itu? “Diserahkan ibu,” katanya. “Untuk tambel butuh,” ujarnya pendek.

Untung Sukaedi memang termasuk masih beruntung. Ia mengaku kapan saja bisa pulang, kalau mau, tanpa harus menghadapi masalah ruwet di rumah. Tetapi, sebagai upaya menghemat biaya transportasi, Untung memilih pulang tiap satu minggu sekali. “Ketimbang buat ngebis setiap hari lebih baik uangnya dikasihkan ibu, biar buat jajan adik-adik,” katanya ringan.

Jumlah anak jalanan di Semarang yang penulis perkirakan mencapai 200 orang, memang termasuk besar. Sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang menyerupai semacam sisi gelap atau bahkan rereged Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah ini. Tetapi, apapun anggapan yang muncul tetap harus diakui bahwa mereka adalah sosok yang tegar dalam situasi mereka yang tidak menguntungkan. Dan, di atas segala-galanya, mereka adalah juga Manusia dengan M besar. Sama dengan kesemua kita yang untuk saat ini berada dalam situasi yang lebih menguntungkan dibanding mereka….. Jadi? Fahami dan perlakukan mereka juga sebagai sesama manusia! (Timur Sinar Suprabana-Mr).