RADAR SEMARANG, Jumat, 14 Maret 2003

Rela Kepanasan dan Dikasari Para Preman Jalanan

Pengalaman lebih sulit dirasakan para aktivis yang melakukan pendampingan terhadap anak perempuan jalanan yang menjadi korban kekerasan seksual. Bahkan jauh lebih sulit dibandingkan korban yang tergolong sudah dewasa. Mengapa?

“Anak jalanan yang mengalami kekerasan seksual, biasanya langsung berubah menjadi pendiam, pemurung, dan sangat emosional. Tapi mereka lebih suka lari dari masalah, bahkan hanya menumpahkan kekesalan dan ketakutannya di jalan secara terus menerus dan tidak mau pulang. Sehingga tidak mudah untuk diajak bicara,” kata Ketut Puji Rahmanto asal Jakarta yang setahun ini melakukan pendampingan terhadap anak jalanan dibawah naungan Yayasan Setara Semarang.

Untuk mengajak bicara saja, kata Ketut, membutuhkan waktu yang lama. Pendekatan tidak bisa dilakukan secara langsung, tapi harus melalui proses yang tidak menyinggungnya. “Untuk mengajak bicara anak itu harus hati-hati. Kadang, maksud kita mengajak ngobrol, tapi jadinya si anak yang salah tangkap dengan ucapan kita. Mereka pun kembali murung dan menolak untuk diajak bicara,” terang Ketut yang melakukan pendampingan anak jalanan di 5 kawasan, diantaranya Simpanglima, Johar, Tugu Muda, Metro, Peterongan dan Siranda.

Mahasiswa semester 10 Fisip Undip ini mengaku, untuk bisa membaur dengan mereka, dirinya harus rela kepanasan, kehujanan, terkena polusi udara bahkan dikasari para preman yang merasa terganggu eksistensinya. “Kadang memang harus memahami duniamereka secara detil. Sehingga bisa memahami apa yang dialami mereka dan dirasakan mereka,” terangnya.

Setelah jalanan itu bisa menerima kehadiran para aktivis pendamping, kata Ketut, baru bisa diajak ngobrol. Terutama bagi anak yang mengalami kekerasan seksual, sisi emosionalnya menjadi tertekan, sehingga harus ekstra hati-hati. “Biasanya kita mengumpulkan semua temannya. Melakukan diskusi dan bercerita bersama-sama. Intinya kita memberikan dukungan psikologis,” ujarnya.

Dari sekian anak jalanan, ada yang memiliki keluarga. Di antara mereka bahkan ada yang dipaksa oleh ayahnya untuk membiayai hidupnya sendiri, sekolahnya, sering dipukuli, bahkan hasil kerjanya juga diminta paksa.

“Biasanya kebencian mereka terhadap orang tuanya sangat memuncak. Dan benci dipukuli dan merasa menjadi orang terbuang. Maka justru mereka menganggap komunitasnya itu sebagai teman,” paparnya.

Tapi kalau sudah mengalami kekerasan seksual, ada yang mengalami shock berat. Upaya yang harus dilakukan sementara adalah menjauhkannya sementara dari komunitas pelakunya.

Tapi ternyata hal itu dirasakan sulit. Alasannya, si anak tidak terbiasa berdiam diri di dalam sebuah rumah, sehingga membutuhkan kegiatan untuk mengalihkan kegiatan mereka dengan menyibukkan mereka dengan berbagai pembuatan kerajinan. “Kadang melelahkan, tapi ketika sudah masuk ke dalam, sangat mengasyikkan. Kita bisa interospeksi terhadap diri sendiri,” tandasnya.

Demikian pula dengan pengalaman Ketua Yayasan Perisai yang konsern terhadap permasalahan anak, Fatah Muria. Untuk mendekati anak, kata dia, membutuhkan proteksi khusus. “Mereka butuh dukungan psikologis, perlu pemulihan. Itu membutuhkan konsentrasi dan intensitas pendampingan yang tinggi pula. Krisis ekonomi seperti sekarang ini, anak jalanan sangat rentan mengalami eksploitasi. Tapi hukum perlindungan anak di Indonesia sangat lemah, sehingga tingat eksploitasi sangat tinggi dan anak jalanan bertambah banyak,” ungkapnya.

Ova –panggilan akrab Fatah Muria- menilai KUHP tak berpihak pada korban. Setiap kali ada kekerasan seksual, pelakunya hanya mendapatkan hukuman ringan. Kalau anak-anak pelakunya, belum ada tempat rehabilitasi yang bisa diandalkan untuk mengembalikan anak pada kehidupan normal. Sehingga tak jarang, mereka yang didampingi lebih suka kembali ke jalanan. Meski banyak juga yang kembali pada kehidupan normal. (ida)