Ellen-Wayang Boneka

Suara Merdeka, Sabtu, 21 Agustus 2004

SEMARANG- “Tu m’pretes ton Ombre?” (Bolehkah meminjam bayangmu?), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkedudukan di Prancis, singgah di Gunung Brintik, Kelurahan Randusari.

Bersama Yayasan Setara, organisasi nonprofit tersebut memfasilitasi kegiatan pembelajaran anak jalanan melalui pementasan teater boneka.

Shadow pupphet workshop with childrenMenurut koordinator pengurus harian Yayasan Setara, Hening Budiyawati, workshop belajar dan bermain bersama teater boneka itu merupakan salah satu rangkaian tur keliling “Tu m’pretes ton embre?” ke lima negara di Asia dan Amerika.

“Selain Indonesia, “Tu m’pretes ton embre?” mengadakan workshop serupa di Tahiti, Peru, Bolivia, Chili, dan Argentina,” jelasnya, Rabu (18/8).

Selain singgah di Kota Semarang, “Tu m’pretes ton Ombre”, juga akan singgah di Klaten dan Yogyakarta. Khusus di Gunung Brintik, kegiatan tersebut dilaksanakan Rabu-Sabtu (18-21/8), mulai pukul 15.00-17.30 di RT 6 RW III Kelurahan Randusari. Peserta yang diundang, menurut Hening, adalah anak-anak jalanan dan anak kampung sekitar Gunung Brintik.

“Pada hari terakhir, anak-anak akan menyusun skenario cerita dan mementaskannya dalam bentuk teater boneka,”ungkap Hening. Boneka tersebut, dibuat dari bahan-bahan yang ditemukan di sekitar rumah anak jalanan seperti kardus, dan botol plastik.

Shadow pupphet workshop in Gunung Brintik (August 2004)Menurut Helene Dargent, fasilitator “Tu m’pretes ton Ombre?”, melalui teater boneka anak jalanan dapat mendiskusikan masalah sehari-hari dan menjadikannya sebuah cerita yang dapat dipentaskan.

“Teater boneka menjadi media bagi anak-anak untuk mengembangkan imajinasi dan mengekspresikan diri,” timpal Yann Roger, fasilitator lain.

Lebih lanjut Hening mengatakan sejak tahun 1997 Gunung Brintik yang terletak di belakang RS Dr Kariadi dikenal sebagai salah satu pusat asal anak jalanan.

Selain faktor ekonomi, kondisi geografis Gunung Brintik yang dekat dengan jalan raya mendorong anak-anak Gunung Brintik turun ke jalan-jalan protokol Kota Semarang.

Sebelum workshop untuk anak-anak, kegiatan serupa juga dilaksanakan untuk para orang tua. (nik-84)

Sumber:  http://suaramerdeka.com/harian/0408/21/kot22.htm