Aksi anak jalanan bersama FPPHAN ke DPRD Kodya Semarang, 23 Juli 1998 (Dok. Setara)

Aksi anak jalanan bersama FPPHAN ke DPRD Kodya Semarang, 23 Juli 1998 (Dok. Setara)

KEDAULATAN RAKYAT, 24 Juli 1998, Halaman 3

SEMARANG (KR) – Merasa sering dikejar-kejar aparat dan diperlakukan secara tidak manusiawi, ratusan anak jalanan Kodya Semarang, Kamis (23/7) mendatangi gedung DPRD Kodya Semarang untuk menyampaikan aspirasi. Sambil berteriak-teriak menuntut diperlakukan sama dengan masyarakat lain, mereka juga membawa puluhan kardus bertuliskan berbagai tuntutan. Juga barang barang sampah lain yang bisa dijadikan sebagai poster maupun spanduk.

Dari segi pakaian juga nama ciri khas mereka sebagai anak jalanan, yaitu baju lusuh, celana yang sudah pada sobek, muka kusut dan hitam tanda sering terkena sinar matahari. Bagi masyarakat yang menyaksikan kedatangan anak jalanan di DPRD Kodya Semarang ini mengatakan rasa belas kasihan.

Beberapa anak jalanan kepada KR mengatakan sering mendapat kesulitan akibat ulah aparat yang dinilai tidak mengenal belas kasihan. Bahkan mereka juga mengaku sering diperlakukan seperti budak oleh aparat dengan alasan yang tidak jelas.

“Kami sering ditangkap polisi, di kantor polisi kami sering disuruh membersihkan lantai, mobil, kamar kecil dan pekerjaan lain yang sangat tidak mengenakkan. Kelihatannya pak polisi menganggap kami sering melakukan tindak kejahatan. Padahal kami sebenarnya anti kejahatan,” ujar Wahyu, salah satu anggota Anak jalanan Semarang.

Meski sebagai anak jalanan, tenyata keberadaan mereka juga sering membikin para pejabat geleng kepala. Pasalnya, berbagai puisi dan lagu-lagu ciptaan anak jalanan yang dipamerkan pada waktu demo juga cukup pedas. Bahkan seorang anggota dewan mengatakan syair-syair ciptaan anak jalanan ternyata tidak kalah dengan syair lagu ciptaan penyanyi kondang Iwan Fals.

Ratusan anak jalanan tersebut di DPRD Kodya Semarang diterima langsung Ketua Komisi KH Haris Shodaqoh dan beberapa anggotanya. Kepada anggota dewan perwakilan anak jalanan minta agar wakil rakyat memberikan perhatian penuh kepada nasib anak-anak jalanan yang oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai sampah kota.

KH Haris Shodaqoh usai mengadakan dialog dengan para anak jalanan mengatakan akan mencari solusi tepat, untuk menangani masalah anak jalanan yang jumlahnya semakin hari semakin banyak. Pada masa krisis sekarang ini Kodya Semarang memang kebanjiran anak jalanan. Hampir di semua sudut kota terdapat puluhan anak jalanan, ucap Haris Shodaqoh (Bdi/Cry)-d