Suara Merdeka, 14 Juni 2004

LIMA pengamen jalanan berdiri di balkon Gedung Thomas Aquinas Unika Soegijapranata, Jumat (11/6). Sore itu, balkon berdinding kaca yang biasanya lengang tiba-tiba menjadi pusat perhatian puluhan mahasiswa yang duduk-duduk di gazebo dan lapangan basket di sekitar gedung.

Berbeda dari penampilan beberapa kelompok mahasiswa yang melengkapi iringan musiknya dengan petikan gitar melodi dan gebukan drum, Um, Dar, Dik, Sal, dan Sol hanya memainkan kentrung, gitar akustik, harmonika, dan sejumlah perkusi. Penampilan mereka juga tak beranjak dari anak jalanan pada umumnya, kaus lusuh, celana belel, dan tanpa alas kaki.

Berkesan seadanya memang, namun tak mengurangi kebersahajaan lagu-lagu jalanan yang mereka bawakan.

Lengkingan harmonika yang dimainkan Sol, ditimpali bunyi kentrung Dar mengiringi syair yang dilantunkan Um. Vokal Um terdengar samar-samar melantunkan lagu kerinduan kepada seorang ibu. ”Um dahulu korban perdagangan anak, tetapi dapat diselamatkan. Kini dia belajar hidup normal bersama keluarganya,” ungkap Sari, pendamping anak jalanan dari Yayasan Setara Semarang.

Bagi remaja berusia 13-15 tahun itu, boleh jadi tak ada yang istimewa dari Parade Musik Anak Jalanan yang diselenggarakan BEM Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata kali ini. Kecuali sekadar menunjukkan beberapa lagu ciptaan mereka dengan iringan alat musik seadanya.

Tak Pernah Kursus 

Bermain musik adalah salah satu cara mengais rezeki. Meski demikian, mereka mengaku tidak pernah kursus atau meluangkan waktu khusus untuk belajar main gitar, harmonika, atau kentrung. ”Awalnya sih coba-coba saja, alat musiknya juga dipinjami teman,” lanjut Kin.

Kehidupan jalanan seolah menjadi kawah tempat mereka ditempa menjadi pemusik jalanan. Sesekali, ide-ide kreatif muncul di antara kerasnya kehidupan mereka. Beberapa lagu yang acap dibawakan para pengamen menjadi bukti, anak jalanan juga mampu berkarya.

”Lagu berjudul ‘Ibu’ sesungguhnya penghormatan kepada Bu Prapto, seorang ibu yang bersedia menyediakan perlindungan bagi anak-anak jalanan,” ungkap Sari.

Sari kemudian bercerita, Bu Prapto yang tinggal di Kampung Gunung Brintik dekat Bergota, mengabdikan diri untuk melindungi anak jalanan. ”Pada tahun 1998, Bu Prapto menyediakan rumahnya yang tak begitu besar untuk menampung dan merawat anak-anak yang terancam diperdagangkan,” tuturnya.

Sebagai ungkapan terima kasih dan penghormatan, anak-anak yang pernah mendapat kasih sayang dari Bu Prapto mengabadikannya dalam sebuah lagu. Karya itulah yang dilantunkan anak-anak, tak hanya di panggung tetapi juga di bus kota, perempatan jalan, dan pasar-pasar. (ninik d-64k)