Video Porno Andil Besar (Radar Semarang, 2011)

Radar Semarang, Sabtu, 12 Februari 2011

PERILAKU seks bebas di kalangan anak jalanan dinilai hanya bagian dari perilaku seks yang terjadi pada kebanyakan remaja. Bahkan, menurut staf lapangan Yayasan Setara, Yuli Sulistiyanto, jumlah remaja yang melakukan itu jauh lebih banyak.

“Sekarang kita lihat saja di warnet. Saya amati sendiri kalau sekali mungkin belum digeneralisasi, tapi ini lebih dari tiga kali. Dan, polanya sama,” katanya.

Yuli tidak menyangkal perbuatan seks antar sesama anjal masih kerap terjadi. Menurutnya, video porno punya andil besar mendorong mereka melakukan hal itu.

“Sekarang lihat gambar kayak gitu sudah mudah sekali. Tinggal ke warnet saja. Kalau nggak mau lama download, biasanya di dokumen sudah tersedia,” katanya.

Namun, menurut staf lapangan Yayasan Setara yang lain, Tri Putranti Novitasari, lingkungan juga sangat berpengaruh. Ia mencontohkan, anjal di daerah Johar umumnya melihat orang tua mereka tidur bersama. “Mereka kan tidur di pinggir-pinggir toko, tanpa sekat, jadi anaknya lihat,” kata Novi.

Menurutnya, karena itulah kasus eksploitasi seks terhadap anak jalan terus terjadi. Pada 2007, misalnya di Tugu Muda ada remaja putri yang “dikerjai” ramai-ramai.

“Cewek ini istilahnya di Pangris atau jepang baris,” lanjut Novi. Akhir 2010 lalu, Yayasan Setara juga sedang melakukan pendampingan pada anak yang terlibat pornografi dan eksploitasi anak. “Tapi kalau kasus yang ini terjadi di Kendal dan Demak,” katanya.

Novi mengakui, sebagian dari kasus eksploitasi anak justru melibatkan orang tua. Ada anak di bawah umur yang dikirim ke prostitusi, padahal orang tuanya tahu. “Orang tuanya tahu bahwa anaknya akan dipekerjakan seperti itu, tapi dia malah tidak kasih tahu anaknya,” kata Novi.

Sediakan Rumah Singgah

Yayasan Setara termasuk LSM intensif melakukan pendampingan terhadap anak jalanan. Sejak berdiri pada 1999, ada 10 kelompok anjal yang didampingi. Lima kelompok dari jalanan, lima lainnya dari perkampungan.

Menurut Yuli, anak jalanan yang kini ada di Semarang umumnya berasal dari perkampungan sekitar. Kelompok Siranda, misalnya, sebagian dari kampung sekitar. Pun kelompok Johar, Tugu Muda, dan Kalibanteng. “Beda dengan dulu. Pada 1999, hampir sebagian besar dari luar kota.”

Karena itulah, saat itu Yayasan Setara pernah mendirikan semacam rumah singgah. Namun rumah singgah hanya difungsikan sebagai laboratorium.

Menurutnya jika anak jalanan tinggal di tempat itu selamanya, justru menimbulkan pelanggaran baru terhadap anak. “Terutama tentang hak pengasuhan,”  lanjutnya.

Menyadari sebagian anjal berasal dari perkampungan sekitar, Yayasan Setara pernah membuat forum dengan orang tua. Namun, dari lima forum yang pernah terbentuk, saat ini hanya tinggal satu yang aktif. “Awal-awal aktif, tapi lama kelamaan bubar. Karena ada masalah ini itu.”

Menurut Yuli, treatment pemerintah terhadap anak jalanan harus diubah. Jika selama ini pemerintah menjadikan anjal sebagai objek, harus diubah supaya menjadi subjek.

“Karena nanti sulit sekali membina mereka kalau tidak ada inisiatif dari bawah,” katanya. Ia mencontohkan berapa kali pelatihan diberikan kepada anjal, jarang sekali yang berhasil. “Ada yang dibekali modal, alat perbengkelan misalnya, malah dijual. (rahmat.petuguran/isk).

Tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>