Wak Yok, Penggubah Lagu Di Simpang Jalan (Suara Merdeka, 2011)

SUARA MERDEKA, Minggu, 18 September 2011, Halaman 3

ADA pemandangan yang berbeda soal anak jalanan sekarang dan dulu, setidaknya akhir tahun 1990-an. Yoyok mengemukakan hal itu, beberapa waktu lalu, di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jalan Sriwijaya 29 Semarang.

Dia menuturkan, dulu tak ada anak jalanan menjadi pengemis. Hampir semua menjadi pengamen. Namun sekarang berbeda. Kini, sebagian besar anak jalanan justru menjadi pengemis.

“Saya masih ingat, dulu apabila ada salah satu di antara kami mengemis, dia akan dinyek atau diolok-olok. Hampir seluruh anak jalanan waktu itu pengamen. Tak hanya di persimpangan jalan, kami juga mengamen di atas bus kota,” kata dia.

Mengingat lagu-lagu campursari belum populer saat itu, ujar dia, lagu-lagu yang sering mereka bawakan adalah karya Iwan Fals, Rhoma Irama, atau lagu yang sedang naik daun. Selain itu, mereka juga membuat lagu karya sendiri yang berkisah tentang kehidupan mereka. Yoyok oleh banyak orang dikenal sebagai salah satu penggubah beberapa lagu tersebut, meski dia sendiri tak mengakuinya.

“Lagu itu lebih tepat disebut kami cipta bersama. Sebab, prosesnya memang bersama-sama. Ada teman yang menyumbangkan teks, ada yang membuat aransemen secara sederhana. Saya tak lebih dari mereka,” ujarnya.

Yoyok bercerita lagu-lagu itu biasanya tercipta saat mereka kumpul-kumpul. Pada saat itulah setiap anak biasanya punya cerita yang kemudian dikisahkan kepada rekan yang lain. Kemudian, ada yang menyusunya menjadi lirik yang disesuaikan dengan nada-nada. Beberapa saat kemudian, terciptalah sebuah lagu.

Tentu saja sebagian besar berupa protes, baik terhadap aparat pemerintah, sistem, maupun bahkan nasib mereka. Beberapa lagu itu antara lain “Kabar dari Tole”, “Satu Rasa”, dan “Anak Jalanan”.

Cepat Menyebar

Lagu-lagu hasil ciptaan bersama itu biasanya cepat menyebar, sehingga kemudian menjadi semacam lagu wajib bagi para pengamen. Dia mengenang, pernah pada suatu saat ada lagu baru yang berasal dari Yogyakarta. Hanya dalam waktu beberapa jam, lagu tersebut telah menyebar ke seluruh bagian di Kota Semarang. Mobilitas pengamen yang tinggi pada waktu itu menjadi salah satu penyebab lagu itu cepat tersebar.

Apakah ada perbedaan antara lagu anak jalanan sekarang dan dulu?

“Memang sedikit-banyak ada. Dulu, lagu-lagu kami bisa dikatakan sebagai lagu protes. Sekarang, saya dan beberapa rekan yang masih membuat lagu beralih ke tema yang lebih kontemplatif. selain itu, tak jarang juga muncul lagu yang berkisah tentang alam,” sahut Yoyok, yang pernah menjadi pemulung untuk membayar cicilan pembelian gitar pertama pada tahun 1996.

Yoyok menegaskan lagu masih merupakan media yang tepat sebagai bentuk protes. Dan, lewat lagu-lagu itulah dia berbagi mimpi: suatu hari seluruh anak Indonesia bisa hidup nyaman di negeri sendiri. (Adhitia Armitrianto-51).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *