Wak Yok, Sang Penjelajah Berbagi Mimpi (Suara Merdeka, 2011)

SUARA MERDEKA, Minggu, 18 September 2011, Halaman 3

Oleh : Adhitia Armitrianto

KAUS dan celana panjang jins hampir selalu melekat di tubuhnya. Sesekali dia juga memakai topi. Meski sudah puluhan tahun hidup di Pulau Jawa, aksen dan gaya bicaranya tidak bisa menutupi kenyataan bahwa dia berasal dari tanah seberang.

Ya, Catur Adi Laksono memang lahir di Tanjungkarang, Lampung, 42 tahun lalu. Namun hidupnya tak berhenti di sana. Pria yang kemudian lebih akrab dipanggil Yoyok ini bak penjelajah. Dia menghabiskan masa muda untuk berkelana dari satu daerah ke daerah lain. Hingga sekitar tahun 1996, dia tiba di Kota Semarang. Dan, di kota inilah pengembaraannya bermuara.

Stasiun Poncol dengan segala hiruk pikuknya menjadi lingkungan pertama yang dia jamah. Di kawasan itulah dia berkenalan dengan anak-anak jalanan. Mereka, sama seperti dia, berumah bumi beratap langit. Sebagian di antara mereka, menurut penuturan Yoyok, juga pendatang yang tiba di Semarang dengan menumpang kereta api.

“Waktu itu, dalam pikiran saya hanya ada tekad untuk hidup menggelandang. Beberapa kota saya singgahi, sebelum akhirnya tiba di Semarang,” ujar Yoyok.

Sebelumnya, dia memang telah mencoba peruntungan hidup di Surabaya, Jakarta, Brebes dan beberapa kota lain. Di Semarang, dalam waktu singkat dia bisa berkawan dengan banyak anak jalanan sekaligus menyelami hidup mereka. Yoyok pun jadi mengetahui bahwa sebagian besar di antara mereka harus keluar dari rumah karena tekanan. Sebagian karena tekanan ekonomi, sebagian lagi karena unsur kekerasan. Sedikit yang memilih jalan hidup itu karena kesadaran pribadi.

“Tekanan di rumah membuat mereka merasa tak nyaman. Mereka tak bisa memiliki kebebasan, sehingga memilih keluar rumah saja. sering kali pilihan itu hanya satu-satunya yang ada, sehingga  mereka terpaksa menjalani hidup di jalanan,” katanya.

Kesadaran untuk memedulikan mereka makin kuat setelah dia bertemu Winarsho, salah seorang aktivis sosial. Winarsholah yang menyediakan rumah singgah bagi anak-anak jalanan waktu itu, sehingga mereka bisa sering kali berkumpul. Dari pertemuan-pertemuan itulah kemudian mereka sering berbagi cerita dan pengalaman selama mengarungi hidup di jalanan.

Yoyok menuturkan situasi pada akhir masa pemerintahan Orde Baru itu berbeda dari sekarang. Dulu, masih sering terjadi tindakan semena-mena terhadap anak jalanan. Mereka dinilai pengganggu yang harus dibersihkan dari pemandangan dan lanskap kota.

“Bahkan lagu-lagu yang sering kami bawakan saat mengamen juga diawasi. Pernah suatu ketika, salah seorang rekan diinterogasi oleh aparat kepolisian hanya karena dia menyanyikan lagu yang berisi kritik sosial. Aparat kepolisian itu lantas meminta dia menyanyikan lagu-lagu yang populer saja,” kenang dia sambil terkekeh. 

Lewat Musik

Setahun bergulat di Kota Semarang, Yoyok pun hijrah ke Yogyakarta untuk beberapa bulan. Di sana, dia berkumpul dengan para aktivis dari Sanggar Kanigoro yang kelak membentuk Serikat Pengamen Indonesia (SPI). Di kota itulah, Yoyok merasa pemahamannya tentang problematika anak jalanan bertambah dan terus bertambah.

“Terus terang setelah bertemu beberapa rekan di Yogyakarta, pikiran saya jadi lebih terbuka. Saya jadi mengerti bahwa persoalan anak jalanan tak hanya menyangkut masalah domestik, tetapi juga persoalan negara. Negara memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi mereka,” tegas dia.

Kembali ke Semarang, dia memilih aktif dalam Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS). Namun mengingat usia yang terus bertambah, dia dan beberapa rekan pun kemudian bertanya-tanya,”Setelah tak lagi bisa dianggap anak, di mana kami berumah selanjutnya?”

Untuk menjawab persoalan itu, dia dan beberapa “mantan” anak jalanan sepakat membentuk semacam organisasi. Mereka menamakan semacam organisasi itu Trotoari. Paguyuban itu mereka dirikan pada tahun 1999 dan langsung menarik perhatian kaerna mereka bergerak menggunakan jalur musik.

Menurut penuturan Yoyok, saat itu dia mengerti bahwa kelebihan mereka adalah di dunia musik. Karena itulah, dia dan rekan-rekan sepakat berjuang dengan media itu. Kiprah Yoyok bersama Trotoari membuatnya hingga kini lebih dikenal dengan sapaan Yoyok Trotoari ketimbang nama lengkapnya sendiri.

Tunggu Peraturan

Sekarang, Wak Yok – begitulah sapaan lain dari beberapa kawan lain juga – aktif pula di Yayasan Setara. Itulah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang aktif mendampingi anak-anak jalanan. Karena itu pula ada yang memanggil dia Yoyok Setara.

Dan, Yoyok mengungkapkan anak jalanan sekarang memiliki persoalan yang berbeda dari dulu, meski perlakuan negara terhadap mereka masih terhitung sama. Walau sudah ada undang-undang perlindungan terhadap anak, kenyataannya kini anak jalanan masih cukup banyak.

“Memang ada yang telah menjadi yatim-piatu sekaligus tunawisma. Mereka tak punya rumah untuk pulang. Bahkan bayangan akan sebuah rumah saja mungkin tak ada, kecuali jalanan itu sendiri,” ujar dia. Padahal, kata dia, Indonesia termasuk salah satu negara yang telah meratifikasi konvensi hak anak.

Karena itu, dia senang saat mendengar Yogyakarta telah memiliki peraturan daerah yang menyoal anak. Penetapan peraturan daerah itu, menurut pendapat dia, merupakan langkah maju yang bisa ditiru daerah-daerah lain. Apalagi peraturan itu mengatur secara eksplisit tentang perlindungan terhadap hak anak.

Dia dan rekan-rekan yang aktif di Yayasan Setara saat ini sedang menjalankan program upaya pencegahan dan perlindungan terhadap korban eksploitasi seksual terhadap anak. Berbagai kegiatan terus mereka gelar sebagai bentuk sosialisasi isu tersebut. Anak jalanan termasuk pihak yang sering menjadi korban eksploitasi tersebut.

Dan Yoyok sendiri? Ah, kini, dia tak lagi hidup di jalanan. Bersama sang istri, Santi, dia tinggal di kawasan Kedungmundu, Kota Semarang. Namun jalanan tetap menjadi rumahnya. Bersama anak-anak yang masih tinggal di jalanan, dia bergandengan tangan sambil berdendang. Ya, ya, mereka berdendang tentang hidup dan sesekali berbagi mimpi tentang rumah. Rumah untuk mereka bisa pulang, rumah yang menentramkan, rumah yang nyaman, terbebas dari kekerasan. (51)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *