Waria Turun Tangan, Coba Bantu Hidupkan Kota Lama (Radar Semarang, 2008)

RADAR SEMARANG, Senin, 8 Juli 2008

SEMARANG – Denyut nadi di kawasan Kota Lama Semarang coba dihidupkan kembali. Setelah berbagai kegiatan seni dan budaya, kali ini giliran para waria (wanita pria) Kota Semarang menggelar kegiatan di kawasan yang diharapkan menjadi salah satu daerah wisata di Kota Atlas tersebut.

Bekerjasama dengan Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), sejumlah waria dan anak jalanan (anjal) menggelar kegiatan di Marabunta Opera House Jalan Cendrawasih Sabtu (26/7) malam. Sayangnya, kegiatan bertajuk “Opera dan Fashion Show Mode Tempo Doeloe” ini kurang menjaring peminat. Dari sekitar 200 kursi yang tersedia, hanya terisi separuhnya.

Kepala BPK2L Surachman menjelaskan, menghidupkan kembali kawasan Kota Lama memang menjadi salah satu tujuan dari penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Juga Entaskan Anjal

Selain itu, pihaknya juga ingin memberikan wadah kreasi bagi anak-anak jalanan yang biasa hidup menggelandang.

“Anak-anak yang biasanya menggelandang di jalanan, pasar, sekarang ini bisa tampil sebagai manusia yang utuh. Harapan kami anak-anak bisa berubah sifat,” kata Surachman kepada wartawan di sela acara.

Sekitar 50 orang dari berbagai komunitas terlibat dalam pertunjukkan ini. Mulai dari anak-anak jalanan binaan Yayasan Setara, anak-anak panti asuhan, seniman Semarang hingga kaum waria yang selama ini dianggap sebagai kaum marjinal.

Pemilihan gedung Marabunta sebagai tempat acara, seolah ingin mengembalikan kembali roh tempat ini. Dulu, Marabunta merupakan gedung pertunjukkan tonil atau sandiwara di Kota Semarang. Konon, bintang pertunjukkan yang juga mata-mata terkenal di zaman Perang Dunia II Matahari pernah menyelenggarakan show di tempat ini.

Malam itu, sebagian waria yang tampil sebagai model, berlenggak-lenggok dengan baju layaknya mevrouw-mevrouw Belanda di zaman kolonial. Sebagian lagi memamerkan baju kebaya modern. Meski tak ada tata panggung yang layak, lukisan kaca panggung seolah membawa suasana kembali ke masa lampau.

Jika para waria menggelar peragaan busana, sebuah opera tentang sejarah berdirinya Kota Semarang dibawakan oleh anak-anak jalanan. Tak seperti pemain opera atau teater profesional memang, tapi setidaknya kegiatan ini telah menjadi salah satu ajang unjuk diri para anjal.

“Mereka memang tidak terbiasa melakukan teater. Jika bagus berilah aplaus. Tapi kalau kurang bagus jangan ditertawakan,” tutur ketua panitia kegiatan Yasin Handoko. (ton/wah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *