Wilayah Pinggiran Rentan Trafficking (Radar Semarang, 2006)

RADAR SEMARANG , Jumat, 8 September 2006, Halaman 5

UNGARAN – Masyarakat yang bermukim di wilayah pinggiran kota, diminta mewaspadai dan memahami perdagangan manusia (human trafficking). Sebab, korban trafficking biasanya berasal dari wilayah pinggiran yang minim akses informasi dan miskin.

Hal itu diungkapkan anggota Presidium Indonesia Act Hening Budyawati, dalam seminar bertema “Trafficking dalam Perspektif Islam,” di Ponpes Edi Mancoro, Gedangan, baru-baru ini.

“Setidaknya pada 2006, ada 5 kasus trafficking. Itu hanya merupakan puncak gunung es. Kebanyakan pelaku trafficking bertujuan melakukan eksploitasi seksual dan atau tenaga kerja illegal. Ini sangat mengkhawatirkan dan harus segera ditangani bersama-sama,” papar Hening.

Narasumber dari kepolisian Direskrim Polda Jateng Kompes Zulkarnaen memaparkan, trafficking merupakan pemberangkatan manusia dan tenaga kerja secara illegal dengan dokumen yang tidak resmi. “Untuk menanganinya, butuh kerjasama berbagai pihak, mulai Depnaker, Imigrasi, termasuk juga perangkat desa.” Selain itu, tambah Zulkarnaen, perlu upaya preventif. Yakni melakukan sosialisasi ke pedesaan mengenai permasalahan ketenagakerjaan.

Sementara Bupati Bambang Guritno mengungkapkan, pemkab telah melakukan sejumlah langkah sebagai bentuka antisipasi. Antara lain, pemberian pelatihan keterampilan bagi pekerja anak agar dapat bekerja di tempat yang lebih baik dan tidak berbahaya. Lainnya, pelatihan wirausaha dan modal kerja bagi orang tua pekerja anak. “Juga pengawasan melalui perangkat daerah mulai dari tingkat kabupaten hingga level desa atau kelurahan.” (sas).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *