Winarso : Mari Belajar Mencintai Anak Jalanan (Suara Merdeka, 1999)

SUARA MERDEKA, Minggu, 7 Maret 1999, Halaman IV

ANAK jalanan adalah produk patah sebuah zaman. Sebagai korban, praktis mereka tak memiliki bargaining position yang mantap dalam hiruk-pikuk kehidupan masyarakat. Krisis ekonomi yang kemudian kian menghimpit, pada gilirannya memang menghempaskan kaum marginal, termasuk anak-anak jalanan.

Bukan lagi pemandangan yang luar biasa jika traffic light dipadati pengamen, pengemis, tukang lap kaca mobil, dan pedagang koran. Kue pembangunan yang sebenarnya makin besar, ternyata tak juga menjanjikan nasib mereka menjadi lebih baik.

Tentu saja “orang-orang kalah” ini tak bisa tenang dan sabar sebagaimana para resi yang rela bertapa untuk surga yang jauh. Bagi mereka, setiap waktu senantiasa bisa hadir ancaman yang akan menyingkirkan dan menggusur mereka dari komunitas umum.

Toh upaya pengusiran terhadap “orang-orang tanpa tempat tinggal” itu, dengan berbagai dalih dan alasan, tetap saja dilakukan. Konon, inilah manifestasi ketidakberdayaan dan rasa putus asa Pemerintah untuk mengentaskan mereka dari dunia jalanan.

Pola kekerasan tampaknya memang bukan metode yang tepat untuk mengentaskan mereka. Terbukti, dengan cara itu, setiap usaha selalu gagal dan anak-anak jalanan tetap saja bertumbuhan memadati pusat-pusat kota.

Lantas pendekatan model apa yang mungkin efektif untuk menangani mereka? Berikut ini perbincangan wartawan Suara Merdeka Ganug Nugroho Adi dengan Winarso (29), seorang pekerja sosial yang memiliki perhatian tinggi terhadap anak-anak jalanan.

Sejak 1993 anda aktif menangani anak-anak jalanan, bahkan kemudian mendirikan PAJS sebagai wadah bagi mereka. Punya alasan khusus?

Sebelumnya perlu ada kesamaan persepsi. Anak-anak jalanan disini adalah mereka yang dibawah 18 tahun, tak punya tempat tinggal tetap dan mencari penghasilan dari jalan. Umumnya mereka menjadi pengamen, pengemis, tukang koran, dan pekerjaan lain semacam itu. Mengenai batasan umur, ini sesuai dengan Konvensi Jenewa dan Indonesia sudah meratifikisinya tahun 1990. Jadi yang berusia diatas 18 tahun tidak bisa disebut sebagai anak-anak jalanan.

Penanganan terhadap mereka tidak akan berhasil jika tanpa melibatkan mereka. Nah, artinya harus ada cinta. Itu alasan saya. Kemudian keinginan untuk membantu itu makin ada kerena melihat perlakuan tidak adil terhadap mereka.

Misalnya?

Banyak contoh. Mereka diusir dari lampu  bangjo, stasiun ataupun halte dengan pentungan dan tendangan. Terus terang, selama ini kekerasan begitu dekat dengan mereka. Hidup anak-anak jalanan yang sudah keras menjadi makin sulit dengan cara-cara penanganan seperti itu. Saya tak habis pikir, bagaimana orang-orang yang notabene lebih mapan dari mereka justru bersikap tidak simpatik.

Menurut anda, pola penanganan yang tepat bagi mereka seperti apa?

Hubungan perkawanan. Artinya, dengan pola seperti itu kita harus memanusiakan mereka. Anggap mereka sebagai bagian dari kita, masyarakat, bangsa, dan bukan musuh atau kelompok orang yang meresahkan. Tapi jika kita menghadapi mereka dengan kecurigaan, ya masalah ini tidak akan pernah selesai.

Harus diakui, selama ini banyak  dari kita yang sinis dan curiga terhadap anak-anak jalanan. Kita selalu merasa khawatir dompet di celana akan hilang jika dekat dengan mereka, arloji atau kalung yang kita pakai akan hilang jika bergaul dengan mereka.

Kenapa harus khawatir dan takut? Anak-anak itu kan sebenarnya sangat membutuhkan dukungan psikologis dari kelompok di luar mereka. Tapi kita seperti tidak mau tahu. Sikap-sikap yang kita berikan justru malah makin membenamkan mereka dalam ketidakberdayaan. Bagi saya, untuk mengentaskan mereka, stigma sinisme itu harus dihapus dulu.

Bagaimana dengan “penggarukan” yang sering dilakukan kepolisian atau Dinas Sosial?

Itulah yang sangat disayangkan. Tindakan itu harus dihentikan, apalagi jika dilakukan dengan pola represif. Sebab, langkah itu tak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, penanganan seperti itu justru akan menambah pengalaman kekerasan mereka. Kita semua tahu, hampir sepanjang hidup mereka diwarnai kekerasan dan masa sulit. Kalau kemudian ditambahi hal-hal seperti itu, sisa hidup hanya berisi kekerasan dan kekacauan. Itu akan makin merusak mental mereka. Jangan salahkan jika kemudian mereka bertindak kriminal karena hanya cara-cara kekerasan yang mereka kenal. Sering saya mempertanyakan konsep penggarukan itu. Tapi aneh, mereka tetap saja diperlakukan seperti itu.

Jadi pola seperti itu tidak efektif?

Tidak efektif dan mubadzir. Seusai penggarukan, paling lama seminggu lampu bangjo akan sepi. Tapi apakah ada jaminan setelah itu anak-anak jalanan terentaskan, bisa pulang dan menjalani kehidupan sebagaimana umumnya masyarakat biasa? Saya katakan, tidak!

Mereka tidak bisa ditangani dengan ceramah dan penyuluhan, misalnya?

Jangan ceramahi mereka karena yang lebih tahu kehidupan mereka adalah anak-anak itu sendiri. Segudang nasihat dan saran akan sia-sia. Penyuluhan tidak akan mengenyangkan perut mereka.

Baiklah, kembali ke PAJS. Barangkali ada program konsep penanganan yang sudah diberikan?

Sejak paguyuban itu berdiri (1996), kami intens melakukan pola-pola pendampingan terhadap anak jalanan. Dengan pola ini, kami berusaha mencoba impowering (memberdayakan) mereka, seperti menumbuhkan partisipasi dan daya kreasi. Pada dasarnya kita ingin membuka ruang publik bagi mereka. Sebab, sasaran penanganan PAJS adalah mendorong anak-anak jalanan pulang, berkumpul dengan keluarga. Karena akan sangat mengerikan jika manusia sampai tidak mengenal sejarahnya.

Jadi, ada sisi-sisi dari anak jalanan yang ingin diperjuangkan PAJS, termasuk hak-hak sipil dan sosial mereka , seperti berinteraksi dan dan bisa diterima masyarakat di sekitarnya. Untuk mencapai semua itu, kita akan menumbuhkan rasa percaya diri dan mental anak-anak.

Bisa dijelaskan soal konsep pendampingan itu?

Pendampingan disini adalah memberikan perhatian kepada anak-anak secara pribadi. Kita beranggapan anak-anak jalanan adalah sekelompok anak yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan hak hidup, tumbuh kembang sebagai pribadi, mendapat perlindungan dan kesulitan berpartisipasi.

Kenapa? Karena anak jalanan selalu diasumsikan sebagai anak liar, kriminal, dan pelabelan lain yang justru memojokkan. Ini akan sangat menghambat perkembangan jiwa mereka. Nah, pendampingan disini berupaya memperjuangkan martabat anak dan upaya pembelajaran. Karena untuk mewujudkan itu kita perlu wadah, lahirlah PAJS. Dalam lembaga itu, kita mendampingi hampir semua aktivitas anak.

Mereka bisa menerima?

Sikap pendampingan mengacu pada hubungan yang harmonis. Inilah yang tadi saya maksud dengan memanusiakan manusia. Bukan menganggap anak sebagai objek, melainkan subjek. Lebih pada hubungan antara kakak-adik, sahabat, partner, dan bukan pada hubungan antara yang berkuasa dan yang tidak berkuasa. Jangan sampai voluntir yang mendampingi itu mengambil jarak, baik dari status sosial, agama, maupun intelektual.

Pada umumnya anak-anak bisa menerima pola-pola seperti itu. Bahkan tidak jarang mereka minta pendapat tentang sikap hidup, seperti bagaimana cara mengamen yang baik, apa yang harus dilakukan agar tidak dimusuhi masyarakat.

Seperti upaya pengembalian nilai-nilai yang sempat hilang?

Memang seperti itu. Tapi yang lebih penting lagi adalah penanaman nilai-nilai baru. Sebab, selama ini mereka dari kehidupan normatif orang kebanyakan. Seperti mandi di air mancur Tugu Muda, pacaran (bahkan berciuman) ditempat terbuka, dan seterusnya.

Tapi apakah mungkin mereka bisa direinterasikan dalam masyarakat?

Oh, itu sangat mungkin sekali. Mereka memiliki banyak potensi. Kebebasan dan kreativitas yang mereka miliki adalah sebuah peluang. Masalahnya sekarang adalah tersedianya ruang untuk berinteraksi dengan “dunia luar”.

Dengan kata lain, mau nggak masyarakat menerima mereka? Ini justru yang terpenting. Sebab, sinisme dari masyarakat terhadap mereka masih teramat kental. Banyak sebenarnya elemen masyarakat yang bisa mengentaskan mereka, mengembalikan anak-anak itu pulang ke rumah orang tua mereka. Tapi karena berangkat dengan rasa curiga, orang-orang itu pun membatasi diri. Mereka hanya memiliki sinisme, tapi tidak pernah mau belajar mencintai mereka.

Tampaknya PAJS memandang bahwa memulangkan mereka merupakan sesuatu yang penting?

Ya. Pertama, dengan pilihan tinggal  dan hidup dijalan pada akhirnya akan membentuk cara pandang anak yang khas jalanan. Artinya, konsep ruang, tempat, dan waktu yang keras akan membentukgaya hidup dan karakter mereka. Usia mereka masih muda. Nah, jika mereka dibiarkan terus-menerusmengalami kekerasan dan keliran dijalan, hidup benar-benar membentuknya menjadi manusia yang keras pula. Mungkin kasar, mungkin pula kriminal.

Tapi kita kan tidak bisa langsung menyuruh pulang hanya dengan bekal nasihat dan saran bahwa hidup di jalanan itu tidak sehat. Tidak bisa instan begitu. Tapi harus kita tumbuhkan dulu rasa percaya diri, mental, kemandirian, dan kesadaran hidup bermasyarakat. Itu semua butuh proses. Kalau pemda, polisi, dan Dinas Sosial itu kan maunya serba praktis. Pokoknya Traffic light harus bersih dari pengamen jalanan karena presiden atau mentri akan datang. Nggak bisa seperti itu dong!

Kembali ke soal program reintegrasi sosial tadi.

Program ini berharap anak-anak jalanan bisa melakukan interaksi dengan masyarakat disekitarnya. Selanjutnya diharapkan juga akan terjalin kerja sama dan saling mendukung, menghargai untuk hidup berdampingan. Ini inti dari konsep parsitipatif.

Omong-omong, apakah anak-anak itu bisa dientaskan secara total dari jalanan?

Tidak. Saya pesimistis.

Kalau begitu kenapa Anda tetap antusias?

Anak lahir, tumbuh, dan berkembang setiap hari. Satu generasi mungkin akan tenggelam, tapi satu generasi lain akan muncul. Ini alamiah dan akan berlangsung terus-menerus. Terus terang, program pendampingan dari PAJS hanya menekan agar anak-anak yang turun ke jalan tidak makin banyak. Hanya menekan. Kalau mengentaskan atau memulangkan mereka secara total, jelas tidak mungkin. Organisasi kami bukan organisasi yang hebat. Tidak memiliki dana tetap. Danan yang ada hanya kami peroleh dari parsitipasi mereka yang bersimpati. PAJS tidak punya usaha. Karena itu, saya sempat kaget ketika beberapa tahun lalu ditangkap polisi karena dituduh sebagai “bos gepeng”. Katanya, saya mempekerjakan anak-anak dan meminta uang mereka. Lucu.

Kabarnya Anda akan mendeklarasikan Yayasan Setara. Bisa dijelaskan?

 Yayasan itu nanti bergerak  pada soal hak dan perlindungan anak. Ada Prof Dewanto, Pak Dar (Darmanto Jatman), Bu Frieda (Frieda NRH), dan lain-lain. Kami perlu dukungan dari berbagai pihak. Sebab, pada dasarnya masalah anak jalanan adalah masalah kita semua. Mari belajar mencintai mereka.(Ganug Nugroho Adi-25c)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *