Yuli “BDN” Sulistyanto: Bergaul dengan Preman, Ikut Tidur di Emperan (Radar Semarang, 2009)

RADAR SEMARANG 8 FEBRUARI 2009

RADAR SEMARANG, Minggu, 8 Februari 2009, Halaman 2

Yuli Sulistiyanto, 33, aktifis Yayasan Setara pernah meneliti pelacuran anak-anak di Kota Semarang bersama peneliti  lainnya. Seperti apa?

*****

MENEMBUS jaringan prostitusi atau pelacuran, utamanya prostitusi anak tentu tidak mudah. Sebab anak-anak tersebut biasanya merupakan korban dari seseorang atau kelompok yang ingin memanfaatkan demi keuntungan materi. Tentu para germo tak akan senang jika bisnisnya terganggu.

“Mereka (korban pelacuran anak, red) pasti ada germonya. Anak-anak tersebut biasanya dikendalikan dan diawasi oleh seseorang pelaku eksploitasi yang bernegosiasi langsung dengan anak,” tutur Yuli.

Agar penelitiannya mendapatkan hasil yang valid. Yuli harus bisa masuk dalam lingkungan mereka dan mewawancarai langsung para korban. Tentu ia harus pintar-pintar mengatur strategi agar bisa bertemu dengan responden yang diinginkan. Sebab jaringan ini sangat tertutup. Di lokalisasi resmi pun anak-anak yang dilacurkan sudah dipalsukan identitasnya, termasuk umur.

Penanggungjawab lokalisasi biasanya akan menutup-tutupi jika ditempatnya ada anak-anak yang dipekerjakan sebagai pelacur. “Kita harus atur siasat. Sebab kalau belum kenal, susah masuknya. Harus masuk dengan orang yang sudah dikenal di lingkungan tersebut sebagai jembatan,” tuturnya.

Oleh karena itu, Yuli tak segan-segan berkawan dengan preman-preman yang berada di sekitar lingkungan bisnis prostitusi tersebut.

Masalah yang juga muncul, seringkali ditemui responden anak-anak korban pelacuran berorientasi uang. Artinya, ketika akan diwawancarai mereka minta bayaran. “Mereka biasanya tanya, diwawancarai ono duite ora (ada bayarannya tidak?). Tapi dengan pendekatan dan menerangkan tujuan penelitian tersebut untuk memetakan masalah prostitusi, biasanya mereka akhirnya mengerti. Apalagi saya bersama orang yang telah mereka kenal,” tutur pria kelahiran Temanggung, 1 Juli 1976 ini.

Selain itu, untuk menelusuri asal-usul korban pelacuran anak juga tidak mudah. Mereka biasanya berasal dari luar kota dan identitasnya telah dipalsukan. Tak ada lagi nama asli dan umur sebenarnya. Semua sudah diubah. Pun alamat asal.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, faktor yang memengaruhi korban beragam.

Seperti perasaan kecewa setelah berhubungan badan dengan pacar, pernikahan dini, berasal dari keluarga tidak harmonis hingga faktor ekonomi. Bahkan ada pula yang merupakan korban penipuan atau penculikan.

Beruntung sebelum terjun meneliti pelacuran anak, Yuli sudah lama berkecimpung di dunia anak jalanan. Karenanya, ia sudah punya modal banyak kenalan, termasuk para preman. Namun perjalanan hidupnya hingga bisa dikenal oleh kaum-kaum marjinal tersebut juga tidak pendek.

Yuli menjelaskan, ia memilih jalan hidup sebagai aktivis sekitar 1996 setelah memilih keluar dari pekerjaannya di Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) beberapa bulan sebelum bank ini dilikuidasi. Yuli memutuskan menjadi relawan Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS).

“Agar bisa mengetahui kehidupan anak jalanan, maka saya harus ikut dalam kehidupan mereka,” jelasnya. Salah satu cara untuk mendekati mereka, Yuli pun ikut ‘menggelandang’. Bersama anak-anak jalanan tersebut, ia mulai jarang tidur dirumah. “Saya tidur dengan mereka. Bisa tidur diterminal, stasiun, rumah kosong, emperan toko atau di Tugu Muda. Alasnya juga sembarangan seperti koran atau kardus,”  jelasnya.

Ketika ia sudah semakin intens bergelut di dunia pendampingan anak jalanan, aksi teror mulai mewarnai hidupnya. Seringkali ia menjadi buruan aparat keamanan maupun intel. Seperti ketika ia mengamen dengan menyanyikan lagu yang sarat kritik sosial, ternyata salah satu penumpang tersebut adalah aparat. Tak senang dengan lagu yang dinyanyikan Yuli, oknum tersebut menyeretnya turun dan sejumlah pukulan serta tendangan mendarat ditubuh Yuli.

“Tapi yang paling tidak saya lupakan adalah saat rumah belajar untuk anak jalanan di Lemah Gempal diobrak-abrik preman,” tuturnya (pratono/isk).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *