SUARA MERDEKA, 6 Mei 1997, Halaman II

SEMARANG—AIDS, irama kematian terdengar sudah di penjuru bukit/ terompet sangkala gempita di mana-mana/ malaikat ucap bela sungkawa di virusmu/AIDS.

Hampir semua yang hadir, sebagian besar anak-anak jalanan yang tergabung dalam Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS), menyimak bait demi bait puisi yang dibacakan Dayat (12), anak jalanan.

Mengenakan kaos kuning-putih bertuliskan “Awas! AIDS, Sesal Kemudian Tak Berguna,” mereka terus menyimak, juga ketika penyair Darmanto Jatman membacakan sajak Dorothy Law Nolte: Bila anak dibesarkan dengan celaan/ia akan belajarmemaki/ bila anak dibesarkan dengan permusuhan/ ia akan belajar berkelahi…namun/ bila anak dibesarkan dalam sebaik-baik perlakuan/ kasih sayang dan persahabatan/ ia akan belajar keadilan serta menemukan cinta dalam kehidupan.

Agaknya, sajak itu ditujukan bagi sekitar 150 anak jalanan yang Minggu lalu, mulai pukul 19.00, berkumpul dalam “Malam Renungan AIDS Nusantara 1997,”, di Hotel Patra Jasa.

Sementara penelitian Yayasan Duta Awam menunjukkan sekitar 32% anak jalanan (dari 101 responden-Red) mengaku pernah esek-esek (melakukan hubungan seks-Red).

Bahkan, ketika Drs Darmanto Jatman SU (Undip) dan Dr dr Wimpie Pangkahila (Seksolog dari Udayana, Bali), meminta mereka yang pernah melakukan hubungan seks mengacungkan tangan, hasilnya separoh lebih dari anak-anak itu mengacungkan tangan. Padahal, rata-rata usia mereka belum genap 15 tahun.

Karena itu, agaknya cukup beralasan jika Yayasan Duta Awam bekerjasama dengan Hotel Patra Jasa melibatkan PAJS dalam kegiatan yang juga digelar di 300 kota pada 50 negara di dunia.

Wali Kota H Soetrisno Suharto yang malam itu hadir dan menunjukkan sikap kasih sayangnya kepada anak-anak jalanan menilai, perlunya memperhatikan mereka. “Lihatlah mereka (anak-anak jalanan-Red) sebagai manusia. Jangan berpikir mereka itu sekolah atau tidak, punya duit atau tidak. Sebab di mata Tuhan tidak ada bedanya antara wali kota dan anak-anak jalanan. Saya akan menghargai orang-orang yang memberi perhatian kepada mereka ….”

Dan dialog kecil antara Wali Kota dan anak-anak jaanan makin gayeng. “Coba, kenapa saya berada disini? Yang jawabannya benar, akan saya beri uang Rp 50 ribu,” tantang Pak Wali. Mendengar pertanyaan itu, maka beraneka jawaban pun terlontar dari mulut anak-anak.

“Karena Pak Wali sayang kepada anak-anak jalanan.”

“Pak Wali cinta kami, sehingga ingin bertemu dengan kami,” jawab anak lain. Tak pelak, Ny Soetrisno Suharto “kebobolan”. Dia diminta sebagai “juru bayar”, sehingga harus mengeluarkan uang antara Rp 40 ribu – Rp 50 ribu terhadap setiap jawaban. Adegan itu disaksikan General Manager Patra Jasa Wahono, juga wakil Wali Kota Drs R Herdjono.

Di Balai Kota

Pada malam yang sama, kegiatan serupa juga digelar di pendapa Balai Kota Semarang. Rangkaian pembacaan puisi, penyampaian pendapat umum dari para peserta yang sebagian besar pemuda, dan suguhan seni gerak Taman Teater dari Semarang mewarnai malam renungan.

Kegiatan di Balai Kota ini digelar oleh Yayasan Rama-Shinta dan Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS) bekerja sama dengan PMI Kodya Semarang, Satuan Peduli AIDS FK Undip, Pemda Kodya Semarang dan Ford Foundation.

Acara makin menarik dengan tampilnya calon legislatif (caleg) dari PPP, H Saefudin Bonglin, yang juga redaksi Suara Merdeka (nonaktif). Dia membacakan puisi yang cukup menggelitik. Awas! AIDS datang, tutup pintu, tutup jendela, tutup lubang/ semua lubang/ tutup celana dalam, tutup mata, tutup telinga, tutup mulut.

Selain itu, Taman Teater menampilkan seni gerak yang menekankan pentingnya kepedulian sesama manusia terhadap para penderita AIDS, agar mereka tidak merasa terkucil. Setelah menampilkan seni gerak, para pendukung Taman Teater membacakan renungan diiringi dengan penyalaan lilin bersama oleh sekitar 200 hadirin.

Acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin pakar seksologi sekaligus Ketua Yayasan Rama-Shinta dr Taufiq F Adisusilo (D4, D18-14t).