Semarang (Espos), Kamis Pahing, 5 Agustus 1999

Lebih dari 46% anak jalanan perempuan yang ada di Semarang dilacurkan. Demikian hasil survei Yayasan Setara Semarang.

Survei dengan melibatkan responden 100 anak jalanan perempuan, menunjukkan 46 orang anak jalanan perempuan atau 46% diketahui sebagai anak yang dilacurkan oleh pihak ketiga. Angka tersebut dibeberkan oleh Yayasan Setara Semarang, Rabu (4/8).

“Berdasarkan hasil penelitian Yayasan Setara yang dilakukan awal tahun 1999 terhadap 100 anak jalanan perempuan di Semarang, mereka (46 anak) diindikasikan kuat sebagai anak yang dilacurkan,” tegas Ketua Yayasan Setara, Winarso.

Istilah anak yang dilacurkan, lanjut dia mengacu dokumen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – adalah tindakan menawarkan pelayanan seksual atau dia sendiri melakukan tindakan seksual dengan seseorang atau siapa pun demi uang atau bentuk imbalan lain.

Dijelaskan, jumlah tersebut merupakan bagian dari 74,2 % anak jalanan perempuan yang diketahui pernah berhubungan seksual dengan cara berganti-ganti pasangan dan sering mendapat atau meminta imbalan baik berupa uang, makanan, minuman, obat-obatan dan sebagainya.

Bahkan, tukas Winarso, beberapa anak mengaku sering mendapat tawaran kerja sebagai pelacur di Jakarta dan Batam. “Berapa di antara mereka yang pernah mendapat tawaran menjadi pelacur, jumlahnya yang pasti sulit diketahui,” tandasnya seraya menambahkan pada umumnya responden tidak terbuka ketika ditanya mengenai tawaran menjadi pelacur.

Temuan lain dari penelitian Yayasan Setara, umur anak jalanan perempuan ketika kali pertama melakukan hubungan seksual dengan lawan jenisnya kebanyakan adalah antara 13 hingga 16 tahun.

Meski begitu ditemukan pula ada anak yang pernah berhubungan seksual pada usia di bawah 10 tahun. “Sebagian besar mengaku berhubungan seksual kali pertama dengan pacar mereka atas dasar suka sama suka,” paparnya.

Sedang selebihnya dilakukan dengan teman, tetangga serta orang tak dikenal karena diperdaya atau diperkosa. “Anak jalanan perempuan yang menjadi korban perkosaan jumlahnya mencapai 30%,” tandasnya.

Keberadaan mereka, menurut Winarso, dengan mudah bisa dijumpai di beberapa tempat di Semarang, antara lain di wilayah Simpang Lima, Pasar Johar, Pasar Karangayu, Tugu Muda, Terminal Terboyo, Stasiun KA Poncol. “Jumlah anak jalanan perempuan di Semarang tiap tahun selalu mengalami peningkatan cukup banyak.”

Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut, kata dia, mereka perlu mendapat perhatian secara serius dari berbagai pihak, terlebih dengan adanya Konvensi Hak-hak Anak yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia yang dituangkan dalam Kepres No. 36/1990.”Anak dipandang sebagai manusia yang memiliki hak-hak sebagai manusia sehingga perlu mendapat perlakuan sama.”

Berkaitan dengan itu, Yayasan Setara bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak Jateng dan Unicef, hari ini mengadakan seminar Mengungkap Situasi Anak Jalan Perempuan dan Anak yang Dilacurkan. (st5)

Sumber: Solo Pos