60 % Anak Jalanan Dari Semarang (Suara Merdeka, 1998)

SUARA MERDEKA, 29 Juli 1998, Halaman 2

SEMARANG – Lima tahun lalu sebagian besar anak jalanan di Semarang kaum pendatang. Berdasarkan penelitian Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) saat itu, jumlahnya 52,6%. Selebihnya atau 47,4% dari kota Semarang.

Setahun kemudian, berimbang 50,6%. Namun, perkembangan selanjutnya anak jalanan dari Ibu Kota Provinsi Jateng malah melebihi pendatang.

PAJS mencatat pertengahan tahun lalu ada peningkatan menjadi 66,2% dan Duta Awam menyebutkan 52%. Sedangkan menurut penelitian Pusat Studi Wanita (PSW) Undip awal tahun ini, tercatat 58% anak jalanan berasal dari kota ini.

“Ini membuktikan Semarang kini telah “memproduksi” anak jalanan. Kenyataan ini cukup memprihatinkan dan bisa membuat jumlah anak jalanan meningkat pesat dari waktu ke waktu,” kata Ketua Badan Plh Direktur Social Analysis Research Institute (SARI) Surakarta, Purwoko, kemarin.

Dia mengungkapkan hal itu dalam sarasehan “Anak, Hak Anak dan Upaya Implementasinya”. Acara yang diselenggarakan Forum Penegak dan Pembela Hak-hak Anak Semarang itu menghadirkan budayawan Drs Darmanto Jatman SU, ahli tata kota Unika Soegijapranata Ir Pudjo Koeswhoro Jl, dan Koordinator Serikat Anak Merdeka Indonesia (Samin) Odi Shalahuddin.

Purwoko mengatakan, dulu penanggulangan terhadap anak jalanan bisa dengan memulangkan ke daerah asal, kini tidak lagi. Sebab, mereka adalah penduduk kota ini.

Apalagi perempuan anak jalanan pun merebak. Sebelumnya yang perempuan 10-15% saja, kini 200 dari 700  anak jalanan Semarang. “Padahal, itu data dari PAJS pada 1997. Selama krisis ekonomi dan banyak yang di-PHK, jumlah itu bisa meningkat lebih dari 100%.”

Eksploitasi Seks

Ia mengatakan, makin banyak anak perempuan yang hidup di jalanan, berarti eksploitasi seksual terhadap mereka akan meningkat. “Mereka yang tinggal di jalanan berisiko sangat berat, bisa menjadi korban pelecehan seks, pemerkosaan, dan pelacuran.”

Sementara itu, pendamping anak jalanan, Odi Shalahuddin menyayangkan adanya pihak yang menjadikan anak jalanan sebagai kambing hitam. “Sejak foto kelonan di gerobak sapi Tugu Muda dimuat di koran, banyak yang keberatan terhadap patung itu.”

Darmanto mengatakan, negara yang didirikan dengan tugas antara lain menyejahterakan anak-anak yatim piatu dan telantar, ternyata sering mbalela, mengalpakan tugasnya dan menyerahkannya kepada swasta dan masyarakat.

“Pemerintah yang kita dukung untuk melaksanakan tugas-tugas negara itu justru sering memanipulasi anak-anak dan menjadikan mereka atau jadi tenaga kerja murah atau cara untuk memperoleh dana bantuan dari berbagai lembaga dunia.” (D2,B13-13b).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *