70% Pelacur anak-anak di Indonesia dari Jateng (Solo Pos, 1999)

SOLOPOS, Jum’at Pon, 6 Agustus 1999  

Semarang (Espos)

Sekitar 60% hingga 70% pelacur anak-anak di Indonesia berasal dari 3 kota di Jateng, yakni Wonogiri, Pati dan Rembang. Demikian diungkapkan Koordinator Eksekutif Yayasan Samin Yogyakarta, Mohammad Farid, dalam seminar Mengungkap Situasi Anak Jalan Perempuan dan Anak yang Dilacurkan, di Hotel Santika, Semarang, Kamis (5/8).

Dikatakannya, selain dari tiga kota tersebut, angka 60% hingga 70% tersebut termasuk pelacur anak-anak dari Indramayu (Jawa Barat) dan Banyuwangi (Jawa Timur). “Jadi total sebagian besar pelacur anak-anak di Indonesia berasal dari lima kota tersebut, tandasnya seraya mengatakan para perempuan itu mulai terjun ke dunia pelacuran sebelum berumur 18 tahun.

Pembicara lain dalam seminar yang diselenggarakan Yayasan Setara Semarang bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak Jateng serta Unicef itu adalah Hening Budiyawati (Yayasan Setara Semarang), Esmi Warrasih (dosen Undip) dan Prof Dra Niswatin Rakub (Ketua LPA Jateng).

Lebih lanjut Farid menjelaskan penyebab banyaknya jumlah pelacur berasal dari lima daerah itu dikarenakan tingkat perkawinan usia dini (di bawah 18 tahun- red) di daerah tersebut sangat tinggi. Tingkat pernikahan di usia dini konsekuensinya memiliki resiko perceraian yang sangat tinggi pula.

“Menjadi janda muda adalah faktor terbesar mengapa mereka memilih menjadi pelacur,” kata dia tanpa memberi angka pasti. Juga tidak disebutkan faktor lain selain janda muda.

Pada janda muda yang secara riil masih anak-anak tersebut, walaupun secara hukum formal dan agama mereka sudah tidak bisa dikatakan sebagai anak-anak lagi, kehilangan legitimasi (alasan yang sah) untuk kembali hidup bersama orangtua mereka. Sedang mereka rata-rata tidak memiliki kemampuan serta sumber daya yang memadai untuk hidup secara mandiri.

Risiko HIV

“Dalam keadaan seperti itu, satu-satunya peluang yang terbuka lebar untuk tetap bertahan hidup adalah terlibat dalam dunia prostitusi sebagai pelacur,”papar pekerja sosial itu.

Pada bagian lain Farid menyatakan merebaknya pelacuran anak-anak juga dipacu meningkatnya permintaan terhadap pelacur usia muda oleh lelaki hidung belang yang menganggap lebih aman dari risiko terkena virus HIV (Human Immuno-deficiency Virus), penyebab AIDS.

Meningkatnya permintaan konsumen itu, ujar dia, membuat jaringan kriminal prostitusi pemasok pelacuran anak beroperasi hingga ke pelosok desa-desa.

“Kalau dibiarkan, sindikat internasional dalam memenuhi permintaan pelacur anak-anak, bisa bergeser ke Indonesia, karena mengetahui lemahnya sistem hukum di sini, “ ucapnya dengan nada cemas.

Sementara Hening Budiyawati dari Yayasan Setara menyatakan berdasarkan survei yang dilakukan awal 1999 terhadap anak jalanan perempuan di Semarang menemukan adanya anak jalanan perempuan yang dilacurkan sebesar 46,4%.

Kehadiran anak jalanan perempuan di dunia pelacuran, tukasnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu anak yang memang sepenuhnya berada di dunia pelacuran dan anak yang masih melakukan kegiatan lain tapi kadang-kadang menawarkan jasa seksual kepada orang lain. “Kawasan Simpang Lima Semarang merupakan lokasi yang dijadikan sebagai tempat mangkal sebagian besar anak jalanan perempuan,” jelasnya.

“Kewajiban untuk melindungi hak-hak perempuan jalanan agar tidak terjerumus dalam lembah pelacuran itu merupakan tanggungjawab kita semua yang telah diberi kenikmatan lebih oleh negara,” kata dia.

Seminar ini, kata dia, dapat merupakan titik awal untuk menggugah masyarakat menaruh kepedulian dan mengambil langkah-langkah dalam penanganan masalah anak jalanan perempuan. (st5).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *